Sepak Bola Kompetisi Otot Tapi Sportif, Pilkada Kompetisi Ideologi Tidak Sportif

Oleh : Drs. Osberth Sinaga, M.Si. Para motivator ulung selalu mengatakan bahwa ini bukan lagi jamannya mengandalkan otot, tetapi pemikiran atau orang biasanya menyebut dengan otak (mindset). Era globalisasi butuh pemikiran dan visi yang jelas. Maka pembaharuan pola pikir selalu ajakan universal para motivator ulung. Tetapi ada satu hal yang tertinggal, ketika sepak bola mempertontonkan adu fisik, memang dibingkai dengan berbagai taktik yang butuh pemikiran ternyata sepak bola memberikan nilai sportivitas yang sangat tinggi. Sangat beda dengan pemilihan kepala daerah yang secara konsep mempertontonkan pemikiran, ideologi, cita-cita yang semuanya lahir dari polesan pemikiran yang brilian justru tidak bisa sportif.
Hampir semua Pilkada di negara kita bermasalah. Kompetisi politik yang dihelat untuk kepentingan rakyat atas dasar cita-cita dan ideologi justru berubah menjadi arena konflik. Konflik yang merugikan kepentingan rakyat sekaligus kepentingan bersama. Semua elite politik yang bertanding tidak bisa menunjukkan sportivitas seperti dalam sepak bola yang mengandalkan kekuatan fisik. Sepak bola punya nilai artistik sekalipun mengandalkan fisik semata. Itulah sepak bola, dimana semua dunia melihat final Euro 2012 yang menghantar Spanyol melalui kompetisi adu fisik yang sangat sportif.

Yang menjadi pertanyaan bagi saya secara pribadi adalah, apa kaitan antara Piala Euro 2012 dengan pemilihan langsung kepala daerah yang markak dilaksanakan di berbagai daerah di negeri ini dimana hasilnya tidak selalu linier dengan kepentingan rakyat? Kaitannya pasti ada. Sama- sama bertanding dan bersaing untuk bisa keluar sebagai pemenang.

Pilkada adalah proses pertarungan dan kompetisi politik (political competition) untuk bisa menjadi pemenang dan duduk menjadi kepala daerah. Sepak bola bertujuan untuk merebut tropy juara, apakah pila Euro, Asia, Piala Dunia atau piala lainnya agar bisa menjadi (the winner). Menjadi juara dalam olah raga Sepak bola memang melahirkan kebanggan bagi sebuah Negara bangsa (nation state) di abad 21 ini.

Hanya saja metode dan cara merebut kemenangan antara sepak bola dan Pilkada kita sangat jauh berbeda. Dan sulit untuk membandingkannya dengan angka dan kata. Khususnya dalam pendukungan asas fair play dan penerimaan kekalahan. Kalau di piala Euro 2012 asas fair play sangat dijunjung tinggi. Sementara potret pilkada kita dapat kita gambarkan dalam beberapa point dibawah ini.

Pertama, di Piala Euro 2012 sportivitas sangat dijunjung tinggi. Kemenangan bukan akhir dari segalanya. Ada asas fair play yang harus didahulukan untuk meraih kemenangan. Aturan yang sangat ketat dan tegas dan tanpa kenal kompromi bagi yang salah adalah ukuran utama piala dunia. Siapa yang melanggar aturan akan dihukum dengan tegas. Dan bagi yang kalah akan mengakuti kekalahan dengan iklas tanpa ada uneg- uneg.

Yang menang pun sangat menghormati pemenang. Coba kita lihat final liga Champion 2012 yang mempertemukan antara Bayern Muenchen dan Chelsea FC. Roberto Do Matteo coach Chelsea sangat menghargai Muenchen yang kalah di final. Sementara pelatih Muencehn memberikan ucapan selamat kepada pelatih Chelsea. Sekalipun dalam pertandingan saling gontok-gontokan dan menyerang dengan mati-matian. Kedua belah pihak terlihat sangat sportif dalam menerima kekalahan dan kemenangan sesuatu yang biasa.

Sementara Pilkada kita yang mempertemukan beberapa kandidat sebelum final dimulai sudah lebih dahulu menandatangani deklarasi siap kalah dan menang. Tetapi dalam praktiknya setelah kalah akan menggugat yang menang ke Mahkamah Konstitusi dengan alasan ada kecurangan. Mulai dari panitia KPU, PPK tidak adil sampai pada tuduhan money politics. Padahal dia sendiri juga melakukan money politic.

Ketidaksiapan Untuk Kalah

Disini ketidaksiapan untuk kalah beda dengan piala Euro 2012 yang siap untuk kalah bagi negara yang sedang mengalami kelahan. Asas fair play tidak berlaku dalam kompetisi politik pilkada kita. Akibatnya yang terjadi adalah kerusuhan social antara pendukung masing- masing calon. Pendidikan politik (political educaton) tidak jalan. Hasrat untuk selalu menjadi pemenang menjadi kendala dalam berdemokrasi di negara ini.

Kedua, semua peserta atau kontestan piala Euro 2012 sebelum berlaga punya persiapan yang sangat matang. Semua direncanakan dengan pendekatan kualitas dan kerja keras. Mulai dari jadwal latihan, target yang ingin dicapai, sampai manajemen waktu. Tidak seperti pilkada kita, seorang kontestan yang tidak disangka- sangka tiba- tiba sudah muncul sebagai kandidat calon kepala daerah.

Hanya dengan mengandalkan uang dan materi yang dimilikinya sudah cukup untuk menjadi calon kepala daerah. Padahal modal untuk menjadi kepala daerah seperti ilmu pengethuan, integritas, dan kemampuan managerial tidak dimiliki. Akibatnya Pilkada tak ubahnya sebagai obralan politik bagi yang punya modal besar dan mampu membeli suara rakyat. Akibat seperti ini praktik korupsi terus terjadi karena cost politik yangs sangat tinggi. Si calon atau pemenang pilkada akan melakukan revans kepada APBD untuk bisa balik modal (BEP).

Ketiga, lawan bertanding di piala Euro 2012 dianggap sebagai mitra kerja. Sehingga yang kalah akan siap dengan kekalahannya dan yang menang tidak menganggap remah pada yang kalah. Beda dengan pilkada kita yang mengangap lawan politik sebagai orang yang harus disingkirkan agar tidak menjadi saingan politik. Praktik bersaing sehat tidak ada dalam pilkada kita.

Kita sebaiknya dapat menarik pelajaran dari Piala Euro 2012 Polandia dan Ukraina. Dimana kejujuran, sportifitas, kebersamaan, kerja keras harus didahulukan lebih dahulu. Tidak seperti pemilihan kepala daerah di Negara kita yang melahirkan pemimpin yang korup, kebencian, konflik sosial. Akibatnya pencapain tujuan untuk membangun daerah yang bermartabat pun tidak kesampaian. Yang terjadi adalah oligarki elit yang menggerogoti daerah melalui APBD.

Piala Euro 2012 memberi pesan kepada kita bahwa kemenangan bukan segalanya, tetapi bagaimana meletakkan nilai fair play, kejujuran dalam meraih kemenangan itu. Bagi yang kalah dalam pilkada mari belajar ke Piala Euro 2012 Polandia tentang bagaimana menerima kekalahan secara sportif, toh yang menang dalam pilkada kita itu juga merupakan saudara kita sendiri.

Kompetisi pilkada yang berdasarkan ideologi politik, cita-cita, visi dan misi tidak bisa menerapkan sportivitas yang tinggi. Sementara sepak bola yang mengandalkan otot justru menujukkan nilai sportivitas yang tinggi. Ketika sepak bola menempatkan fisik yang prima untuk bisa pemenang, pada saat yang bersamaan fisik kita, kita pergunakan untuk kekerasan dan konflik sosial seperti yang terjadi di Papua dan berbagai perampokan yang marak dewasa ini. Saatnya kompetisi Piala Pilkada belajar dari Piala Euro 2012 dan kompetisi sepak bola, sekalipun mengandalkan otot bukan untuk berkelahi, tetapi menjadi juara dengan asas fari play yang sangat dijunjung tinggi.

Penulis adalah: Dosen FPBS UNIMED Medan/Pimpinan PKMI I Medan.

Artikel Terkait:

1 komentar:


  1. Permainan Poker Paling Seru Bersama Winning303...
    Menghadirkan IG poker & IDN poker ....

    Dengan 1 User ID, Sudah Dapat Bermain 8 Games Kartu Populer :
    1. Texas Poker
    2. Omaha Poker
    3. Domino QQ
    4. Ceme Keliling
    5. Bandar Ceme
    6. Capsa Susun
    7. Bandar Capsa
    8. BIG 2

    Bonus New Member Slot 15%
    Bonus New Member Poker 10%
    Bonus New Member Sabung Ayam 10%
    Bonus New Member Sportsbook & Live Casino 20%
    Bonus Deposit 10% Setiap Hari
    Bonus Deposit 10% Slot Setiap Hari
    Bonus Deposit Sabung Ayam 5%
    Bonus Cashback 5-10%
    Bonus 100% 7x Kemenangan Beruntun Sabung Ayam
    Diskon Togel Hingga 65%
    Bonus Rollingan Slot 1%
    Bonus Rollingan Poker dan Live Casino 0.5%

    Tunggu Apa Lagi, Ayok Segera Daftarkan Diri Anda Bersama Kami Di Winning303
    Dapatkan juga berbagai macam Bonus menarik dalam bermain Poker bersama kami.

    Informasi Lebih Lanjut, Silakan Hubungi Kami Di :
    - WA : +6287785425244

    BalasHapus

https://fbcdn-profile-a.akamaihd.net/hprofile-ak-ash2/372897_131353430292780_619288642_n.jpg https://fbcdn-profile-a.akamaihd.net/hprofile-ak-snc4/188096_134547703323278_1162554518_n.jpg https://fbcdn-profile-a.akamaihd.net/hprofile-ak-snc4/372896_322832097804252_1451457464_n.jpg https://fbcdn-profile-a.akamaihd.net/hprofile-ak-ash2/188076_323826454312372_464368268_n.jpg https://fbcdn-profile-a.akamaihd.net/hprofile-ak-snc4/157988_245544635468600_1221856100_n.jpg https://fbcdn-profile-a.akamaihd.net/hprofile-ak-snc4/157972_225236267569573_1370082627_n.jpg

Baguru On Facebook

 
© Copyright 2010-2011 Baguru All Rights Reserved.
Template Design by Baguru | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.