Nama
Muhammad bin Abdullah. Garis Keturunan Ayah. Nabi Adam Alaihissalam ⇒
Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan ⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Nabi Idris Alaihissalam ⇒
Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒ Nabi Nuh Alaihissalam ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyadz ⇒ Syalih
⇒ Abir ⇒ Falij ⇒ Ra'u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Azar ⇒ Nabi Ibrahim
Alaihissalam ⇒ Nabi Ismail Alaihissalam ⇒ Nabit ⇒ Yasyjub ⇒ Ya'rub ⇒
Tairah ⇒ Nahur ⇒ Muqawwim ⇒ Udad ⇒ Adnan ⇒ Ma'ad ⇒ Nizar ⇒ Mudhar ⇒
Ilyas ⇒ Mudrikah ⇒ Khuzaimah ⇒ Kinanah ⇒ an-Nadhar ⇒ Malik ⇒ Quraisy
(Fihr) ⇒ Ghalib ⇒ Lu'ay ⇒ Ka'ab ⇒ Murrah ⇒ Kilab ⇒ Qushay ⇒ Zuhrah ⇒
Abdu Manaf ⇒ Hasyim ⇒ Abdul Muthalib ⇒ Abdullah ⇒ Muhammad
Shalallahu'alaihi Wasallam.
Garis Keturunan Ibu, Nabi Adam Alaihissalam ⇒ Syits ⇒ Anusy ⇒ Qainan
⇒ Mahlail ⇒ Yarid ⇒ Nabi Idris Alaihissalam ⇒ Mutawasylah ⇒ Lamak ⇒
Nabi Nuh Alaihissalam ⇒ Sam ⇒ Arfakhsyadz ⇒ Syalih ⇒ Abir ⇒ Falij ⇒
Ra'u ⇒ Saruj ⇒ Nahur ⇒ Azar ⇒ Nabi Ibrahim Alaihissalam ⇒ Nabi Ismail
Alaihissalam ⇒ Nabit ⇒ Yasyjub ⇒ Ya'rub ⇒ Tairah ⇒ Nahur ⇒ Muqawwim ⇒
Udad ⇒ Adnan ⇒ Ma'ad ⇒ Nizar ⇒ Mudhar ⇒ Ilyas ⇒ Mudrikah ⇒ Khuzaimah ⇒
Kinanah ⇒ an-Nadhar ⇒ Malik ⇒ Quraisy (Fihr) ⇒ Ghalib ⇒ Lu'ay ⇒ Ka'ab ⇒
Murrah ⇒ Kilab ⇒ Qushay ⇒ Zuhrah ⇒ Abdu Manaf ⇒ Wahab ⇒ Aminah ⇒
Muhammad Shalallahu'alaihi Wasallam. Usia 62 tahun. Periode sejarah 570 -
632 M.
Tempat
diutus (lokasi) Mekah al-Mukarramah. Jumlah keturunannya (anak) 7 anak
(3 laki-laki, 4 perempuan). Tempat wafat Madinah an-Nabawiyah. Sebutan
kaumnya Bangsa Arab, di Al-Quran namanya disebutkan sebanyak 25 kali
secara jelas.
Disadari atau tidak, wujud Tuhan pasti dirasakan oleh jiwa manusia baik
redup atau benderang. Manusia menyadari bahwa suatu ketika dirinya akan
mati. Kesadaran ini mengantarkannya kepada pertanyaan tentang apa yang
akan terjadi sesudah kematian, bahkan menyebabkan manusia berusaha
memperoleh kedamaian dan keselamatan di negeri yang tak dikenal itu.
Wujud Tuhan yang dirasakan, serta hal-ihwal kematian, merupakan dua dari
sekian banyak faktor pendorong manusia untuk berhubungan dengan Tuhan
dan memperoleh informasi yang pasti. Sayangnya tidak semua manusia
mampu melakukan hal itu. Namun, kemurahan Allah menyebabkan-Nya memilih
manusia tertentu untuk menyampaikan pesan-pesan Allah, baik untuk
periode dan masyarakat tertentu maupun untuk seluruh manusia di setiap
waktu dan tempat. Mereka yang mendapat tugas itulah yang dinamai Nabi
(penyampai berita) dan Rasul (Utusan Tuhan).
Jumlah mereka secara pasti tidak diketahui. Al-Quran hanya menginforrnasikan bahwa,
"Tidak satu umat (kelompok masyarakat) pun kecuali telah pernah diutus
kepadanya seorang pembawa peringatan" (QS Fathir [35]: 24)
Al-Quran juga menyatakan kepada Nabinya bahwa :
"Kami telah mengutus nabi-nabi sebelum kamu, di antara mereka ada yang
telah kami sampaikan kisahnya, dan ada pula yang tidak Kami sampaikan
kepadamu" (QS Al-Mu'min [40]: 78)
Al-Quran menyebutkan secara tegas nama dua puluh lima Nabi/Rasul;
delapan belas di antaranya disebutkan dalam Al-Quran surat Al-An'am (6):
83-86, sisanya didapatkan dari berbagai ayat.
Nabi Muhammad saw seperti dinyatakan Al-Quran surat Al-A'raf (7): 158
-diutus kepada seluruh manusia, dan beliau merupakan khataman nabiyyin
(penutup para nabi) (QS Al-Ahzab [33]: 40).
Masa Prakelahiran
Al-Quran menegaskan bahwa para nabi telah pernah diangkat janjinya untuk
percaya dan membela Nabi Muhammad Shalallahu'alaihi Wasallam
"Dan ingatlah ketika Allah mengambil perjanjian dan para Nabi, 'Sungguh
apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah, kemudian
datang kepadamu seorang Rasul (Muhammad) yang membenarkan kamu, niscaya
kamu sungguh-sungguh akan beriman kepadanya dan menolongnya.' Allah
berfirman, 'Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku yang
demikian itu?' Mereka menjawab, 'Kami mengakui.'" (QS Ali'Imran [3]: 81)
Allah subhanahu wa ta'ala telah merencanakan sesuatu untuk Nabi Muhammad
Shalallahu'alaihi Wasallam, jauh sebelum kelahiran beliau. Karena itu
pula sementara pakar menyatakan bahwa kematian ayah beliau sebelum
kelahiran, kepergiannya ke pedesaan menjauhi ibunya, serta
ketidakmampuannya membaca dan menulis merupakan strategi yang
dipersiapkan Tuhan kepada beliau untuk dijadikan utusan-Nya kepada
seluruh umat manusia kelak.
Bahkan ulama lain meyakini bahwa pemilihan hal-hal tertentu berkaitan
dengan beliau bukanlah kebetulan. Misalnya bulan lahir, hijrah, dan
wafatnya pada bulan Rabi'ul Awal (musim bunga). Nama beliau Muhammad
(yang terpuji), ayahnya Abdullah (hamba Allah), ibunya Aminah (yang
memberi rasa aman), kakeknya yang bergelar Abdul Muththalib bernama
Syaibah (orang tua yang bijaksana), sedangkan yang membantu ibunya
melahirkan bernama Asy-Syifa' (yang sempurna dan sehat), serta yang
menyusukannya adalah Halimah As-Sa'diyah (yang lapang dada dan mujur).
Semuanya mengisyaratkan keistimewaan berkaitan dengan Nabi Muhammad saw
Makna nama-nama tersebut memiliki kaitan yang erat dengan kepribadian
Nabi Muhammad saw
Al-Quran surat Al-A'raf (7): 157 juga menginformasikan bahwa Nabi
Muhammad Shalallahu'alaihi Wasallam pada hakikatnya dikenal oleh
orang-orang Yahudi dan Nasrani. Hal ini antara lain disebabkan mereka
mendapatkan (nama)-nya tertulis di dalam Taurat dan Injil (QS Al-A'raf
[7]: 157).
Menurut pakar agama Islam, yang ditegaskan oleh Al-Quran itu, dapat
terbaca antara lain dalam Pertanjian Lama, Kitab Ulangan 33 ayat 2:
"... bahwa Tuhan telah datang dari Torsina, dan telah terbit untuk
mereka itu dari Seir, kelihatanlah ia dengan gemerlapan cahayanya dari
gunung Paran."
Pemahaman mereka berdasarkan analisis berikut: "Gunung Paran" menurut
Kitab Pertanjian Lama, Kejadian ayat 21, adalah tempat putra Ibrahim
-yakni Nabi Ismail- bersama ibunya Hajar memperoleh air (Zam-Zam). Ini
berarti bahwa tempat tersebut adalah Makkah, dan dengan demikian yang
tercantum dalam Kitab Ulangan di atas mengisyaratkan tiga tempat
terpancarnya cahaya wahyu Ilahi: Thur Sina tempat Nabi Musa
Alaihissalam. Seir tempat Nabi Isa Alaihissalam. , dan Makkah tempat
Nabi Muhammad saw. Sejarah membuktikan bahwa beliau satu-satunya Nabi
dari Makkah.
Karena itu pula wajar jika Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 146 menyatakan
bahkan mereka itu mengenalnya (Muhammad saw), sebagaimana mereka
mengenal anak-anak mereka, bahkan salah seorang penganut agama Yahudi
yang kemudian masuk Islam, yaitu Abdullah bin Salam pernah berkata,
"Kami lebih mengenal dan lebih yakin tentang kenabian Muhammad saw
daripada pengenalan dan keyakinan kami tentang anak-anak kami. Siapa
tahu pasangan kami menyeleweng."
Masa Prakenabian
Ada beberapa ayat Al-Quran yang berbicara tentang Nabi Muhammad saw sebelum kenabian beliau. Antara lain,
"Bukankah Dia (Tuhan) mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia
melindungimu, dan Dia mendapatimu bimbang, lalu Dia memberi petunjuk
kepadamu, dan Dia mendapatimu dalam keadaan kekurangan, lalu Dia
memberikan kecukupan?" (QS Al-Dhuha [93]: 6-8)
Beliau yatim sejak di dalam kandungan, kemudian dipelihara dan
dilindungi oleh paman dan kakeknya. Beliau hidup di dalam keresahan dan
kebimbangan melihat sikap masyarakatnya, lalu Allah memberinya
petunjuk, dan mengangkatnya sebagai Nabi dan Rasul. Beliau hidup miskin
karena ayahnya tidak meninggalkan warisan untuknya, kecuali beberapa
ekor kambing dan harta lainnya yang tidak berarti. Tetapi Allah
memberinya kecukupan, khususnya menjelang dan saat hidup berumah tangga
dengan istrinya, Khadijah Alaihissalam.
Ayat lain yang oleh ulama dianggap berbicara tentang Nabi Muhammad
Shalallahu'alaihi Wasallam pada masa kanak-kanaknya, adalah surat Alam
Nasyrah ayat pertama:
"Bukankah Kami (Tuhan) telah melapangkan dada untukmu?"
Sebagian ulama mengartikan kata nasyrah dengan "memotong/membedah."
Memang, bila dikaitkan dengan sesuatu yang bersifat materi, artinya
demikian. Apabila dikaitkan dengan sesuatu yang bersifat nonmateri, kata
itu mengandung arti membuka, memberi pemahaman, menganugerahkan
ketenangan dan semaknanya. Yang mengaitkan dengan hal-hal materi
berpendapat bahwa ayat ini berbicara tentang "pembedahan" yang pernah
dilakukan oleh para malaikat terhadap Nabi Muhammad Shalallahu'alaihi
Wasallam kala beliau remaja. Pendapat ini antara lain dikemukakan oleh
mufasir An -Naisaburi.
Tetapi sepanjang penelitian Prof. Dr. M. Quraish Shihab, kata tersebut
dengan berbagai bentuknya terulang sebanyak 5 kali, dan tidak satu pun
yang digunakan dengan arti harfiah, apalagi bermakna pembedahan. Akan
lebih jelas lagi jika hal itu disejajarkan dengan ayat yang berbicara
tentang doa Nabi Musa Alaihissalam. di dalam Al-Quran.
"Wahai Tuhanku, lapangkanlah dadaku, mudahkanlah untukku urusanku dan
lepaskanlah kekakuan lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku" (QS
Thaha [20]: 25-28)
Selanjutnya Al-Quran menegaskan bahwa Nabi Muhammad Shalallahu'alaihi
Wasallam tidak pernah membaca satu kitab atau menulis satu kata sebelum
datangnya wahyu Al-Quran.
"Engkau tidak pernah membaca satu kitab pun sebelumnya (Al-Quran), tidak
juga menulis satu tulisan dengan tanganmu, (andai kata kamu pernah
membaca dan menulis) pasti akan benar-benar ragulah orang yang
mengingkari-(mu)" (QS Al-'Ankabut [29]: 48).
Ayat ini secara pasti menyatakan bahwa beliau saw adalah orang yang
tidak pandai membaca dan menulis. Banyak ulama yang memahami bahwa
kendatipun kemudian Nabi Shalallahu'alaihi Wasallam menganjurkan umatnya
belajar membaca dan menulis, namun beliau sendiri tidak melakukannya,
karena Allah subhanahu wa ta'ala ingin menjadikan beliau sebagai bukti
bahwa informasi yang diperolehnya benar-benar bukan bersumber dari
manusia, melainkan dari Allah subhanahu wa ta'ala.
Ada juga ulama yang memahami bahwa ketidakmampuan beliau membaca hanya
terbatas sampai sebelum terbukti kebenaran ajaran Islam. Setelah
kebenaran Islam terbukti -setelah hijrah ke Madinah- beliau telah pandai
membaca. Menurut pendukungnya ide ini dikuatkan antara lain oleh kata
"sebelumnya" yang terdapat pada ayat di atas.
Memang, kata ummi hanya ditemukan dua kali dalam Al-Quran (QS Al-A'raf
[7] 157 dan 158), dan keduanya menjadi sifat Nabi Muhammad
Shalallahu'alaihi Wasallam Memang kedua ayat itu turun di Makkah,
meskipun ada juga ayat lain yang turun di Madinah menyatakan,
"Dia (Allah) yang mengutus kepada masyarakat ummiyyin (buta huruf), seorang Rasul di antara mereka" (QS Al-Jum'ah [62]: 2)
Di sisi lain, harus disadari bahwa masyarakat beliau ketika itu menganggap kemampuan menulis sebagai bukti kelemahan seseorang.
Pada masa itu sarana tulis-menulis amat langka, sehingga masyarakat amat
mengandalkan hafalan. Seseorang yang menulis dianggap tidak memiliki
kemampuan menghafal, dan ini merupakan kekurangan. Penyair Zurrummah
pernah ditemukan sedang menulis, dan ketika ia sadar bahwa ada orang
yang melihatnya, ia bermohon: "Jangan beri tahu siapa pun, karena ini
(kemampuan menulis) bagi kami adalah aib."
Memang, nilai-nilai dalam masyarakat berubah, sehingga apa yang dianggap
baik pada hari ini, boleh jadi sebelumnya dinilai buruk. Pada masa
kini kemampuan menghafal tidak sepenting masa lalu, karena sarana
tulis-menulis dengan mudah diperoleh.
Masa Kenabian
Pada usia 40 tahun, yang disebut oleh Al-Quran surat Al-Ahqaf ayat 15
sebagai usia kesempurnaan, Muhammad saw diangkat menjadi Nabi. Ditandai
dengan turunnya wahyu pertama Iqra' bismi Rabbik.
Sebelumnya beliau tidak pernah menduga akan mendapat tugas dan kedudukan
yang demikian terhormat. Karena itu ditemukan ayat-ayat Al-Quran yang
menguraikan sikap beliau terhadap wahyu dan memberi kesan bahwa pada
mulanya beliau sendiri "ragu" dan gelisah mengenai hal yang dialaminya.
QS Yunus (10): 94 mengisyaratkan bahwa,
"Kalau engkau ragu terhadap apa yang Kami turunkan kepadamu, maka
tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca Kitab Suci sebelum kamu (QS
Yunus [10]: 94)
Kegelisahan itu bertambah besar pada saat wahyu yang beliau
nanti-nantikan tidak kunjung datang, hingga menurut beberapa riwayat
beliau sedemikian gelisah, sampai-sampai konon beliau hampir saja
mencelakakan dirinya. Rupanya Allah subhanahu wa ta'ala bermaksud
menjadikan beliau lebih merindukan lagi "sang kekasih dan
firman-firman-Nya" agar semakin mantap cinta beliau kepada-Nya.
Ketika matahari naik sepenggalah, cahayanya memancar menerangi seluruh
penjuru. Cahayanya tidak terlalu terik, sehingga tidak menyebabkan
gangguan sedikit pun, bahkan panasnya memberikan kesegaran, kenyamanan,
dan kesehatan. Di sini Allah subhanahu wa ta'ala melambangkan kehadiran
wahyu selama ini sebagai kehadiran cahaya matahari yang sinarnya
demikian jelas, menyegarkan, dan menyenangkan. Sedangkan ketidakhadiran
wahyu dinyatakan dengan kalimat, "Demi malam ketika hening."
Kenabian Muhammad saw bukan merupakan hal yang baru bagi umat manusia.
Nabi Muhammad Shalallahu'alaihi Wasallam secara tegas diperintahkan
untuk menyatakan hal itu,
"Katakanlah, 'Aku bukanlah rasul yang pertama di antara rasul-rasul. Aku
tidak mengetahui yang diperbuat terhadapku, tidak juga terhadapmu. Aku
tidak lain hanya mengikuti yang diwahyukan kepadaku dan aku tidak lain
seorang pemberi peringatan yang menjelaskan.'" (QS Al-Ahqaf [46]: 9)
Namun demikian kenabian Muhammad saw berbeda dengan kenabian utusan
Tuhan yang lain. Sebelum beliau, para Nabi dan Rasul diutus untuk
masyarakat dan waktu tertentu, tetapi Nabi Muhammad Shalallahu'alaihi
Wasallam diutus untuk seluruh manusia di setiap waktu dan tempat,
"Katakanlah (hai Muhammad), 'Wahai seluruh manusia! Sesungguhnya aku
adalah utusan Allah untuk kamu semua'" (QS Al-A'raf [7]: 158)
Ada sementara orientalis yang menduga bahwa pada mulanya Nabi Muhammad
Shalallahu'alaihi Wasallam hanya bermaksud mengajarkan agamanya kepada
orang-orang Arab, tetapi setelah beliau berhasil di Madinah, beliau
memperluas dakwahnya untuk seluruh manusia.
Pendapat ini sungguh keliru, karena sejak di Makkah beliau telah menegaskan bahwa beliau diutus untuk seluruh manusia.
"Katakanlah (hai Muhammad), 'Wahai seluruh manusia! Sesungguhnya aku
adalah utusan Allah untuk kamu semua.'" (QS Al-A'raf [7]: 158)
Ayat ini turun ketika Nabi Shalallahu'alaihi Wasallam sedang berada di
Makkah, bahkan menurut sementara ulama, semua ayat Al-Quran yang dimulai
dengan panggilan "Wahai seluruh manusia," semuanya turun di Makkah
kecuali beberapa ayat.
Ketika masyarakat Arab Quraisy meminta bukti-bukti yang bersifat
suprarasional, Nabi Muhammad Shalallahu'alaihi Wasallam diperintahkan
untuk menyampaikan kalimat-kalimat berikut:
"Katakanlah, 'Sesungguhnya bukti-bukti itu bersumber dari Allah, sedang
aku hanya pembawa peringatan yang menjelaskan.'" (QS Al-'Ankabut [29]:
50)
Memang Nabi Muhammad Shalallahu'alaihi Wasallam tidak mengandalkan
hal-hal yang bersifat suprarasional sebagai bukti kebenaran ajarannya.
Bukti kebenaran kenabian dan kerasulannya adalah Al-Quran dan diri
beliau sendiri yang ummi (tidak pandai membaca dan menulis). Para pakar
bersepakat dengan menggunakan berbagai tolok ukur untuk mengakui beliau
sebagai manusia teragung yang pernah dikenal oleh sejarah kemanusiaan
"Wahai seluruh manusia, telah datang kepada kamu bukti yang sangat jelas
dan Tuhanmu (yakni Muhammad saw), dan Kami telah (pula) menurunkan
cahaya yang terang benderang (Al-Quran)" (QS Al-Nisa' [4]: 174)
Akhlak dan Fungsi Kenabian Muhammad Shalallahu'alaihi Wasallam
Al-Quran mengakui secara tegas bahwa Nabi Muhammad saw memiliki akhlak
yang sangat agung. Bahkan dapat dikatakan bahwa konsideran pengangkatan
beliau sebagai nabi adalah keluhuran budi pekertinya. Hal ini dipahami
dari wahyu ketiga yang antara lain menyatakan bahwa:
"Sesungguhnya engkau (Muhammad) berada di atas akhlak yang agung" (QS Al-Qalam [68]: 4)
Kata "di atas" tentu mempunyai makna yang sangat dalam, melebihi kata lain, misalnya, pada tahap/dalam keadaan akhlak mulia
Seperti dikemukakan di atas, Al-Quran surat Al-An'am ayat 90 menyebutkan
dalam rangkaian ayat-ayatnya 18 nama Nabi/Rasul. Setelah kedelapan
belas nama disebut, Allah berpesan kepada Nabi Muhammad
Shalallahu'alaihi Wasallam, "Mereka itulah yang telah memperoleh
petunjuk dari Allah, maka hendaknya kamu meneladani petunjuk yang mereka
peroleh." Karena itu pula sebagian ulama tafsir menyimpulkan, bahwa
pastilah Nabi Muhammad Shalallahu'alaihi Wasallam telah meneladani
sifat-sifat terpuji para nabi sebelum beliau
Nabi Nuh Alaihissalam. dikenal sebagai seorang yang gigih dan tabah
dalam berdakwah. Nabi Ibrahim Alaihissalam. dikenal sebagai seorang yang
amat pemurah, serta amat tekun bermujahadah mendekatkan diri kepada
Allah. Nabi Daud Alaihissalam. dikenal sebagai nabi yang amat
menonjolkan rasa syukur serta penghargaannya terhadap nikmat Allah. Nabi
Zakaria Alaihissalam., Yahya Alaihissalam., dan Isa Alaihissalam.,
adalah nabi-nabi yang berupaya menghindari kenikmatan dunia demi
mendekatkan diri kepada Allah Allah subhanahu wa ta'ala. Nabi Yusuf
Alaihissalam. terkenal gagah, dan amat bersyukur dalam nikmat dan
bersabar menahan cobaan. Nabi Yunus Alaihissalam. diketahui sebagai nabi
yang amat khusyuk ketika berdoa, Nabi Musa terbukti sebagai nabi yang
berani dan memiliki ketegasan, Nabi Harun Alaihissalam. sebaliknya,
adalah nabi yang penuh dengan kelemahlembutan. Demikian seterusnya, dan
Nabi Muhammad Shalallahu'alaihi Wasallam meneladani semua keistimewaan
mereka itu.
Ada beberapa sifat Nabi Muhammad Shalallahu'alaihi Wasallam yang ditekankan oleh Al-Quran, antara lain,
"Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri,
berat terasa olehnya penderitaanmu (umat manusia), serta sangat
menginginkan kebaikan untuk kamu semua, lagi amat tinggi belas
kasihannya serta penyayang terhadap orang-orang mukmin" (QS Al-Tawbah
[9]: 128)
Begitu besar perhatiannya kepada umat manusia, sehingga hampir-hampir
saja ia mencelakakan diri demi mengajak mereka beriman (baca QS Syu'ara
[26]: 3). Begitu luas rahmat dan kasih sayang yang dibawanya, sehingga
menyentuh manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, dan makhluk-makhluk tak
bernyawa.
Sebelum Eropa memperkenalkan Organisasi Pencinta Binatang, Nabi Muhammad Shalallahu'alaihi Wasallam telah mengajarkan,
"Bertakwalah kepada Allah dalam perlakuanmu terhadap binatang-binatang, kendarailah dan makanlah dengan baik."
Rahmat dan kasih sayang yang dicurahkannya sampai pula pada benda-benda
tak bernyawa. Susu, gelas, cermin, tikar, perisai, pedang, dan
sebagainya, semuanya beliau beri nama, seakan-akan benda-benda tak
bernyawa itu mempunyai kepribadian yang membutuhkan uluran tangan,
rahmat, kasih sayang, dan persahabatan.
Diakui bahwa Muhammad Shalallahu'alaihi Wasallam diperintahkan Allah untuk menegaskan bahwa,
"Aku tidak lain kecuali manusia seperti kamu, (tetapi aku) diberi wahyu ..." (QS Al-Kahf [18]: 110)
Beliau adalah manusia seperti manusia yang lain dalam naluri, fungsi
fisik, dan kebutuhannya, tetapi bukan dalam sifat-sifat dan
keagungannya, karena beliau mendapat bimbingan Tuhan dan kedudukan
istimewa di sisi-Nya, sedang yang lain tidak demikian. Seperti halnya
permata adalah jenis batu yang sama jenisnya dengan batu yang di jalan,
tetapi ia memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh batu-batu
lain. Dalam bahasa tafsir Al-Quran, "Yang sama dengan manusia lain
adalah basyariyah bukan pada insaniyah." Perhatikan bunyi firman tadi:
basyarun mitslukum bukan insan mitslukum.
Atas dasar sifat-sifat yang agung dan menyeluruh itu, Allah subhanahu wa
ta'ala menjadikan beliau sebagai teladan yang baik sekaligus sebagai
syahid (pembawa berita gembira dan pemberi peringatan)
"Sesungguhnya terdapat dalam diri Rasul teladan yang baik bagi yang
mengharapkan (ridha) Allah dan ganjaran di hari kemudian." (QS Al-Ahzab
[33]: 2l)
Keteladanan tersebut dapat dilakukan oleh setiap manusia, karena beliau
telah memiliki segala sifat terpuji yang dapat dimiliki oleh manusia.
Dalam konteks ini, Abbas Al-Aqqad, seorang pakar Muslim kontemporer
menguraikan bahwa manusia dapat diklasifikasikan ke dalam empat tipe:
seniman, pemikir, pekerta, dan yang tekun beribadah.
Sejarah hidup Nabi Muhammad Shalallahu'alaihi Wasallam membuktikan bahwa
beliau menghimpun dan mencapai puncak keempat macam manusia tersebut.
Karya-karyanya, ibadahnya, seni bahasa yang dikuasainya, serta
pemikiran-pemikirannya sungguh mengagumkan setiap orang yang bersikap
objektif. Karena itu pula seorang Muslim akan kagum berganda kepada
beliau, sekali pada saat memandangnya melalui kacamata ilmu dan
kemanusiaan, dan kedua kali pada saat memandangnya dengan kacamata iman
dan agama.
Banyak fungsi yang ditetapkan Allah bagi Nabi Muhammad Shalallahu'alaihi
Wasallam, antara lain sebagai syahid (pembawa berita gembira dan
pemberi peringatan) (QS Al-Fath [48]: 8), yang pada akhirnya bermuara
pada penyebarluasan rahmat bagi alam semesta.
Demikian itulah Kami jadikan kamu umat pertengahan, agar kamu menjadi
saksi terhadap manusia, dan agar Rasul (Muhammad Shalallahu'alaihi
Wasallam) menjadi saksi terhadap kamu ... (QS Al-Baqarah [2]: 143)
Kata syahid/syahid antara lain berarti "menyaksikan," baik dengan
pandangan mata maupun dengan pandangan hati (pengetahuan). Ayat itu
menjelaskan keberadaan umat Islam pada posisi tengah, agar mereka tidak
hanyut pada pengaruh kebendaan, tidak pula mengantarkannya membubung
tinggi ke alam ruhani sehingga tidak berpijak lagi di bumi. Mereka
berada di antara keduanya (posisi tengah), sehingga mereka dapat menjadi
saksi dalam arti patron/teladan dan skala kebenaran bagi umat-umat
yang lain, sedangkan Rasulullah saw yang juga berkedudukan sebagai
syahid (saksi) adalah patron dan teladan bagi umat Islam.
Tingkat syahadat (persaksian) hanya diraih oleh mereka yang menelusuri
jalan lurus (shirath al-mustaqim), sehingga mereka mampu menyaksikan
yang tersirat di balik yang tersurat. Mereka yang menurut Ibnu Sina
disebut "orang yang arif," mampu memandang rahasia Tuhan yang terbentang
melalu qudrat-Nya. Tokoh dari segala saksi adalah Rasulullah yaitu
Nabi Muhammad Shalallahu'alaihi Wasallam yang secara tegas di dalam
ayat ini dinyatakan "diutus untuk menjadi syahid (saksi)."
Kesimpulan yang diberikan oleh penyair Al-Bushiri: "Batas pengetahuan
tentang beliau, hanya bahwa beliau adalah seorang manusia, dan bahwa
beliau adalah sebaik-baik makhluk Allah seluruhnya."
Allahumma shalli wa sallim 'alaih.
Description:
Sejarah Nabi Muhammad SAW
Rating:
3.5
Reviewer:
Zona Kita
ItemReviewed:
Sejarah Nabi Muhammad SAW