PLEIN van Rome, lapangan luas yang terletak di alun-alun Kota Padang,
menjadi saksi bisu kecintaan Bung Hatta terhadap sepak bola. Semasa
hidupnya, Wakil Presiden RI pertama itu merupakan salah satu tokoh
nasional yang menggemari olahraga tersebut. Melalui kepengurusan sepak
bola saat bersekolah di MULO jugalah Hatta pertama kali belajar untuk
berorganisasi hingga sebutan "Bapak Koperasi" disematkan kepada
dirinya.
Di masa remaja, Hatta sempat bergabung dalam klub sepak bola bernama
Young Fellow. Meski berisi sejumlah anak Belanda, Hatta mampu tampil
menonjol dan mampu memberikan prestasi. Juara Sumatera Selatan selama
tiga tahun berturut-turut serta julukan "Onpas Seerbar" (Sukar
Diterobos) dari orang Belanda adalah bukti kehebatan Hatta dalam sepak
bola.
"Saya bermula bermain sepak bola di tanah lapang, dengan memakai bola
biasa yang agak kecil ukurannya, bola kulit yang dipompa. Saban sore
pukul 17.00, saya sudah di tanah lapang. Kalau tidak bermain sebelas
lawan sebelas, kami berlatih menyepak bola dengan tepat ke dalam
gawang dan belajar menembak ke gawang," tulis Hatta dalam buku
Untuk Negeriku: Sebuah Otobiografi.
Salah seorang teman Hatta, Marthias Doesky Pandoe, wartawan kelahiran Padang, dalam buku
Hatta: Jejak yang Melampaui Zaman,
disebut menyimpan banyak kenangan semasa Hatta masih remaja. Menurut
Marthias, sejumlah teman Hatta yang pernah ditemuinya sering
bercerita bahwa Sang Proklamator itu adalah gelandang tengah yang
cukup tangguh.
Bahkan, kegemaran Hatta pada sepak bola berlanjut ketika dirinya
menjadi salah satu tokoh politik penting dalam sejarah Indonesia. Dia
tidak pernah absen menonton sejumlah pertandingan besar. Ketika
diasingkan oleh kolonial Belanda ke Boven Digul pada 1935, ia bersama
Sutan Sjahrir masih menyempatkan bermain sepak bola.
Hatta juga sempat membuat Bung Karno terpojok dan keteter saat beradu
argumentasi mengenai kekalahan PSSI saat melawan kesebelasan Aryan
Ghimkanna dari India di Stadion Ikada (sekarang Monas). Guntur Soekarno
Putera yang ikut menonton pertandingan itu, dalam buku
Pribadi Manusia Hatta, seri 10, lantas menyematkan judul "Nonton Bola, Apa Tafakur?" untuk menggambarkan keseriusan Hatta dalam urusan sepak bola.
Hingga hari tuanya, sepak bola pun masih menjadi bagian hidup Hatta.
Pada awal 1970-an, saat Pandoe berkunjung ke rumah Hatta, tuan rumah
berkata, "Di mana letak Plein van Rome sekarang?" Pandoe pun menjawab
bahwa lapangan bola tersebut masih ada, tetapi kini telah menjadi
alun-alun Kota Padang. Namanya sudah berganti menjadi Lapangan Imam
Bonjol, yang berlokasi tepat di Kantor Balaikota Padang.
Semangat Nusantara
Dari sepenggal cerita tersebut, pasti timbul pertanyaan bagaimana jika
Hatta melihat kondisi sepak bola nasional saat ini. Sebagai pencinta
sepak bola sejati, Hatta pasti sedih dan mungkin saja menitikkan air
matanya. Hal ini bukan tanpa alasan. Pasalnya, jika kita tarik ke
belakang, sepak bola di masa Hatta, menjadi semangat tersendiri bagi
anak bangsa. Kala itu, sepak bola bukan sebagai ajang pertarungan
gengsi kepentingan pribadi seperti sekarang ini.
Pada masa penjajahan Belanda, pemuda Nusantara mengerti betul bahwa
kehormatan sebagai bangsa bukan cuma urusan perang senjata, melainkan
juga sepak bola. Atas semangat itulah, Persatuan Sepak Raga Seluruh
Indonesia (sekarang PSSI) dibentuk pada 19 April 1930 sebagai wadah
kesatuan untuk menegakkan martabat bangsa. Meski baru dibentuk, para
pengurus di bawah kepemimpinan Ir Soeratin Sosrosoegondo itu telah
memiliki konsep jelas bahwa sepak bola tidak hanya menjadi hobi,
tetapi juga sebagai prestasi.
Koran
Bintang Mataram edisi 22-44 April 1930, yang dikutip dari buku
Kenang-kenangan 50 Tahun PSSI,
melaporkan, salah satu misi berdirinya PSSI adalah sebagai jendela
kebangsaan dan salah satu pintu gerbang menuju kemerdekaan. Dengan
tujuan itu, jelas organisasi tersebut murni dibentuk dengan suatu
kebanggaan akan semangat nasionalisme yang tinggi.
Alhasil, kompetisi pun dibuat bukan untuk kepentingan pribadi atau
kelompok, melainkan demi harga diri. Berkat kompetisi itulah,
Nusantara mampu berbicara kepada dunia. Dengan memakai bendera Dutch
East Indies (Hindia Belanda), pemuda Nusantara menunjukkan bahwa Asia
telah mengenal olahraga yang begitu digandrungi di Eropa melalui
keikutsertaannya di Piala Dunia 1938. Nusantara kemudian menjadi
pionir bagi Asia yang ingin unjuk gigi di hadapan penghuni bumi.
Pascakemerdekaan, Jepang dan Korea Selatan pernah merasakan dipermak
4-0 oleh pemuda Nusantara. Di Merdeka Games 1949, Taiwan pun harus
bertekuk lutut kepada Soetjipto Soentoro dan kawan-kawan dengan skor
11-1. Medali emas SEA Games 1987 dan 1991 juga direbut Indonesia.
Sejumlah prestasi itu, Nusantara jelas dapat membusungkan dada di
antara negara Asia, seperti Thailand, Malaysia, dan Singapura, Jepang,
hingga daratan Korea.
Bahkan, Jepang yang luluh lantah akibat Perang Dunia II tak malu untuk
meniru Indonesia yang berstatus sebagai eks jajahannya. Mereka rela
menyingkirkan gengsi sebagai penguasa Asia saat menjajah Nusantara
selama 3,5 tahun lamanya. Dengan meniru sistem kompetisi Galatama pada
akhir 1970-an hingga awal 1990-an, Negeri Sakura mampu meraih sukses
melalui J-League miliknya dan dapat bertransformasi menjadi salah satu
kekuatan Asia hingga kancah Piala Dunia.
Mimpi Indonesia
Lantas bagaimana dengan Indonesia saat ini? Hatta memang tidak sempat
menyaksikan gemilangnya prestasi terakhir anak bangsa saat meraih
medali emas SEA Games 1991 di Manila. Namun, Hatta mengerti bagaimana
menjadi seseorang yang mencintai sepak bola yang memiliki kejujuran,
kesederhanaan, serta tanggung jawab yang besar bagi negara. Hal inilah
yang harusnya dijadikan suri teladan oleh sejumlah pengurus sepak
bola di kompleks Senayan.
Semenjak SEA Games 1991, kondisi sepak bola nasional seperti tenggelam
dalam sejarah kelam. Teranyar, lihat saja bagaimana bangsa ini
diperbincangkan seluruh isi bumi saat menelan kekalahan 0-10 dari
Bahrain di Pra-Piala Dunia yang menyakitkan hati. Belum lagi, istilah
"spesialis final" mulai disematkan kepada Indonesia. Negeri ini
kembali mengalami kegagalan di final turnamen Hassanal Bolkiah Trophy
pekan lalu. Kini, satu per satu negara Asia sudah bisa menari karena
prestasi, sementara kegemilangan Indonesia tinggal menjadi kenangan.
Lalu, kenapa di tengah majunya negara Asia justru Indonesia mengalami
kemunduran prestasi luar biasa? Memang, banyak faktor mengenai
anomali prestasi ini. Tetapi, rasanya tidak logis jika pemain dan
pelatih yang disalahkan atas sejumlah kegagalan. Pengurus sepak bola
yang berseterulah juga harus dituntut tanggung jawabnya, berkat
ulahnya membuat dualisme kompetisi, pertarungan politik, dan konflik
tiada henti.
Dengan adanya dualisme kompetisi, pilihan untuk mengisi pemain terbaik
di timnas pasti akan menjadi masalah tersendiri. Sejumlah pengurus
itu bahkan terkesan lebih mirip politisi dibanding pamong olahraga
sejati.
Masa lalu sepak bola kita padahal memberi banyak teladan. Lihat saja
di era 1960 hingga 1980-an, kelanjutan prestasi dari timnas yunior ke
senior terlihat secara gamblang. Talenta muda Nusantara mampu meraih
prestasi di kejuaraan Piala Asia Yunior (juara 1962,
runner-up
1967, 1970), dan tiga kali berturut-turut meraih gelar Kejuaraan
Pelajar Asia (1984, 1985, 1986). Prestasi itu bisa berlanjut ke timnas
senior di era 1980 hingga 1990-an.
Tentunya, prestasi itu bisa berlanjut karena adanya kebesaran hati
sejumlah pengurus PSSI yang mampu membangkitkan nasionalisme pemain
yang juga membuat daya juang pemain meningkat. Pengurus rela hanya
menerima honorarium selama pelatnas dan tidak menerima gaji tetap.
Untuk soal dana, mereka hanya mengandalkan jualan karcis jika
bertanding melawan tim-tim besar dan sedikit bantuan dari sejumlah
penggila bola yang ingin menaikkan martabat bangsa di Asia.
Kebesaran hati dan keinginan untuk menaikkan martabat bangsa itulah
yang hilang dewasa ini. Padahal, banyak sekali talenta muda yang
tersebar di berbagai penjuru Indonesia. Lihatlah bagaimana timnas U-17
bisa meraih gelar juara di invitasi sepak bola Hongkong pada awal
2002, atau tim muda di sejumlah gelaran Piala Dunia Danone yang mampu
mengalahkan sejumlah tim Eropa. Jika sudah begini, prestasi para
talenta muda justru dijadikan komoditas politik untuk saling klaim dan
pamer kesuksesan.
Perseteruan PSSI dan Komite Penyelamat Sepak Bola Indonesia (KPSI)
yang saling adu strategi dan kemampuan dalam berkonflik itu telah
membuat Indonesia seperti kembali ke masa penjajahan Belanda dengan
taktik
devide et empera. Gigihnya pengurus dua organisasi itu
dalam kisruh justru membelah persatuan anak bangsa. Terlalu banyak
intrik demi mencari kekuasaan daripada meraih kesuksesan. Prestasi pun
hanya menjadi mimpi di balik kotornya permainan politik demi
kepentingan pribadi.
Contohlah Hatta
Harusnya setiap pengurus PSSI maupun KPSI dapat mencontoh Hatta yang
mampu menyingkirkan emosi serta kepentingan pribadi demi kepentingan
bangsa. Lihat saja bagaimana Hatta rela melakukan negosiasi dengan
Belanda, yang telah menjajah ratusan tahun, dalam Konferensi Meja
Bundar di Den Haag pada 1949. Kerelaan itu pun berbuah nyata, yaitu
kemerdekaan Indonesia!
Belum lagi ketika Hatta dengan sikap kesatria mengundurkan diri dari
posisi Wakil Presiden RI pada 1 Desember 1956 karena tidak sepaham
dengan pandangan politik Bung Karno. Hatta sadar, bila bertahan dalam
perbedaan dengan Bung Karno, justru bakal memperkeruh pemerintahan
republik yang masih muda usia. Tujuannya pun jelas, yakni agar bangsa
tidak terpecah belah.
Padahal, Hatta sebenarnya mempunyai sejumlah alasan kuat untuk menolak
berunding dengan Belanda yang telah membuat rakyat Indonesia
sengsara hampir 3,5 abad lamanya, ataupun menolak pandangan Bung
Karno. Alasan itu pun jauh lebih kuat dibanding alasan statuta FIFA
yang dipegang oleh PSSI dan KPSI.
Coba tanyakan ke masyarakat, apa yang diharapkan dari sepak bola
Indonesia saat ini? Sebagian besar jawaban pastinya adalah mendapat
prestasi, bukan mimpi, bukan pula konflik yang tiada henti. Masyarakat
sejatinya saat ini tidak butuh sejumlah alasan dari pengurus sepak
bola yang hanya sibuk dengan kepentingan pribadinya.
Sudah cukup bangsa ini menanggung malu, apalagi dengan hasil
mengecewakan di Pra-Piala Dunia 2014 dan sejumlah final di kejuaran
tingkat Asia itu. Harusnya kedua pengurus itu mengilhami ucapan Hatta
bahwa jatuh bangunnya prestasi negara ini sangat tergantung dari
bangsa ini sendiri.
Sekarang ratusan juta penduduk Indonesia menunggu apakah PSSI dan KPSI
mau meniru kebesaran hati, kepedulian, dan jiwa kepahlawanan seorang
pencinta sepak bola seperti Bung Hatta yang hari ini tepat 32 tahun
meninggalkan kita, atau hanya tetap menjadi penyumbang duka sepak
bola Indonesia....
"
Jatuh
bangunnya negara ini, sangat tergantung dari bangsa ini sendiri.
Makin pudar persatuan dan kepedulian, Indonesia hanyalah sekadar nama
dan gambar seuntaian pulau di peta...." - Mohammad Hatta.
Sumber