Tampilkan postingan dengan label Filosofi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Filosofi. Tampilkan semua postingan

Musuh...



Musuh...Itu senang akan ke gagalan kita.

Musuh adalah Guru
Musuh adalah Motivasi
Musuh adalah Orang yang sangat memperhatikan kita
Musuh adalah Orang yang mengerti akan kita
Musuh adalah lawan yang sepadan
Musuh Terhebat adalah Sahabat Terbaik
Musuh adalah pesaing yang profesinya sama dengan kita
Musuh adalah Sahabat Tersembunyi 
Musuh adalah Orang yang tidak sepaham dengan kita
Musuh adalah Seseorang yang mempunyai pandangan yang salah terhadap kita
Musuh adalah  Orang yang selalu bertentangan dengan kita baik dari segi  perasaan maupun pemikiran
Musuh adalah Orang yang selalu menghalangi kita untuk mencapai apa yang kita mau . Dia membuat kita kesal, sakit hati, dan marah .
Musuh adalah Orang yang selalu ingin menjatuhkan kita dan menantang kita karena dia merasa lebih

INDONESIA: NEGERI YANG BESAR KELAMINDARIPADA KEMALUAN

Oleh: Olav Iban
Pada hakikatnya tidak ada senyum, melainkan seseorang yang tersenyum; tidak ada kebahagiaan, melainkan orang-orang yang berbahagia; tidak ada gigi yang sakit, melainkan ada pribadi yang menderita sakit gigi. Begitu pula dengan demokrasi, tak akan pernah ada yang namanya demokrasi, melainkan terbentuknya masyarakat merdeka atas diri mereka sendiri dan mampu menentukan atas batasan apa mereka merdeka dengan berpandangan sosial untuk kesejahteraan bersama.
Tetapi akankah ada masyarakat yang sedemikiannya, jika 99% kekayaan alam mereka dikuasai orang asing, sementara 1%-nya dimiliki pemerintah yang mempunyai utang hampir Rp 1.800 triliyun. Akankah ada kedaulatan rakyat jika majority rules disebut-sebut sebagai alat demokrasi. Adakah kemerdekaan di negeri oligarkis yang terkesan despotis. Mungkinkah kesejahteraan bersama itu ada jika istilah pluralisme saja tidak pernah masuk ke dalam kategori inteligibilitas masyarakatnya. Maka mulai dari sinilah posisi demokrasi di negeri kita, Indonesia, perlu dipertanyakan ulang.
            Terlepas dari kekuatan alam, sejarah Indonesia dikotori dengan bencana. Di sini kekuatan religius cenderung absolut, kumpulan masyarakat penuh amarah dan dendam masa silam yang tidak pernah hilang, etnosentrisme merebak hingga antarkampung pun saling tusuk. Solusi agamis yang digadang-gadang bersama iman dan takwa serta nilai-nilai religi dianggap mampu menjamin keadilan dan kesejahteraan, buktinya gagal total.
Kekerasan antaragama masih terjadi. Hak-hak beribadah selalu disunat: pembakaran tempat ibadah; lonceng-lonceng gereja disaingi teriakan adzan; stereotip-stereotip sosial kalau Kristen itu begitu, kalau Islam itu begini, kalau Hindu-Buddha lain lagi, dan lucunya pemerintah melegitimasinya. Permusuhan ini bukan adu domba orang ketiga seperti yang dikoar-koarkan pemerintah. Ini murni kebencian hakiki terhadap perbedaan. Murni tindakan ‘aku-kamu’ ‘kita-mereka’. Lha wong aksi damai forum antarumat beragama saja diserang karena dianggap tidak beragama. Aliran-aliran yang sudah ada sejak zaman Hasyim Ashari masih berguru pada Ahmad Khatib Al-Minangkabawi tanpa benturan dengan mainstream, sekarang malah dibentur-benturkan. Bahkan diinjak dan diludahi sebagai kafir.
Manusia-manusia tamak pun bermunculan. Mengaku-aku imam, menjunjung silsilah dan kegantengan, lalu kaya raya dengan jual-menjual ayat suci. Belum lagi permasalahan lama yang selalu dikubur: peng-Hindu-an kepercayaan-kepercayaan tradisi di Kalimantan, Sulawesi, Lombok dan Jawa. Mereka yang kecil, mau berteriak apa soal agama ke pembesar-pembesar bangsa ini sementara yang ditanya seolah tak punya agama.
Terkadang memang tidak berlebihan jika kita mencari jalan keluar masalah kenegaraan dengan cara keagamaan. Namun dengan syarat, tingkat pemahaman terhadap agama benar-benar matang dan tidak memakai kacamata kuda mengacuhkan religiusitas liyan. Jika benar dipahami, konsepsi agama bersamaan dengan nilai-nilai di dalamnya lebih dari sanggup ikut urun-rembug menyelesaikan masalah-masalah bangsa. Oleh sebab itu, benar-benar saja ketika para agamawan bersatu mengeluarkan petisi pada pemerintahan Susilo (SBY). Atau mungkin dalam wacana lebih luas lagi: kaum agamawan bersama budayawan, ekonom, cendikiawan dan politisi mengeluarkan petisi 50 pada era Soeharto.
Mengutip pernyataan Munir, “Islam tidak menyuruh kita memerangi agama lain, tetapi memerangi satu model penindasan dan penciptaan pemiskinan secara tidak sah. Itu saya kira suatu hal penting untuk menjadi landasan Islam: membangun masyarakat dan peradaban”, atau yang demikian, “Ketika saya berani shalat, konsekuensinya saya harus berani memihak yang miskin dan mengambil pilihan hidup yang sulit untuk memeriahkan perintah-perintah itu, seperti membela korban, sebab saya telah menghadapkan wajahku”.  Dalam Hindu tak perlu diragukan lagi adanya pemahaman yang lebih tinggi mengenai individu dengan dunianya, semisal: Atmanam moksartham jagaddhitaya ca, yang berarti tujuan agama adalah untuk mencapai kelepasan, kebebasan atau kesempurnaan roh (moksa), kesejahteraan umat manusia, kedamaian dan kelestarian dunia (jagaddhita). Dalam Kristen, terdapat ajaran cinta kasih yang dengan mengasihi sesama manusia berarti mengasihi Tuhan sehingga kesejahteraan yang adil antar sesama adalah jalan untuk menyembah-Nya. Lebih-lebih pada agama Buddha, sungguh memalukan jika menyangsikannya bahwa kitab Sutasoma karya Mpu Tantularan yang berisikan kalimat Bhinneka tunggal ika, tana hana dharma mangrowa (Kakawin Sutasoma, pupuh 139, bait 5) adalah karya sastra bernafaskan ajaran Buddha. Demikian sedikit bukti betapa kuatnya nilai-nilai yang dibawa agama akan menjadi sangat berguna membangun negeri ini, tentunya dengan pemahaman yang benar dan hati yang mulia.

II
            Indonesia adalah negeri penuh dilema. Negeri yang memiliki nilai-nilai religius yang luhur, memiliki kearifan budaya, namun miskin dan sengsara. Sebelum lahirnya Kristus,  jauh sebelum Muhammad, masyarakat negeri ini sudah mampu mengolah garam dan padi. Terkenal kaya akan damar, cengkeh, kayu manis, dan rempah-rempah lainnya. Tetapi lucu, dua ribu tahun kemudian mengimpornya dari negeri-negeri jiran.
            Indonesia yang ancient telah terjebak ke dunia yang civilized. Ketika menerima dan masuk ke dalam civilization, peradaban menurut Barat, artinya siap hidup di dunia yang air saja dijual. Mungkin 10-20 tahun lagi, udara bisa jadi diberi merek dagang. Dunia ini dibentuk dari serangkaian institusi. Dari institusi-institusi politik, hukum, keuangan, bahkan institusi agama merupakan institusi-institusi yang menginstitutkan kelas-kelas sosial, nilai-nilai keluarga, hirarki militeris, sampai spesialisasi keterampilan individu. Dan di sini, kekuatan politik dikendalikan sirkulasi uang. Inilah sebuah kurun di mana manusianya tidak lagi menilai suatu barang berdasar ongkos produksi, melainkan atas kecenderungan pasar.
            Pertengahan tahun 1997, krisis finansial melanda Asia. Ada kisah menarik di masa-masa itu. Badai krisis finansial Asia waktu itu jika ditinjau struktural sebenarnya dipercaya tidak memberi dampak berat bagi Indonesia. Negeri kita memiliki inflasi yang rendah, perdagangan surplus lebih dari US$ 900 juta, cadangan devisa di atas US$ 21 miliar, dan sektor perbankan yang baik. Tetapi keserakahan menghancurkan kekuatan ini. Pada saat itu pemerintah menerapkan sistem nilai tukar mengambang terkendali (managed floating exchange rate) dengan mendepresiasi rupiah. Kebijakan ini memberi posisi aman kepada rupiah sampai gaung-gaung keserakahan diteriakan. Entah atas pertimbangan apa, yang tentunya dengan perhitungan ekonomi, dan entah untuk keuntungan siapa, pemerintah mengikuti saran IMF menerapkan free-floating exchange rate sebagai ganti. Maka, tiba-tiba saja pada 14 Agustus 1997 perekonomian yang dibangun selama tujuh kali Kabinet Pembangunan dan lima kali Repelita hancur begitu saja, seakan kita kembali ke tahun-tahun 1960an. Rupiah melemah terhadap dolar, terus merosot drastis. Dari yang hanya Rp 2.100-2.300/US$ (1996) melorot menjadi Rp 4.600/US$, bahkan pernah mencapai Rp 15.000-17.000/US$ (1999). Bisa dibayangkan bagaimana imbasnya. Pertama pada pemerintah dan perusahaan-perusahaan swasta ataupun nasional. Utang-utang jatuh tempo mereka tiba-tiba saja meningkat lima kali lipat dan tentu saja tidak ada yang sanggup membayar. Mereka yang pada awalnya hanya meminjam US$ 10 juta dengan kurs Rp 2000/US$ (Rp 20 miliar) harus mengembalikan Rp 1 trilyun. Walau untung dua kali lipat pun, perusahaan itu tak akan sanggup membayar. Tidak berhenti di situ, rakyat jadi kena getahnya, 20 juta orang menjadi pengangguran mendadak.
            IMF hadir tanpa dosa dengan menawarkan pinjaman US$ 43 miliar diikuti perjanjian ekonomi yang dikenal Letter of Intent. Negeri ini sedang kalut, tanpa basa-basi Soeharto menandatanganinya pada 20 Januari 1998.
            Jika kita mengingat sejarah, John Adams pernah mengingatkan, “There are two ways to conquer and enslave a nation. One is by the sword. The other is by debt”. Utang memperbudak Indonesia dengan IMF sebagai tuannya. Letter of Intent yang sudah ditandatangani akhirnya menjelma menjadi kebijakan negara yang kita kenal sebagai GBHN Super. Kebijakan ini tidak dipresentasikan di hadapan DPR/MPR untuk disetujui, ditolak atau diperbaiki.
Tidak perlu disebutkan kesemuanya, salah satu isi GBHN Super tersebut adalah: Pemerintah akan mencabut larangan investasi asing di perkebunan sawit mulai 1 Februari 1998. Larangan investasi asing di bidang eceran dan pedagang grosis akan dihapus sebelum Maret 1998 (Reformasi Struktural, poin 5-6). Dengan dilaksanakan kebijakan ini, maka hadirlah ‘yang terhormat’ Carrefour (Prancis), Superindo (Belgia), sampai Indomaret (Indofood Group yang 50%-nya milik CAB Holdings dari Amerika) atau Alfamart (70% saham milik PT. HM Sampoerna yang adalah milik Philip Morris - Amerika) yang menghancurkan pasar tradisional dan toko-toko klontong. Ingat, ini hanya imbas dari satu-dua poin dari Letter of Intent tersebut, belum masalah perjanjian penebangan hutan, perkebunan sawit, pertanahan, ataupun perbankan.

III
Saya tidak pernah yakin bangsa ini remuk karena permasalahan ekonomi, atau karena korupsi dan haus harta. Permasalahannya terlalu rumit, sampai mahasiswa-mahasiswa bersemangat baja saja seolah tidak bisa apa-apa membenahi bangsa ini selain dengan duduk diskusi dan melakukan aksi-aksi anarki, agar minimal argumen mereka masuk TV dan sampai di telinga ‘wakil’ mereka di Senayan. Itu pun cuma segelintir mahasiswa, sisanya hidup gaul, foya-foya dan bahagia seakan tidak terjadi apa-apa.
Demonstrasi sebenarnya hal yang lucu, masak rakyat itu harus demo. Berteriak-teriak di depan DPR atau kantor Walikota atau kantor Pemerintah, padahal yang mereka teriaki adalah bawahan rakyat kesemuanya, digaji rakyat. Kekuatan terorganisir yang ada karena permintaan rakyat: Mas, kowe tak pilih yo, ngewakili aku. Ngewakili desomu dewe, kampungmu dewe, majuo ben ora kakehan wong sing nyangkem.
‘Bawahan-bawahan’ itu dipilih sehingga nantinya ketika mereka dikumpulkan hasilnya adalah satuan wakil-wakil dari tiap daerah, satu kesatuan kecil. Perasan dari ratusan juta masyarakat Indonesia menjadi 560 orang saja. Menjadi parlemen sebagai suara Indonesia. Tetapi apa buktinya? Hanya kumpulan pecundang parlente, terkadang selebritis, yang dibayar tinggi dari urunan rakyat. Walau tentu ada satu-dua yang benar-benar tahu diri, namun lihat saja lahan parkir gedung DPR/MPR, pameran mobil mewah: dan bodohnya, mereka malah bangga.
Kemorat-maritan bangsa ini menurut ramalan Jayabaya datang dengan ditandai seperti: banyak orang yang saling menuduh, menyiarkan ilmu dari yang satu kepada yang lain, si pemberani mendapat tamparan, yang berlagak akan merangkak, siapa yang cerdas akan disambar, si kecil digencet, yang besar pangkatnya diejek, kaum buruh segan bekerja, si miskin makin sengsara, si penimbun kehilangan, yang nekat kasrakat, si butuh mengeluh, si rajin jatuh, yang timbul terpenggal, si gila diikat, si pengejek dijerat rantai, tukang serobot mendapat pukulan, si serakah mendapat hukuman yang setimpal, yang bersikap masa bodoh tercegah, yang berlagak mendapat cacat, siapa kikir pusing kepalanya. Intinya, di Indonesia terjadi kekacauan sosial dan semua kalangan mendapat akibatnya, yang kaya tidak tenang, yang miskin hidup telanjang; yang pintar dibodoh-bodohkan, yang bodoh dihina-hina.
 Di negeri ini kelamin berstatus lebih tinggi ketimbang kemaluan. Hasrat serta nafsu dilebih-lebihkan sepuasnya daripada akal dan kecerdasan berpikir. Saya beri contoh: Sedang ada pertandingan sepak bola di TV antara timnas melawan Prancis. Si A kebetulan lewat dan berkata, “Indonesia main ya? Halah, paling-paling kalah”. Kemudian si B juga lewat dan komentar, “Ayo Indonesia! Kita pasti bisa! AYO AYO!”. Si C yang sedang menonton ikut menyahut, “Kita? Kita ndasmu! Kowe mung melu bengok-bengok”. Pembicaraan tadi mewakili karakter masyarakat Indonesia yang mendahulukan buah pelirnya ketimbang pemikirannya. Jelas mereka berbeda, si A yang apatis, si B yang psedo-fanatis, dan si C yang realis. Kecuali mereka yang disebut suporter, kesemuanya dari ketiga karakter di atas tidak benar-benar memahami bagaimana hadir dan diakui menjadi atlet bangsa, yang setiap detik bisa dipuja ganti dihina, menjadi orang-orang yang turun langsung dengan keringat membela bangsa. Mereka manifestasi manusia instan yang paling cuma bisa menggerutu sambil bersorak di waktu bersamaan, tidak lebih. Ini salah satu contoh komposisi otak dan kelamin yang tidak seimbang. Terlalu bersemangat tapi tak mengerti apa yang disemangati. Orang seperti ini sering lupa untuk ikut berpartisipasi bagaimana membangun sesuatu menjadi lebih baik. Semisal membangun satu PSSI yang utuh: yang tahu memisahkan manejerial dan produksi; yang tahu keinginan pemain, bukan keinginan pemodal; yang bisa menyejukan hati suporter, bukan sirkulasi uang tiap pertandingan.
Perlu diingat, terutama bagi kita yang hanya bisa bersorak-sorak sebagai bukan atlet bukan suporter, di Iraq tahun 1980-1990an, ketika itu ketua Komite Olahraga Iraq dipimpin oleh Uday Saddam Hussein. Banyak atlet Iraq disiksa seperti binatang hanya karena gagal di pertandingan. Pemain timnas mereka dipaksa menendang beton di penjara negara karena gagal di Piala Dunia ’94. Atlet lainnya diseret di atas kerikil lalu direndam di kolam limbah hingga lukanya infeksi. Saat kekalahan melawan Jepang di AFC 2000, tiga pemain timnas disiksa tiga hari dalam penjara.
Berkaca kejadian di atas, sungguh betapa masih beruntungnya Indonesia mengingat ‘pemimpin’ negeri ini masih pengecut, walau status pemerintahannya berpredikat buruk dalam pelanggaran HAM. Tak perlu menjauh mengingat-ingat masa Orla ataupun Orba, di masa Gus Dur yang terkenal pluralis sejati terjadi kekacauan besar-besaran di Kalimantan. Perang adat antar etnis Dayak dengan Madura akibat kecemburuan sosial dan ketidakharmonisan komunikasi budaya. Ratusan orang tewas, ribuan lagi dipulangkan ke Madura dan perekonomian daerah sempat berhenti, disertai ketakutan di mana-mana. Kerusuhan antaragama di Maluku pada hari pertama Lebaran 1999 juga sama mengerikannya, masjid dan gereja luluh lantak disertai korban jiwa yang jumlahnya setelah satu dekade masih simpang siur. Di Papua, serangan-serangan dari warga setempat kepada TNI/POLRI bertubi-tubi sebagai unjuk ketidakpuasan mereka terhadap keadaannya. Di Jakarta, kerusuhan Semanggi yang membunuh empat mahasiswa berimbas kekacauan melanda ibukota di bulan November 1998.  Di Aceh, penembakan misterius yang berkali-kali menewaskan pegawai-pegawai asing perusahaan Exxon Mobil. Belum lagi pelanggaran HAM berat seperti di Timor Timur atau terhadap etnis Cina pada akhir rezim Orba.
Yang terbaru adalah di Mesuji, Lampung dan Sumatera Selatan. Di TV, seorang ibu setengah baya sambil tersedu-sedu berkata dengan miris, “Kami ini warga negara Indonesia, ini tanah kami. Lain kalau kami warga negara asing. Kami bisa saja lari dari Indonesia. Apa tidak malu bapak Presiden melihat warganya seperti ini?”. Pemberitaan ini begitu luas, jelas tidak mungkin para pemimpin negara tidak mendengarnya. Mungkin jika berhak menjawab, saya akan berkata kepada ibu tersebut, “Pemimpin-pemimpin kita malu kok, Bu. Cuman kemaluannya kalah besar sama kelaminnya. Mereka lebih mementingkan nafsu bergelimpangan harta dengan masuknya perusahaan-perusaahan sawit ketimbang mengurus rakyat miskin tidak produktif buat mereka seperti Anda”.
Hal serupa tidak hanya di Sumatera. Di Kalimantan, Papua, Sulawesi, biodiversitas hutan digantikan dengan jenis pohon kelapa sawit yang adalah bahan pokok untuk sabun, sampo, kosmetik,  menerkam jutaan hektar tanah setempat sekaligus membantai ekosistem. Perkara tanah adalah wilayah politik yang sensitif. Kepentingan rakyat dibenturkan dengan kehendak pemodal sekaligus nafsu ‘ingin kaya’ pejabat daerah. Lihat saja bagaimana masalah ganti rugi lahan ketika tanah rakyat hanya dipatok Rp 5000/meter2. Jelas rakyat menderita dan marah. Harga tanah tidak dihitung secara adil. Semestinya tanah rakyat (kalaupun setuju menjual) dihargai dengan nilai masa depannya, future value. Seberapa tinggi nilai tanah mereka di masa depan jika pembelinya akan mendirikan real estate di tanah itu? Rp. 5000/meter2 saja kah? Di mana posisi pemerintah kita? Bukan sebagai pelindung, seperti yang dikatakan UUD, namun sebagai penerima tamu yang mendapat uang saku bagi perusahaan-perusahaan multi nasional seperti Chevron, Freeport, Exxon, dll.
IV
Cita-cita Indonesia berdasar apa yang dirumuskan dalam Pancasila dan UUD’45 adalah: keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Kemerdekaan sebagai awal, sesuai dengan fungsinya, hanya sebagai pengantar ke depan pintu gerbang negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Salah satu contohnya terdapat di UUD’45 pasal 33 butir 3 yang berbunyi: Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.
Cita-cita negeri ini adalah menjadi sebuah negara kesejahteraan yang mengedepankan kemakmuran rakyatnya. Mencita-citakan Universalist Welfare State, yaitu rezim kesejahteraan sosial demokrat dengan jaminan sosial universal dan tingkat dekomodifikasi yang ekstentif seperti Norwegia, Denmark dan Finlandia. Kita tidak pernah berkeinginan memajukan petani Thailand atau Kamboja demi beras-beras mereka di atas kesejahteraan petani kita sendiri.
Menurut Soekarno pada pidato pembukaan Sidang Pengurus Besar Front Nasional, cita-cita Indonesia adalah menjadi suatu masyarakat tanpa exploitation de l’homme par l’homee. Suatu masyarakat yang tiap-tiap masyarakat Indonesia merasa bahagia. Suatu masyarakat yang tiada seorang ibu menangis oleh karena tidak bisa membeli susu bagi anaknya. Suatu masyarakat yang tiap-tiap orang bisa menjadi cerdas.
Indonesia mencita-citakan hirarki kehidupan yang memadukan kekuatan-kekuatan kita sendiri dengan kekuatan dunia luar tanpa perlu dibenturkan. Tatanan yang kolektif, bukan komunal; yang sadar, bukan dipaksakan. Tatanan yang menjunjung nilai-nilai keadilan, kemanusiaan, kerakyatan, kesetaraan, kesejahteraan, kebebasan dan solidaritas terhadap yang ditindas hegemoni maupun dominasi. Negeri ini mencita-citakan paham sosialisme baru yang membawa pembaharuan bagi Moskow dan Beijing, suatu paham sosialisme yang menentang kediktaktoran kelas, tetapi tetap menghargai dan mengakui sistem kasta dalam tradisi. Tetap menunduk jika lewat di depan orang tua, juga meredah di hadapan raja. Suatu paham ideal bagi negeri seperti Indonesia, yang tidak menganggap feodal dan monarki sebagai musuh, namun sebagai legacy cultural yang menjadi identitas bersama. Tidak benar jika kita berpandangan hitam putih pada hal seperti ini. Dengan begini, simbol-simbol monarki dipertahankan sebagai manifestasi kehadiran leluhur masa lalu di masa sekarang, sehingga kita tak perlu memakai identitas kosmetik: kepura-puraan belaka, memakai identitas budaya asing.
Paham sosialisme ke-Indonesia-an tidak berkeinginan memodernkan rakyatnya tetapi menyadarkan kehadiran sesama. Kita perlu memahami dengan cara lain mengenai definisi civilization, bahwa peradaban bukan berarti berdasi, pantalon dan sepatu kulit. Beradab (al-adab, bahasa arab dari sopan santun/budi pekerti) adalah sadar budaya, mengakui keberadaan diri sendiri di tengah-tengah sosial, mengenali pagar-pagar budaya, memahami masa silam dalam adat istiadat. Apalah gunanya memuja nomor antrian tapi tidak mendahulukan nenek-nenek tua hanya karena si nenek lebih lambat datangnya. Kita bukan bangsa yang sok rasional, menolak hal-hal magis dengan menyebutnya metafisik. Kita harus akui, kita adalah bangsa masa lalu yang tiba-tiba merdeka membuka mata melihat apa saja, termasuk kecanggihan masa depan. Kita harus perlahan-lahan sadar dan paham posisi kita di semesta ini.
Untuk sampai pada cita-cita tersebut membutuhkan satu masyarakat yang dewasa (satu, bukan terpecah-pecah dua atau lebih). Dewasa dalam infrastruktur, struktur dan suprastruktur. Tentu terlebih dahulu dibutuhkan ikatan bersama sehingga menjadikan berbagai etnis, agama, kelompok dan ideologi menjadi satu. Untuk menjadi masyarakat yang paham diperlukan individu-individu yang berjiwa merdeka.
Walau banyak yang menyayangkan, keputusan memilih merdeka segera selepas kekalahan Jepang dari Sekutu adalah jalan pertama meraih ikatan massal tersebut. Perlu diketahui, pada masa itu sesungguhnya hanya kurang dari sepertiga masyarakat Hindia Belanda yang memilih merdeka. Rakyat lebih percaya tangan Belanda daripada tangan pemuda bangsa untuk bangkit dari masa kritis pascapendudukan Jepang. Di golongan elite sendiri terpecah pilihan antara mana yang lebih dahulu dilaksanakan: revolusi nasional, revolusi sosial, atau revolusi mental.
Bagi beberapa tokoh yang berpandangan jauh ke depan, mereka percaya dengan revolusi mental didahulukan, mencerdaskan masyarakat di segala strata, membawa kaum muda belajar ke Belanda, dan kemudian memiliki jiwa/mental kebebasan adalah jalan yang lebih tepat ketimbang terburu-buru merdeka. Revolusi mental diandaikan sebagai suatu perubahan sikap, nilai dan falsafah sosial guna menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman agar meraih kemajuan dalam segala bidang kehidupan. Para tokoh itu mungkin berpikiran pemerintahan baru yang lepas dari pemerintahan sebelumnya, dengan membawahi ratusan etnis dan bahasa akan mudah terpercik api jika mental masyarakatnya belum kokoh terbangun menjadi masyarakat yang dewasa. Lima puluh tiga tahun kemudian, kekhawatiran mereka terbukti.
V
Negeri dengan rakyat pengecut membutuhkan pemimpin penakluk. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang menaklukan hati rakyat bukan dengan menyebarkan ketakutan, melainkan dengan penawaran kesejahteraan, jaminan, serta keterlaksanaannya. Selepas masa Orba, penawaran kesejahteraan kepada rakyat sangat membeludak. Berbagai media dipakai hingga pohon-pohon di jalur hijau batangnya berlumuran lem demi jargon-jargon politik mereka. Tetapi sayangnya, jaminan dan keterlaksanaan dari apa yang mereka tawarkan tak kunjung terbukti walau sudah satu dekade lebih reformasi berjalan.
Walau sudah memberi empat presiden sepanjang reformasi, rakyat Indonesia masih merasakan krisis kepemimpinan. Krisis ini terjadi karena dua hal mendasar, yaitu (1) Apa yang diinginkan rakyat tidak sesuai dengan yang dihadapi, tidak ada keadilan dalam artian keseimbangan antara das sein (senyatanya) dan das sollen (seharusnya); dan (2) Ketidakmampuan pemimpin menyamakan pemahamannya dengan pemahaman rakyat. Bagaimanapun juga pemimpin harus mampu membaca rumusan hukum-hukum yang ada di balik sosial yang dipimpinnya. Pemimpin adalah simbol, yaitu something stand for something else, yang memiliki makna sesuai kehendak pemakainya.
Seorang pemimpin yang mampu memaknai dirinya sebagai simbol, akan tahu yang dibutuhkan adalah fusi antara dirinya dengan rakyatnya, sekaligus menghindari defusi. Fusi bukan berarti percampuran atau asimilasi atau apapun itu. Fusi diartikan sebagai penyatuan yang tidak mereduksi apapun dari kedua hal yang disatukan. Maka dengan demikian akan mampu menghadirkan keadaan ideal bagi kedua pihak. Tetapi sebelum jauh melakukan suatu tindakan fusi, rakyat harus memilih pemimpin mana yang tepat untuk ber-fusi.
Mutu seorang pemimpin dapat dilihat dari dua hal, yakni dari gagasan dan aksinya. Bentuk materil dari gagasan, yang dapat terlihat kasat mata, adalah bahasa. Pilihan kata di saat-saat impulsif, yang lahir tiba-tiba, adalah contoh yang paling pas. Pilihan kata dan rangkaiannya dapat menunjukan seberapa cerdas pribadi itu berpikir, sehingga memperlihatkan level substansi gagasan di otaknya. Contoh sederhananya adalah dengan melihat seberapa tinggi bahasa metafora yang dipakai. Pemahaman seseorang tentang metafora dapat menunjukan bagaimana pikiran pararelnya bekerja memaknai jentik kehidupan dan menemukan kesamaan dengan kenyataan di depan matanya. Soekarno adalah contoh yang sempurna. Metafora-metaforanya seperti: “Seperti rotan, saya hanya melengkun tapi tidak patah”, atau “Bebek berjalan berbondong-bondong, akan tetapi burung elang terbang sendirian”, atau “Kami menggoyangkan langit, menggempakan darat, dan menggelorakan samudera agar tidak jadi bangsa yang hidup hanya dari 2 ½ sen sehari. Bangsa yang kerja keras, bukan bangsa tempe, bukan bangsa kuli. Bangsa yang rela menderita demi pembelian cita-cita”. Bandingkan dengan metafora à la Megawati yang sederhana, kalau tidak bisa dibilang dangkal: “Sudah meledak-meleduk, kok baru sosialisasi”, atau “Sudah diam mulut saya selama ini tapi lama-lama tidak tahan juga. Mengurusi gas saja kok susah ya? Tiap hari ada yang bledos.”
Sementara pada soal ekspresi aksi, saya beri contoh antara Susilo dan Sjahrir. Aksi/tindakan politis Susilo yang kala itu seolah-olah ikut terlibat merasakan sepenanggungan, sama-sama menjadi korban, yaitu dengan menunjukan foto-foto latihan teroris yang menjadikan wajahnya sebagai sasaran tembak. Ekspresi Susilo begitu muram, terkesan tidak intelek, dan seolah tidak mau disalahkan. Padahal ketika itu Indonesia sedang dilanda demam terorisme dan membutuhkan sosok pemimpin yang melindungi.
Bandingkan dengan aksi/tindakan politis Sjahrir yang cerdik, menarik sekaligus menggelikan. Panjang akal mempermainkan kondisi yang sedang kelam, dan menunjukan selera humor yang baik. Adalah kisah ketika intervensi Belanda (1946) lewat propagandanya menyatakan rakyat Indonesia menderita kelaparan. Kurun itu kekuatan militer Belanda memblokade pulau Jawa dan Madura. Dengan cerdik, Sjahrir mematahkan muslihat ini. Ia menawarkan beras kepada rakyat India yang sedang mengalami bencana kelaparan, asalkan ada kapal yang datang mengambilnya di Jawa. Otomatis India yang waktu itu di bawah kekuasaan Inggris mengirimkan kapal menembus blokade Belanda. Siasat ini mematahkan opini dunia atas propaganda kelaparan sekaligus membuka blokade oleh Belanda. Walau tentu kedua contoh yang diangkat dan dibanding tidak merepresentasikan keseluruhan mutu pribadi tersebut, namun ada baiknya kita melihat perbedaan jelas mana hitam dan mana putih dengan contoh tadi.
Pola pemahaman tingkat tinggi, pikiran cerdas, berpengetahuan luas, dan pergaulan lugas, serta selera humor yang berkelas adalah ciri-ciri pemimpin yang bagus. Pemimpin yang tidak hidup mewah dan bukan jenis pemalas. Pemimpin sejenis inilah yang diperlukan untuk membangun Indonesia yang kuat di kabut tebal masa depan dunia yang semakin suram, dengan demokrasi sebagai jalan dan sosialisme sebagai lentera sehingga tercapailah negeri kesejahteraan yang dicita-citakan. Jika kita mempercayai jalan demokrasi, tetapi buta karena tidak punya lentera, kita hanya bergerak tanpa arah tujuan. Seperti perkataan filsuf Prancis, Jean Jacques Rousseau ketika mengomentari kejatuhan Romawi, “Demokrasi itu ibarat buah, sangat baik buat pencernaan. Tetapi hanya lambung yang sehat yang mempu menerimanya”. Kita sebagai negara memiliki instrumen politik modern yang lengkap. Kita punya banyak partai, kita punya dewan rakyat/parlemen, kita punya mahkamah konstitusi, kita punya lembaga kepresidenan, kita punya kabinet, kita pun melaksanakan pemilihan umum yang bebas jujur adil. Tetapi kita gagal memiliki pribadi yang sehat yang mampu memainkan instrumen-instrumen ini dengan sempurna.
Demokrasi sampai kapanpun hanyalah sebuah alat, media, jalan beraspal, dan jelas-jelas bukan sebuah tujuan. Negeri ini dibangun tidak dengan cita-cita menjadi demokrasi, yang menjadikan rakyatnya berkuasa. Cita-cita negeri ini adalah menjadi negara yang rakyatnya berdaulat dengan demokrasi sebagai way of life.
VI
Kita tidak boleh dan tidak akan bisa menyangkal bahwa kita adalah ras yang melahirkan kata dan cerita. Kita memproduksi banyak budaya daripada yang mampu kita cerna. Kita adalah bangsa yang besar berharap, kecil bertindak; banyak mimpi, minim diskusi; besar kelamin, kecil kemaluan. Maka itu jangan hendaknya dilupakan wejangan pujangga Ronggowarsito dalam suratnya Djoko Lodang, “Djoko Lodang nabda malih, nanging ana marmanipun ing weca kang wus pinasti, estinen murih kalakon! ... Tinemune wong ngantuk anemu ketuk, malenuk samargi-margi, mulane bungah kang nemu, margo jeroning ketik isi, kancana sosotya abyor”. Artinya (kurang lebih), “Tetapi, lanjut Djoko Lodang, setelah zaman prihatin itu berakhir, maka pasti datang zaman keemasan, zaman yang gilang gemilang, dan pesanku: Usahakanlah terlaksana! ... Orang yang mengantuk di sepanjang jalan akan girang menemukan ketuk (nama salah satu bagian gamelan Jawa), yang berisikan permata berkilau-kilauan.
Ingat bahaya sudah di depan mata. Masyarakat sudah tidak lagi percaya pemerintahnya, kesemua pergumulan diselesaikan dengan cara-cara civilized negatif. Polisi menjadi bagian dari penguasa, fenomena masyarakat merasa tidak aman jika di dekat polisi. Komisi Pemberantas Korupsi malah dihakimi. Rakyat ditindas, rumah-rumah digusur, pekerjaan hanya untuk golongan tertentu. Pabrik-pabrik multi nasional dibangun, sawah-sawah rakyat dijajah. Bahkan sawah ladang yang tersisa hasil panennya tidak diakui pemerintah yang lebih percaya beras/gula impor dengan alasan ketahanan pangan.
Bang bang tut, pepaya kolang-kaling. Bambang dan Tutut, bapaknya raja maling. Masih ingat syair itu? Yang diteriakan berulang-ulang oleh mahasiswa yang marah. Saya takut ini berkumandang lagi dengan gubahan kata dan tujuan pelampiasannya.
Rakyat terlalu banyak dikorbankan. Mereka lari ke luar negeri untuk mencari uang kena batunya disiksa majikan. Pemerintah tidak bisa dan tidak mau berbuat apa-apa. Pers sebagai media juga sudah beralih fungsi demi kepentingan pemodal. Kaum intelektual diacuhkan, kaum agamawan dihiraukan, sampai-sampai mahasiswa bakar diri di depan istana negara hanya menjadi bahan tontonan komersial (sekaligus dihina oleh sesamanya mahasiswa, tentu yang menghina lebih bodoh derajatnya). Pembela kemanusiaan dihabisi, orang utan pun juga. Apa yang ada dan sedang berlangsung sebagai bentuk penyengsaraan rakyat adalah gejala untuk kita waspadai akan terjadinya eruption kemarahan rakyat terhadap pemerintahnya sendiri.
Dua-tiga tahun lagi (2013-2015), bayang-bayang kekacauan massal itu akan terlihat semakin tegas mengingat Pemilu akan dilaksanakan berbarengan dengan kegerahan rakyat yang semakin memuncak. Kita tidak mengharapkan itu terjadi. Tentu kita menginginkan suatu sanctum sanctorum tranquilis in undus, yaitu suatu pulau maha keramat, aman, tenang, tentram, di tengah-tengah gelombang. Kita sama-sama ingin hidup aman tanpa kebencian dan permusuhan. Maka dari itu mari bersama-sama sadar dan ikut menyumbangkan perdamaian dengan merubah diri sendiri, memperkecil kelamin dan memperbesar kemaluan.
Syahdan, sebagai penutup saya kutip pidato Perdana Menteri Indonesia pertama, Sutan Sjahrir, ketika dibebaskan dari penculikan di Solo. Ia berkata, “Percayalah bahwa penyelesaian nasib bangsa kita hanya akan ditentukan oleh orang-orang berhati besar, kuat, dan jujur, serta bercita-cita tinggi dan murni.”
***
Yogyakarta, 22 Desember 2011
(Dua hari kemudian terjadi kerusuhan besar di Bima, NTB. Tulisan ini didedikasikan sebagai dukungan bagi mereka.)


http://ugm.academia.edu/OlavIban/Papers/1247971/Indonesia_Negeri_yang_Besar_Kelamin_daripada_Kemaluan
Daftar Pustaka
Agama Kita. Djam’annuri, 2002.
Benturan Antarperadaban dan Masa Depan Politik Dunia. Samuel P. Huntington, 2007
Catatan Hitam Lima Presiden Indonesia. Ishak Rafick, 2008.
Mitos Pribumi Malas. S.H. Alatas, 1988.
Mengenang Sjahrir. Rosihan Anwar, 2010.
Peranan Ramalan Djojobojo dalam Revolusi Kita. Tjantrik Mataram, 1960.
Sosialisme Indonesia. Ruslan Abdulgani, 1961.
Teori Budaya. David Kaplan dan Robert A. Manners, 2002.

Perang Terhadap Zionisme dan Terrorisme



Masih segar dalam ingatan kita tatkala tragedi 9/11 mengguncang Amerika. Sebuah pesawat menabrak, gedung WTC terbakar, lalu runtuh secara vertikal, ribuan orang berteriak histeris, pasukan keamanan melakukan penyisiran. Semuanya berlangsung singkat bagaikan menonton sebuah pertunjukan film Hollywood. Tragedi itu mengundang kesedihan yang mendalam bagi rakyat Amerika.
Setiap orang yang mempunyai perasaan sensitif terhadap rasa kemanusiaan mengutuk keras aksi terorisme yang konon menelan ribuan jiwa itu. Berbagai kecaman dan tuduhan pun langsung diarahkan pada kaum ‘Islam Fundamentalis’ Dengan serta merta, seluruh media Barat menyebut tragedi itu, sebagai aksi ‘terorisme Islam’.
Selanjutnya perhatian dunia pun beralih ke negeri Paman Sam, setelah sebelumnya mata dunia menyoroti parade kekejaman Zionis Israel di Palestina.
Upaya Zionis Israel untuk keluar dari tekanan dunia internasional akibat ulahnya membunuhi ribuan rakyat sipil Palestina nampaknya berhasil, meskipun harus dilakukan dengan mengorbankan rakyat Amerika. Setelah negara-negara di dunia mengecam tindakan sadis Zionis Israel kepada penduduk Palestina, maka mereka mengalihkan kecaman negara-negara tadi kepada rival-rivalnya. Segala upaya dilakukan Zionis Israel meski harus membuat skenario tragedi bagi bangsa Amerika.
Dan memang skenario jitu kaum Zionis berhasil, drama berjudul “WTC 9/11” itu berbuah manis. Stempel ‘terrorisme Islam’ yang berhasil diperoleh dari lakon tersebut semakin memudahkan mereka menebar petaka hebat di seluruh dunia. Dengan dalih memerangi ‘terrorisme Islam’, Zionis Israel memperluas aksi-aksi terorisme dan menghantam rival-rival mereka. Target berikutnya adalah negara penakluk Super Power Russia, yaitu Afganistan. Sebuah negeri miskin yang 95% penduduknya adalah buta huruf, konon adalah markas dedengkot terorris Osama bin Laden. Akan tetapi, pemeran utama atas lakon di Afgan adalah Paman Sam, negeri yang nota bene merupakan ‘adik kandung’ Zionis Israel. Dan hanya dalam hitungan hari, Afghanistan pun porak-poranda.
Tak puas dengan serangan ke Afghanistan, mereka berpaling ke Irak. Tuduhan awal dimulai dengan pernyataan bahwa Irak menyimpan dan memproduksi senjata pemusnah massal. Opini dibentuk, kekuatan sekutu dikonsolidasikan. Baghdad nyaris rata. Bangunan-bangunan penuh sejarah peninggalan peradaban Islam ‘disikat’ habis. Sementara AS dan sekutunya menggempur Irak, Zionis Israel terus melancarkan agresi militernya terhadap rakyat sipil Palestina. Dan seperti biasa, PBB menjadi penonton yang baik.
Pembantaian masal dengan mengerahkan kekuatan militer yang dilakoni kaum Zionis atas dunia Internasional semakin meluas. Peran utama pun dikembalikan kepada pemeran utama sesungguhnya yaitu Zionis Israel dan targetnya adalah negara tetangganya sendiri, yaitu sebuah negara miskin bernama Lebanon. Dan memang, Zionis Israel selalu saja mencari-cari alasan untuk menyerang Lebanon, karena ini bukan yang pertama kali. Mereka sudah merencanakannya selama 1,5 tahun lalu untuk mencari alasan dan waktu yang lebih tepat dalam melancarkan serangan.
Dengan dalih menyelamatkan dua tentaranya, aksi terrorisme Zionis berlanjut. Kekekuatan militer yang luar biasa diarahkan berbagai target sasaran, serangan brutal dilancarkan, korban pun berjatuhan. Agresi militer besar-besaran membombardir pusat-pusat kota yang diklaim menjadi markas militan Hezbollah, tentunya dengan dukungan all-out dari Amerika Serikat.
Pengeboman siang dan malam terus berlangsung begitu sadis, tanpa pernah memperpedulikan korbannya, rakyat sipil, jurnalis atau tenaga kerja asal luar negeri sekalipun.
Apa yang dilakukan oleh Zionis Israel lewat aksi-aksi terorismenya atas dunia internasional sungguh perbuatan paling biadab dan merupakan kebiadaban paling keji sepanjang sejarah manusia. Korban dari rakyat sipil berjatuhan setiap harinya, mereka dibantai secara keji, diluar batas-batas kemanusiaan. Sungguh sangat disayangkan, masyarakat dunia sampai sekarang masih menonton saja.

Seruan Jihad

Sesungguhnya hakikat permusuhan dan peperangan kita terhadap Zionis Israel bukan karena mereka bangsa Semit. Permusuhan itu bukan pula karena agama “Yahudi” mereka (Israel). Karena agama Yahudi adalah termasuk agama samawi yang telah dibawa oleh Rasul Allah Musa Alaihissalaam. Pada hakikatnya motif pertikaian dan permusuhan kita dengan Zionis Israel, yaitu karena mereka (Israel) telah mengobarkan api peperangan di mana-mana, merampas tanah warga Palestina, merampas kehormatannya dan membantai penduduk tak berdosa secara keji, dan biadab.
Jihad terhadap Zionisme dan terorisme akan terus dikobarkan selagi masih ada sebab-sebab tersebut, perdamaian akan selalu ditolak mentah-mentah, karena upaya itu berarti pengakuan terhadap eksistensi negara Israel di tanah Palestina. Haram hukumnya bagi seorang Muslim melepaskan tanah Islamnya walau hanya sejengkal. Adalah omong kosong bahwa proklamasi berdirinya sebuah negara Israel atas dasar “hak alamiah” atau “hak historis” mereka. Karena menurut sejarah, bangsa Yahudi bukanlah penduduk pertama Palestina, pun mereka tidak memerintah di sana selama masa pemerintahan bangsa-bangsa lain. Para Arkeolog modern telah sepakat bahwa bangsa Mesir dan bangsa Kana’an telah mendiami Palestina sejak masa-masa paling kuno yang dapat dicatat, sekitar 3000 SM hingga sekitar 1700 SM. Juga merupakan omong kosong bahwa “sertifikat kelahiran” Internasional Israel disahkan oleh janji dalam Al-Kitab. Karena klaim-klaim semacam itu memang sangat lazim ditemukan di masa kuno, sebagaimana bangsa-bangsa Sumeria, Mesir, Yunani dan Romawai, menyitir wahyu-wahyu Ilahi untuk penaklukan-penaklukan mereka.
Oleh karena itu usaha-usaha Zionis Israel dalam menteror negeri-negeri Islam, me-Yahudi-kan Al-Quds, menebar petaka di mana-mana, menghancurkan kedamaiannya, haruslah dilawan! Peperangan yang dilakoni oleh kaum Muslimin terhadap Zionis itu adalah demi kebenaran, menegakkan keadilan, dan melenyapkan kezhaliman. Membebaskan tanah Palestina, negeri-negeri Islam dari cengkraman Zionis Israel dan menyelamatkan warganya dari kehancuran, adalah termasuk perang fisabilillah, sebagaimana firman-Nya : “Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir perperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syaitan itu, karena sesungguhnya tipu daya syaitan itu adalah lemah.” (QS. An-Nisa :76)
Memang sebagai Muslim kita harus menyerukan perdamaian, bukan menyulut peperangan. Akan tetapi mengarungi peperangan untuk membela diri, lingkungan, masyarakat dan tanah suci, maka ini adalah perang di jalan Allah. Apabila kita mengakhiri permusuhan ini tanpa peperangan, sebagaimana dalam peristiwa perang Khandaq, maka Al-Qur’an mengomentarinya dalam Surat Al-Ahzaab ayat 25. “Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan, (lagi) mereka tidak memperoleh keuntungan apapun.Dan Allah menghindarkan orang-orang mu’min dari peperangan.Dan adalah Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (QS. Al-Ahzaab :25)
Kemudian Al-Qur’an juga mengatakan pentingnya perdamaian dan berlindung dari perangan : “Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan ertawwakallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Anfaal :61)
Akan tetapi Zionis Israel tidak ada keinginan sedikit pun untuk berdamai, karena berdamai berlawanan dengan tabiat dan keinginan mereka. Hal ini telah mereka buktikan sendiri kepada dunia Internasional tatkala membombardir bukit Qana, akhir Juli lalu, membunuh sedikitnya 60 orang termasuk di dalamnya wanita dan anak-anak.
Apa yang dilakukan Zionis Israel terhadap warga Palestina dan Lebanon hingga saat ini, adalah suatu kejahatan yang sangat keji yang sangat bertentangan degan alasan apa pun. Tragedi pembantaian, pengusiran, dan penghancuran terhadap warga Palestina dan Lebanon di tanah kelahiran mereka dalam dua minggu terakhir ini adalah merupakan bukti bahwa Zionis Israel tidak menginginkan perdamaian. Dan kita sebagai umat Islam kita berkewajiban untuk menyelamatkan saudara-saudara kita dari ancaman terorrisme Zionis Israel, karenanya tindakan-tindakan kongkrit berikut ini dapat kita lakukan sebagai jihad fisabilillah:
  1. Menyerukan kepada seluruh umat dan negeri-negeri Islam agar bersatu melawan Zionis Israel. Jihad dapat dilakukan cara mengirimkan pasukan, menggalang dana dan mengirimkan bantuan serta do’a kepada saudara-saudara Muslim kita di sana.
  2. Mendukung pemerintah Indonesia agar lebih aktif dalam menyesaikan konflik di Timur Tengah dan menyerukan kepada pemerintah agar Indonesia segera keluar dari keanggotaan PBB. Karena PBB telah terbukti mandul dan tidak bisa berbuat apa-apa dalam mewujudkan perdamaian di sana. Dukungan terhadap pemerintah ini dapat dilakukan dengan melakukan aksi demonstrasi dan penggalangan opini di media massa.
  3. Mendukung upaya pemerintah dalam rangka menjalin dan mempererat kerjasama bidang Ekonomi dengan Malaysia, serta berjuang keras untuk segera bangkit dari ketepurukan ekonomi dalam negeri dan melepaskan diri dari susuan Amerika, dengan membangun perekonomian rumah tangga dan masyarakat.
  4. Memboikot semua produk Israel-Amerika, dengan menahan diri untuk tidak membeli semua produk mereka. Ini harus dilakukan secara massal oleh seluruh umat Islam di seluruh dunia, sebagai wujud dukungan kongkrit yang bisa dilakukan oleh masing-masing individu Muslim.
“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kalian sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambatkan untuk berperang; (yang dengan persiapan itu) kalian menggentarkan musuh Allah, musuh kalian, dan orang-orang selain mereka yang tidak kalian ketahui sedangkan Allah mengetahuinya.” (QS. al-Anfal :60).
Wallahua’lam

Sumber

Tangis Sang Proklamator untuk Sepak Bola Indonesia

PLEIN van Rome, lapangan luas yang terletak di alun-alun Kota Padang, menjadi saksi bisu kecintaan Bung Hatta terhadap sepak bola. Semasa hidupnya, Wakil Presiden RI pertama itu merupakan salah satu tokoh nasional yang menggemari olahraga tersebut. Melalui kepengurusan sepak bola saat bersekolah di MULO jugalah Hatta pertama kali belajar untuk berorganisasi hingga sebutan "Bapak Koperasi" disematkan kepada dirinya.
Di masa remaja, Hatta sempat bergabung dalam klub sepak bola bernama Young Fellow. Meski berisi sejumlah anak Belanda, Hatta mampu tampil menonjol dan mampu memberikan prestasi. Juara Sumatera Selatan selama tiga tahun berturut-turut serta julukan "Onpas Seerbar" (Sukar Diterobos) dari orang Belanda adalah bukti kehebatan Hatta dalam sepak bola.
"Saya bermula bermain sepak bola di tanah lapang, dengan memakai bola biasa yang agak kecil ukurannya, bola kulit yang dipompa. Saban sore pukul 17.00, saya sudah di tanah lapang. Kalau tidak bermain sebelas lawan sebelas, kami berlatih menyepak bola dengan tepat ke dalam gawang dan belajar menembak ke gawang," tulis Hatta dalam buku Untuk Negeriku: Sebuah Otobiografi.
Salah seorang teman Hatta, Marthias Doesky Pandoe, wartawan kelahiran Padang, dalam buku Hatta: Jejak yang Melampaui Zaman, disebut menyimpan banyak kenangan semasa Hatta masih remaja. Menurut Marthias, sejumlah teman Hatta yang pernah ditemuinya sering bercerita bahwa Sang Proklamator itu adalah gelandang tengah yang cukup tangguh.
Bahkan, kegemaran Hatta pada sepak bola berlanjut ketika dirinya menjadi salah satu tokoh politik penting dalam sejarah Indonesia. Dia tidak pernah absen menonton sejumlah pertandingan besar. Ketika diasingkan oleh kolonial Belanda ke Boven Digul pada 1935, ia bersama Sutan Sjahrir masih menyempatkan bermain sepak bola.
Hatta juga sempat membuat Bung Karno terpojok dan keteter saat beradu argumentasi mengenai kekalahan PSSI saat melawan kesebelasan Aryan Ghimkanna dari India di Stadion Ikada (sekarang Monas). Guntur Soekarno Putera yang ikut menonton pertandingan itu, dalam buku Pribadi Manusia Hatta, seri 10, lantas menyematkan judul "Nonton Bola, Apa Tafakur?" untuk menggambarkan keseriusan Hatta dalam urusan sepak bola.
Hingga hari tuanya, sepak bola pun masih menjadi bagian hidup Hatta. Pada awal 1970-an, saat Pandoe berkunjung ke rumah Hatta, tuan rumah berkata, "Di mana letak Plein van Rome sekarang?" Pandoe pun menjawab bahwa lapangan bola tersebut masih ada, tetapi kini telah menjadi alun-alun Kota Padang. Namanya sudah berganti menjadi Lapangan Imam Bonjol, yang berlokasi tepat di Kantor Balaikota Padang.
Semangat Nusantara
Dari sepenggal cerita tersebut, pasti timbul pertanyaan bagaimana jika Hatta melihat kondisi sepak bola nasional saat ini. Sebagai pencinta sepak bola sejati, Hatta pasti sedih dan mungkin saja menitikkan air matanya. Hal ini bukan tanpa alasan. Pasalnya, jika kita tarik ke belakang, sepak bola di masa Hatta, menjadi semangat tersendiri bagi anak bangsa. Kala itu, sepak bola bukan sebagai ajang pertarungan gengsi kepentingan pribadi seperti sekarang ini.
Pada masa penjajahan Belanda, pemuda Nusantara mengerti betul bahwa kehormatan sebagai bangsa bukan cuma urusan perang senjata, melainkan juga sepak bola. Atas semangat itulah, Persatuan Sepak Raga Seluruh Indonesia (sekarang PSSI) dibentuk pada 19 April 1930 sebagai wadah kesatuan untuk menegakkan martabat bangsa. Meski baru dibentuk, para pengurus di bawah kepemimpinan Ir Soeratin Sosrosoegondo itu telah memiliki konsep jelas bahwa sepak bola tidak hanya menjadi hobi, tetapi juga sebagai prestasi.
Koran Bintang Mataram edisi 22-44 April 1930, yang dikutip dari buku Kenang-kenangan 50 Tahun PSSI, melaporkan, salah satu misi berdirinya PSSI adalah sebagai jendela kebangsaan dan salah satu pintu gerbang menuju kemerdekaan. Dengan tujuan itu, jelas organisasi tersebut murni dibentuk dengan suatu kebanggaan akan semangat nasionalisme yang tinggi.
Alhasil, kompetisi pun dibuat bukan untuk kepentingan pribadi atau kelompok, melainkan demi harga diri. Berkat kompetisi itulah, Nusantara mampu berbicara kepada dunia. Dengan memakai bendera Dutch East Indies (Hindia Belanda), pemuda Nusantara menunjukkan bahwa Asia telah mengenal olahraga yang begitu digandrungi di Eropa melalui keikutsertaannya di Piala Dunia 1938. Nusantara kemudian menjadi pionir bagi Asia yang ingin unjuk gigi di hadapan penghuni bumi.
Pascakemerdekaan, Jepang dan Korea Selatan pernah merasakan dipermak 4-0 oleh pemuda Nusantara. Di Merdeka Games 1949, Taiwan pun harus bertekuk lutut kepada Soetjipto Soentoro dan kawan-kawan dengan skor 11-1. Medali emas SEA Games 1987 dan 1991 juga direbut Indonesia. Sejumlah prestasi itu, Nusantara jelas dapat membusungkan dada di antara negara Asia, seperti Thailand, Malaysia, dan Singapura, Jepang, hingga daratan Korea.
Bahkan, Jepang yang luluh lantah akibat Perang Dunia II tak malu untuk meniru Indonesia yang berstatus sebagai eks jajahannya. Mereka rela menyingkirkan gengsi sebagai penguasa Asia saat menjajah Nusantara selama 3,5 tahun lamanya. Dengan meniru sistem kompetisi Galatama pada akhir 1970-an hingga awal 1990-an, Negeri Sakura mampu meraih sukses melalui J-League miliknya dan dapat bertransformasi menjadi salah satu kekuatan Asia hingga kancah Piala Dunia.
Mimpi Indonesia
Lantas bagaimana dengan Indonesia saat ini?  Hatta memang tidak sempat menyaksikan gemilangnya prestasi terakhir anak bangsa saat meraih medali emas SEA Games 1991 di Manila. Namun, Hatta mengerti bagaimana menjadi seseorang yang mencintai sepak bola yang memiliki kejujuran, kesederhanaan, serta tanggung jawab yang besar bagi negara. Hal inilah yang harusnya dijadikan suri teladan oleh sejumlah pengurus sepak bola di kompleks Senayan.
Semenjak SEA Games 1991, kondisi sepak bola nasional seperti tenggelam dalam sejarah kelam. Teranyar, lihat saja bagaimana bangsa ini diperbincangkan seluruh isi bumi saat menelan kekalahan 0-10 dari Bahrain di Pra-Piala Dunia yang menyakitkan hati. Belum lagi, istilah "spesialis final" mulai disematkan kepada Indonesia. Negeri ini kembali mengalami kegagalan di final turnamen Hassanal Bolkiah Trophy pekan lalu. Kini, satu per satu negara Asia sudah bisa menari karena prestasi, sementara kegemilangan Indonesia tinggal menjadi kenangan.
Lalu, kenapa di tengah majunya negara Asia justru Indonesia mengalami kemunduran prestasi luar biasa? Memang, banyak faktor mengenai anomali prestasi ini. Tetapi, rasanya tidak logis jika pemain dan pelatih yang disalahkan atas sejumlah kegagalan. Pengurus sepak bola yang berseterulah juga harus dituntut tanggung jawabnya, berkat ulahnya membuat dualisme kompetisi, pertarungan politik, dan konflik tiada henti.
Dengan adanya dualisme kompetisi, pilihan untuk mengisi pemain terbaik di timnas pasti akan menjadi masalah tersendiri. Sejumlah pengurus itu bahkan terkesan lebih mirip politisi dibanding pamong olahraga sejati.
Masa lalu sepak bola kita padahal memberi banyak teladan. Lihat saja di era 1960 hingga 1980-an,  kelanjutan prestasi dari timnas yunior ke senior terlihat secara gamblang. Talenta muda Nusantara mampu meraih prestasi di kejuaraan Piala Asia Yunior (juara 1962, runner-up 1967, 1970), dan tiga kali berturut-turut meraih gelar Kejuaraan Pelajar Asia (1984, 1985, 1986). Prestasi itu bisa berlanjut ke timnas senior di era 1980 hingga 1990-an.
Tentunya, prestasi itu bisa berlanjut karena adanya kebesaran hati sejumlah pengurus PSSI yang mampu membangkitkan nasionalisme pemain yang juga membuat daya juang pemain meningkat. Pengurus rela hanya menerima honorarium selama pelatnas dan tidak menerima gaji tetap. Untuk soal dana, mereka hanya mengandalkan jualan karcis jika bertanding melawan tim-tim besar dan sedikit bantuan dari sejumlah penggila bola yang ingin menaikkan martabat bangsa di Asia.
Kebesaran hati dan keinginan untuk menaikkan martabat bangsa itulah yang hilang dewasa ini. Padahal, banyak sekali talenta muda yang tersebar di berbagai penjuru Indonesia. Lihatlah bagaimana timnas U-17 bisa meraih gelar juara di invitasi sepak bola Hongkong pada awal 2002, atau tim muda di sejumlah gelaran Piala Dunia Danone yang mampu mengalahkan sejumlah tim Eropa. Jika sudah begini, prestasi para talenta muda justru dijadikan komoditas politik untuk saling klaim dan pamer kesuksesan.
Perseteruan PSSI dan Komite Penyelamat Sepak Bola Indonesia (KPSI) yang saling adu strategi dan kemampuan dalam berkonflik itu telah membuat Indonesia seperti kembali ke masa penjajahan Belanda dengan taktik devide et empera. Gigihnya pengurus dua organisasi itu dalam kisruh justru membelah persatuan anak bangsa. Terlalu banyak intrik demi mencari kekuasaan daripada meraih kesuksesan. Prestasi pun hanya menjadi mimpi di balik kotornya permainan politik demi kepentingan pribadi.
Contohlah Hatta
Harusnya setiap pengurus PSSI maupun KPSI dapat mencontoh Hatta yang mampu menyingkirkan emosi serta kepentingan pribadi demi kepentingan bangsa. Lihat saja bagaimana Hatta rela melakukan negosiasi dengan Belanda, yang telah menjajah ratusan tahun, dalam Konferensi Meja Bundar di Den Haag pada 1949. Kerelaan itu pun berbuah nyata, yaitu kemerdekaan Indonesia!
Belum lagi ketika Hatta dengan sikap kesatria mengundurkan diri dari posisi Wakil Presiden RI pada 1 Desember 1956 karena tidak sepaham dengan pandangan politik Bung Karno. Hatta sadar, bila bertahan dalam perbedaan dengan Bung Karno, justru bakal memperkeruh pemerintahan republik yang masih muda usia. Tujuannya pun jelas, yakni agar bangsa tidak terpecah belah.
Padahal, Hatta sebenarnya mempunyai sejumlah alasan kuat untuk menolak berunding dengan Belanda yang telah membuat rakyat Indonesia sengsara hampir 3,5 abad lamanya, ataupun menolak pandangan Bung Karno. Alasan itu pun jauh lebih kuat dibanding alasan statuta FIFA yang dipegang oleh PSSI dan KPSI.
Coba tanyakan ke masyarakat, apa yang diharapkan dari sepak bola Indonesia saat ini? Sebagian besar jawaban pastinya adalah mendapat prestasi, bukan mimpi, bukan pula konflik yang tiada henti. Masyarakat sejatinya saat ini tidak butuh sejumlah alasan dari pengurus sepak bola yang hanya sibuk dengan kepentingan pribadinya.
Sudah cukup bangsa ini menanggung malu, apalagi dengan hasil mengecewakan di Pra-Piala Dunia 2014 dan sejumlah final di kejuaran tingkat Asia itu. Harusnya kedua pengurus itu mengilhami ucapan Hatta bahwa jatuh bangunnya prestasi negara ini sangat tergantung dari bangsa ini sendiri.
Sekarang ratusan juta penduduk Indonesia menunggu apakah PSSI dan KPSI mau meniru kebesaran hati, kepedulian, dan jiwa kepahlawanan seorang pencinta sepak bola seperti Bung Hatta yang hari ini tepat 32 tahun meninggalkan kita, atau hanya tetap menjadi penyumbang duka sepak bola Indonesia....


"Jatuh bangunnya negara ini, sangat tergantung dari bangsa ini sendiri. Makin pudar persatuan dan kepedulian, Indonesia hanyalah sekadar nama dan gambar seuntaian pulau di peta...." - Mohammad Hatta.
Sumber

Subhanallah Satu Gereja Masuk islam Gara-Gara Seorang Pemuda Islam di Amerika



Posted on by Abdul Ghofur

Sebuah kisah nyata yang terjadi di negerinya Paman Sam. Patut kita ambil hikmahnya, diantaranya :
1. Kebenaran Islam yang nyata,
2. Sangat beratnya timbangan kalimat syahadat,
3. Pentingnya bagi pemuda Muslim untuk menuntut ilmu,
4.Dsb.
Simak saja kisahnya… Satu gereja masuk Islam benarkah? Semoga ALLAH mengijinkan kita menjadi pemuda seperti beliau, Amiiin….. Kisah Nyata Seorang Pemuda Arab Yang Menimba Ilmu Di Amerika Rabu, 22 Februari 06 Ada seorang pemuda arab yang baru saja me-nyelesaikan bangku kuliahnya di Amerika.Pemuda ini adalah salah seorang yang diberi nikmat oleh Allah berupa pendidikan agama Islam bahkan ia mampu mendalaminya. Selain belajar, ia juga seorang juru dakwah Islam. Ketika berada di Amerika, ia berkenalan dengan salah seorang Nasrani.Hubungan mereka semakin akrab, dengan harapan semoga Allah SWT memberinya hidayah masuk Islam. Pada suatu hari mereka berdua berjalan-jalan di sebuah perkampungan di Amerika dan melintas di dekat sebuah gerejayang terdapat di kampung tersebut.Temannya itu meminta agar ia turut masuk ke dalam gereja. Semula ia berkeberatan, namun karena ia terus mendesak akhirnya pemuda itupun memenuhi permintaannya lalu ikut masuk ke dalam gereja dan duduk di salah satu bangku dengan hening, sebagaimana kebiasaan mereka. Ketika pendeta masuk, mereka serentak berdiri untuk memberikan penghormatan lantas kembali duduk. Di saat itu si pendeta agak terbelalak ketika melihat kepada para hadirin dan berkata, “Di tengah kita ada seorang muslim. Aku harap ia keluar dari sini.” Pemuda arab itu tidak bergeming dari tempatnya. Pendeta tersebut mengucapkan perkataan itu berkali-kali, namun ia tetap tidak bergeming dari tempatnya. Hingga akhirnya pendeta itu berkata, “Aku minta ia keluar dari sini dan aku menjamin keselamatannya.” Barulah pemuda ini beranjak keluar. Di ambang pintu ia bertanya kepada sang pendeta, “Bagaimana anda tahu bahwa saya seorang muslim.” Pendeta itu menjawab, “Dari tanda yang terdapat di wajahmu.” Kemudian ia beranjak hendak keluar, namun sang pendeta ingin memanfaatkan keberadaan pemuda ini, yaitu dengan mengajukan beberapa pertanyaan, tujuannya untuk memojokkan pemuda tersebut dan sekaligus mengokohkan markasnya. Pemuda muslim itupun menerima tantangan debat tersebut. Sang pendeta berkata, “Aku akan mengajukan kepada anda 22 pertanyaan dan anda harus menjawabnya dengan tepat.” Si pemuda tersenyum dan berkata, “Silahkan! Sang pendeta pun mulai bertanya,
1. Sebutkan satu yang tiada duanya,
2. dua yang tiada tiganya,
3. tiga yang tiada empatnya,
4. empat yang tiada limanya
5. lima yang tiada enamnya,
6. enam yang tiada tujuhnya,
7. tujuh yang tiada delapannya,
8. delapan yang tiada sembilannya,
9. sembilan yang tiada sepuluhnya,
10. sesuatu yang tidak lebih dari sepuluh,
11. sebelas yang tiada dua belasnya,
12. dua belas yang tiada tiga belasnya,
13. tiga belas yang tiada empat belasnya.
14. Sebutkan sesuatu yang dapat bernafas namun tidak mempunyai ruh!
15. Apa yang dimaksud dengan kuburan berjalan membawa isinya?
16. Siapakah yang berdusta namun masuk ke dalam surga?
17. Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah namun Dia tidak menyu- kainya?
18. Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah dengan tanpa ayah dan ibu!
19. Siapakah yang tercipta dari api, siapakah yang diadzab dengan api dan siapakah yang terpelihara dari api?
20. Siapakah yang tercipta dari batu, siapakah yg diadzab dengan batu dan siapakah yang terpelihara
dari ibatu?
21. Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah dan dianggap besar!
22. Pohon apakah yang mempu-nyai 12 ranting, setiap ranting mempunyai 30 daun, setiap daun
mempunyai 5 buah, 3 di bawah naungan dan dua di bawah sinaran matahari?”
Mendengar pertanyaan tersebut pemuda itu tersenyum dengan senyuman mengandung keyakinan kepada Allah. Setelah membaca basmalah ia berkata,
1. Satu yang tiada duanya ialah Allah SWT.
2. Dua yang tiada tiganya ialah malam dan siang. Allah SWT berfirman, “Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda (kebesaran kami).” (Al-Isra’:12) .
3. Tiga yang tiada empatnya adalah kekhilafan yang dilakukan Nabi Musa ketika Khidir
menenggelamkan sampan, membunuh seorang anak kecil dan ketika menegakkan kembali dinding yang hampir roboh.
4. Empat yang tiada limanya adalah Taurat, Injil, Zabur dan Al-Qur’an.
5. Lima yang tiada enamnya ialah shalat lima waktu.
6. Enam yang tiada tujuhnya ialah jumlah hari ke-tika Allah SWT menciptakan makhluk.
7. Tujuh yang tiada delapannya ialah langit yang tujuh lapis. Allah SWT berfirman, “Yang telah
menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Rabb Yang
Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang.” (Al-Mulk:3).
8. Delapan yang tiada sembilannya ialah malaikat pemikul Arsy ar-Rahman. Allah SWT berfirman,
“Dan malaikat-malaikat berada dipenjuru-penjuru langit. Dan pada hari itu delapan orang malaikat menjunjung ‘Arsy Rabbmu di atas(kepala) mereka.” (Al-Haqah: 17).
9. Sembilan yang tiada sepuluhnya adalah mu’jizat yang diberikan kepada Nabi Musa : tongkat,
tangan yang bercahaya, angin topan, musim paceklik, katak, darah, kutu dan belalang dan *
10 .Sesuatu yang tidak lebih dari sepuluh ialah kebaikan. Allah SWT berfirman, “Barangsiapa yang
berbuat kebaikan maka untuknya sepuluh kali lipat.” (Al-An’am: 160).
11. Sebelas yang tiada dua belasnya ialah jumlah saudara-saudara Yusuf.
12. Dua belas yang tiada tiga belasnya ialah mu’jizat Nabi Musa yang terdapat dalam firman Allah,
“Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman, ‘Pukullah batu
itu dengan tongkatmu.’ Lalu memancarlah dari padanya dua belas mata air.” (Al-Baqarah: 60).
13. Tiga belas yang tiada empat belasnya ialah jumlah saudara Yusuf ditambah dengan ayah dan
ibunya.
14. Adapun sesuatu yang bernafas namun tidak mempunyai ruh adalah waktu Shubuh. Allah SWT
berfirman, “Dan waktu subuh apabila fajarnya mulai menyingsing. ” (At-Takwir:18).
15. Kuburan yang membawa isinya adalah ikan yang menelan Nabi Yunus AS.
16. Mereka yang berdusta namun masuk ke dalam surga adalah saudara-saudara Yusuf, yakni ketika
mereka berkata kepada ayahnya,”Wahai ayah kami, sesungguhnya kami pergi berlomba-lomba
dan kami tinggalkan Yusuf di dekat barang-barang kami,lalu dia dimakan serigala.” Setelah
kedustaan terungkap, Yusuf berkata kepada mereka, ” tak ada cercaaan ter-hadap kalian.” Dan
ayah mereka
Ya’qub berkata, “Aku akan memohonkan ampun bagimu kepada Rabbku. Sesungguhnya Dia-lah
Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
17. Sesuatu yang diciptakan Allah namun tidak Dia sukai adalah suara keledai. Allah SWT
berfirman, “Sesungguhnya sejelek-jelek suara adalah suara keledai.” (Luqman: 19).
18. Makhluk yang diciptakan Allah tanpa bapak dan ibu adalah Nabi Adam, malaikat, unta Nabi
Shalih dan kambing Nabi Ibrahim.
19. Makhluk yang diciptakan dari api adalah Iblis, yang diadzab dengan api ialah Abu Jahal dan
yang terpelihara dari api adalah Nabi Ibrahim. Allah SWT berfirman, “Wahai api dinginlah dan
selamatkan Ibrahim.” (Al-Anbiya’: 69).
20. Makhluk yang terbuat dari batu adalah unta Nabi Shalih, yang diadzab dengan batu adalah
tentarabergajah dan yang terpelihara dari batu adalah Ash-habul Kahfi (penghuni gua).
21. Sesuatu yang diciptakan Allah dan dianggap perkara besar adalah tipu daya wanita, sebagaimana
firman Allah SWT, “Sesungguhnya tipu daya kaum wanita itu sangatlah besar.” (Yusuf: 2Cool.
22. Adapun pohon yang memiliki 12 ranting setiap ranting mempunyai 30 daun, setiap daun
mempunyai 5 buah, 3 di bawah teduhan dan dua di bawah sinaran matahari maknanya: Pohon
adalah tahun, ranting adalah bulan, daun adalah hari dan buahnya adalah shalat yang lima waktu, tiga dikerjakan di malam hari dan dua di siang hari.
Pendeta dan para hadirin merasa takjub mendengar jawaban pemuda muslim tersebut.Kemudian ia pamit dan beranjak hendak pergi. Namun ia mengurungkan niatnya dan meminta kepada pendeta agar menjawab satu pertanyaan saja. Permintaan ini disetujui oleh sang pendeta.
Pemuda ini berkata, “APAKAH KUNCI SURGA ITU?” mendengar pertanyaan itu lidah sang pendeta menjadi kelu, hatinya diselimuti keraguan dan rona wajahnya pun berubah. Ia berusaha menyembunyikan kekhawatirannya, namun hasilnya nihil. Orang-orang yang hadir di gereja itu terus mendesaknya agar menjawab pertanyaan tersebut, namun ia berusaha mengelak.
Mereka berkata, “Anda telah melontarkan 22 pertanyaan kepadanya dan semuanya ia jawab sementara ia hanya memberimu satu pertanyaan namun anda tidak mampu menjawabnya! “
Pendeta tersebut berkata, “Sungguh aku mengetahui jawaban dari pertanyaan tersebut, namun aku takut kalian marah. “
Mereka menjawab, “Kami akan jamin keselamatan anda.”
Sang pendeta pun berkata, “Jawabannya ialah: ASHADU AN LA ILAHA ILLALLAH WA ANNA MUHAMMADAR RASULULLAH.”
Lantas sang pendeta dan orang-orang yang hadir di gereja itu memeluk agama Islam. ALLAHU AKBAR! Sungguh Allah telah menganugrahkan kebaikan dan menjaga mereka dengan Islam melalui tangan seorang pemuda muslim yang bertakwa.** Subhanallah…!!

sumber

Beda Islam dengan Demokrasi

 
Media Islam Rujukan, Bisakah Islam bertemu dengan demokrasi barat?  Apakah mereka sejalan? Atau apakah demokrasibarat mengambil konsep dari Islam? Atau sebaliknya Islam mengambil nilai nilaidemokrasi yang telah berkembang di Yunani? Atau konsep nilai Islam telahberubah karena zaman sudah berubah pula, dan karena saat ini penduduk duniasemakin banyak hingga dibutuhkanlah sebuah sistem yang berguna untukmenyederhanakan dalam sistem pemerintahan, makanya kaum muslim bersediamenerima konsep demokrasi barat sebagai jalan keluar yang modern?


Ada satu pertanyaan yang membuat berfikir berkali kali bagipenulis, kenapa barat (Amerika dan sekutunya) selalu mengirimkan pasukanperangnya bila ada suatu negara menolak sistem demokrasi barat? Dan kenapaamerika dan sekutunya tidak merasa perlu  mengirimkan pasukan senjata perangnya bilasuatu negara muslim sudah mengadopsi sistem demokrasi barat dalampemerintahannya? Apakah demokrasi itu merupakan cara hidup kaum barat? Dan bilaada Negara muslim memakai sistem tersebut , kaum barat sudah merasakan negaramuslim demokrasi tersebut sudah satu millah / din yang sama dengan mereka? Jaditidak perlu berperang?
Beribu ribu pertanyaan yang terngiang.
Berikut disampaikan beberapa analisis pemikir Islam, semogahal hal tersebut terurai sedikit demi sedikit kenapa kita harus selalu memegang harta termahal kita yaitu Islam.
Abul Ala Maududi dalam bukunya Human Right in Islam,terbitan The Islamic Foundation, London, menjelaskan perbedaan mendasar antarkeduanya, Islam dan demokrasi barat. Dan ternyata tidak terdapat irisan dan titiksinggung antar kedua sistem tersebut.
Singkatnya, tidak ada penyandingan yang layak antar kedua sistemtersebut, tidak ada Islam demokrasi.
Demokrasi barat didasarkan atas kedaulatan rakyat . SedangIslam , kedaulatan hanya ada di tangan Allah, dan manusia /masyarakat hanyalahkhalifah khalifah atau wakil wakilnya.
Demokrasi barat , masyarakatlah yang membuat hukum hukummereka sendiri. Sedang Islam, masyarakatnya harus tunduk pada hukum hukum Allah(syariat Allah) yang diberikanNya melalui rasulNya.
Demokrasi barat , pemerintah memenuhi apapun kehendak rakyat.Sedang Islam , pemerintah dan rakyat yang membentuk pemerintahan, kedua duanyaharus memenuhi kehendak dan tujuan Allah.
Demokrasi Barat adalah semacam wewenang mutlak yangmenjalankan kekuasaan kekuasaannya dengan cara bebas dan tidak terkontrol .Sedang Islam,  adalah kepatuhan kepadahukum Allah, dan melaksanakan wewenangnya sesuai dengan perintah perintah Allahdan dalam batas batas yang telah digariskan oleh Nya.
Sebagai melengkapi pemahaman demokrasi barat, menurutMuhammad Assad, dalam bukunya Minhaj Al Islam fi al Hukumi, konsep demokrasiasli yang dimiliki oleh bangsa yunani, Negara penemu sistem demokrasi berawal.Bagi bangsa  yunani (kuno), istilahpemerintahan dari rakyat untuk rakyat , yang merupakan inti dari demokrasi,dimaksudkan sebagai suatu pemerintahan oligarchis , suatu pemerintahan yangdipegang oleh elite tertentu yang tidak mencakup seluruh rakyat. Di dalamnegara negara yang pernah ada pada masa mereka, istilah rakyat berarti warga negarasejati yang merupakan penduduk yang dilahirkan secara merdeka yang lazimnya jumlahnya tidak lebih dari seper-sepuluh jumlah penduduk yang ada. Sedangkansisanya  yang Sembilan puluh persen ituterdiri dari budak budak dan hamba sahaya yang tidak diberi kesempatanmelakukan aktifitas apapun selain pekerjaan pekerjaan fisik yang kasar, danmereka , sekalipun tetap diwajibkan berpartisipasi dalam pertahanan negara,sama sekali tidak diberi hak dalam hal kewarga negaraan. Hanya warga negarasejati itu (yang hanya 10%) sajalah yang memegang hak kebebasan aktif maupunpasif, yang dengan demikian seluruh kekuasaan politik berpusat sepenuhnya ditangan mereka.
Sebuah sistem yang katanya menuntut persamaan , hak asasimanusia , tapi nyatanya persamaan dan hak asasi manusia itu semu dan hanyaberlaku bagi warga negara khusus antara mereka saja. Sistem  yang berlaku bila hanya kelompok yang mereka setujuisaja yang memenangi pemilihan umum, dan tidak berlaku bila kelompok Islam yangmemenangi pemilihan rakyat , lihatlah FIS di Aljazair, Lihatlah Hamas dipalestina…Sistem demokrasi adalah sebuah sistem jadi jadian mereka, jebakanpolitik, sistem yang menuruti sekehendak hawa nafsu dan syahwat kelompokborjuis saja, dan tidak berlaku bagi yang mereka anggap sebagai musuh bersama mereka.
Semoga keterangan ini menjadi jelas adanya, dan di saat kehidupanakhir zaman ini, kedua sistem tersebut mengemuka dan menjadi pilihan bagi umat,nah sekarang kembali kepada anda, dalam kedua sistem tersebut, kembali ke andasebagai manusia dan hamba Allah, yang kelak semua hal yang kita lakukan diduniaini akan diminta pertanggung jawaban di akherat kelak, so , mana yang andayakini dan berniat berusaha untuk meninggikannya?

sumber

Perlunya sikap legowo: Belajar dari Kisruh PSSI










Memang idealnya politik dan kepentingan ekonomi terpisah dari sepakbola, tetapi realitasnya kan ada kepentingan ekonomi dan politik di balik kisruh PSSI. menurut saya yang jadi pokok masalahnya adalah  kelemahan orang Indonesia teutama elit politiknya yang sering tidak bisa menerima kekalahan, dan itulah mengapa demokrasi tidak berjalan di Indonesia.


Kita ambil contoh, Djohar Arifin dipilih karena dia membawa ide perubahan di PSSI, jika dia ingin melaksanakan ide dan programnya yang sebenarnya adalah ide perubahan juga dari Arifin panigoro, seharusnya kelompok lama beri kesempatan dulu, biarkan PSSI periode ini bekerja, tunggu aja giliran anda nanti di kongres peilihan ketua PSSI berikutnya.

Soal Djohar antek Jenggala atau Arifin Panigoro, menurut saya harus dilihat sebagai hubungan kesamaan ide. Kita ketahui bersama bahwa George Toisutta dan Arifin Panigoro yang bercita-cita merubah  PSSI dijegal oleh Hinca Penjahitan dan Gusti Randa (sekarang petinggi KPSI), dan cuma meloloskan Nudin dan Nirwan Bakrie. Karena dijegal dan dilarang FIFA ituah kubu pro perubahan mencari seorang teknokrat sepakbola, non politis, mantan pemain PSMS medan, seorang akademisi, punya pengalaman seabrek di KONI dan staff ahli menpora untuk membawa gerbong perubahan, dan jadilah Djojar Arifin yang dipilih. Hubungan mentor dan pejabat publik biasa di sebuah organisasi. Lee Kuan Yew dan Goh Toh Chong, Mahatir dan Badawi, Vladimir Putin dan  Dmitry Medvedev adalah contohnya. Orang Indonesia belum tebiasa, dianggap Dhohar Arifin boneka dalam arti negatif Arifin Panigoro. Lalu apa motif politik dan ekonomi Arifin Panigoro, ketua partai bukan, mau jadi presiden tidak, nyari untung juga tidak melalalui konsersium, yg ada malah berjudi berinvestasi di sepak bola yang masih dikuasai politisi, Seharusnya kita senang ada orang gila seperti Arifin panigoro mau mengeluarkan uang demi proyek rugi PSSI. Kalau tidak setuju AP ya sudah tunggu aja kongres berikutnya, berjuanglah agar mentor anda seperti Bakrie Family terpilih lagi, jgn belum apa-apa bekerja anda sudah rusak program-program Dhohar Arifin yang dimentori Arifin Panigoro.


http://duniasoccer.com/var/gramedia/storage/images/duniasoccer/indonesia/pssi/kpsi-pindahkan-tempat-kongres/6507190-1-ind-ID/KPSI-Pindahkan-Tempat-Kongres.jpg
PSSI Muka Lama yang mengaku Penyelamat
Anda bisa bayangkan rusaknya negeri ini karena sikap tidak legowo itu, dan itulah yang menjadi masalah sebenarnya. Jika anda dipilih menjadi bupati, anda tentu ingin segera menyelesaikan janji kempanye anda, dan seandainya saya sebagai bupati lama dan oposisi, seharusnya saya melihat dan memberi kesempatan anda untuk menjalankan tugas anda bukan memaksakan ide saya terus, dan menggalang kekuatan untuk menurunkan anda.
Jika anda tidak setuju dengan kebijakan PSSI yang merubah format kompetisi, hal ini biasa dalam negara demokrasi. Partai republik tidak setuju dengan kebijakan partai demokrat, terus mengkritisi tetapi tidak dijadikan alasan untuk merebut kekuasaan dengan mengimpeach pemerintah dari partai demokrat. Nah di Indonesia hal ini tidak berjalan, tidak suka kebijakan pemcetan pelatih, merubah format kompetisi, ini trus diblow up kemudian dijadikan ajang delegitimasi yang ujung-ujungnya KLB.


Di level masyarakat, banyak masyarakat yang terhegmoni oleh pemilik modal yang kebetulan penguasa media dan punya kepentingan besar di PSSI. Konteks analisis hegemoni ala Gramsci tepat untuk menjelaskan hal ini. Masyrakat tidak sadar bahwa dia jadi korban hegemoni pemilik modal, dan sayangnya perimbangan berita yang membongkar hegemoni kalah dari media yang menghegomoni alam pikir masyarakat. jadilah masyarakat kita jadi masayarakat yang sakit, tidak sadar bahwa ia dimanfaatkan oleh politisi pemilik modal. Atau kasarnya ia sengaja terus dibodohi untuk dimanfaatkan menguasai PSSI dan menjatuhkan pengurus PSSI sekarang. Coba lihat komentar masyarakat di pages facebook, isinya umpatan kasar dan menghakimi PSSI tanpa tahu apa yang terjadi sebenarnya.

KPSI bergoyang Dangdut ria
PSSI sendiri sebenarnya harus sadar, bahwa organisasi yang rentan politisasi di mana banyak politisi di dalamnya model kepemimpinannya juga beda. kultur PSSI yang seajk reformasi 1998 seperti kultur partai politik terkadang pendekataanya agak berbeda dengan perusahaan ataupun institusi pendidikan. Komfromi dan konsensus jadi adalah ini politik kata bebagai ahli politik. sehingga cara pembuatan kebijakan yang tidak memperhatikan banyak kepentingan politik terkdang tersendat dan gagal. ya itulah resiko memimpin organisasi yang kultur politiknya kental.
PSSI sekarang sebenarnya benturan budaya bisnis dan budaya politik. Orang-orang PSSI sekrang ingin mendepolitisasi PSSI, tetapi orang-orang lama terganggu kenyamananan posisi politk dan ekonominya. Sialnya bagi PSSI mereka masih dominan.

ya begitulah yang dinamakan era transisi. ketika Mandela naik, dia merubah sistemnya tetapi tetap bersehabat dengan orang-orang rezim lama. Ini model Afrika Selatan, model Indonesia lain lagi, orang-orang rezim lama segera berganti baju dan mengaku paling reformis. Para reformis tertipu dan terpecah belah. Akhirnya orang lama memimpin kembali dengan cover baru. para reformis kehilangan arah. Dan beginilah yang terjadi di PSSI sekrang, kelompok 78 terus jadi KPSI, padahal hakikatnya mereka hanyalah orang lama yang berganti baju karena arah angin berubah.

Yang Ngaku Ketua Umum PSSI dan Ketua Umum PSSI Diakui
Akhirnya, Terkadang kita harus berpihak jika kita tahu ada kedholiman terhadap PSSI, dan membela kebenaran adalh lebih utama daripada diam dengan alasan netral . Kembali ke Gramsci, kita para inteletual jangan hanya jadi intelektual tradisional, berdiri diatas menara gading dengan alasan netralitas, menutup mata pura-pura tidak tahu bahwa ada gurita ekonmi dan politik mengancam PSSI. Kita harus jadi intelektual organik, Bergerak membongkar hegemoni dan mencerahkan masyarakat yang terhegomoni. Saya bukan siapa-siapa di PSSI kenal juga gak, tapi saya gerah rezim lama terus merongrong PSSI, dan saya tidak ingin hanya berdiri di menara gading, saya harus bergerak mencerahkan dan membongkar hegemoni, tulisan ini salah satunya.

Link Penulis

Ket Gambar di ambil dari beberapa Sumber
https://fbcdn-profile-a.akamaihd.net/hprofile-ak-ash2/372897_131353430292780_619288642_n.jpg https://fbcdn-profile-a.akamaihd.net/hprofile-ak-snc4/188096_134547703323278_1162554518_n.jpg https://fbcdn-profile-a.akamaihd.net/hprofile-ak-snc4/372896_322832097804252_1451457464_n.jpg https://fbcdn-profile-a.akamaihd.net/hprofile-ak-ash2/188076_323826454312372_464368268_n.jpg https://fbcdn-profile-a.akamaihd.net/hprofile-ak-snc4/157988_245544635468600_1221856100_n.jpg https://fbcdn-profile-a.akamaihd.net/hprofile-ak-snc4/157972_225236267569573_1370082627_n.jpg

Baguru On Facebook

 
© Copyright 2010-2011 Baguru All Rights Reserved.
Template Design by Baguru | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.