Karena greget, akhirnya nulis ini juga, sekedar coret-coret dan nambah postingan baru di blog.
Kisruh yang terjadi di PSSI belum usai, terakhir adalah batalnya
kongres PSSI di Pekanbaru. Kisruh makin jadi dengan akhirnya Menpora tidak mengakui PSSI dibawah Nurdin Halid dan Nugraha Besoes. Sebaliknya, Nurdin Halid menganggap Andi Mallarangeng tidak cakap menjadi Menpora dan meminta presiden mencopot Andi Mallarangeng dari jabatan Menpora.
Membaca berita di portal berita di internet dan melihat langsung
bagaimana reaksi Nurdin di televisi (baca : tvone), greget luar biasa
dengan sikap “penguasa” PSSI ini. Menpora dianggap tidak cakap dan
mempunyai perilaku yang buruk
sebagai pejabat. Membiarkan dan merestui LPI terus bergulir, mendukung
demo menurunkan Nurdin dari para supporter, dan sebagainya. Dan mungkin
saking emosi yang udah menumpuk, keluarlah pernyataan meminta SBY untuk
mencopot Andi Mallarangeng dari jabatan Menpora.
Opini saya :
Mengenai LPI, FIFA sendiri “membolehkan” LPI dan meminta PSSI
merangkul ke dalam kompetisi yang legal dan diakui FIFA. Lewat
pernyataan FIFA itu, PSSI untuk pertama kalinya (yang saya tau) berniat
untuk merangkul LPI dengan syarat harus mulai dari divisi III
terlebih dahulu. Padahal dari awal LPI bergulir, PSSI menganggap LPI
illegal dan memberi sanksi buat mereka yang terlibat di dalamnya.
Eh…sekarang lewat media televisi, Menpora dianggap tidak cakap dengan
membiarkan LPI. Aneh. Lupa ya pernah niat merangkul LPI??
Mengenai pernyataan Nurdin Halid yang menganggap Andi Mallarangeng
berperilaku buruk, saya malah bertanya “Apa Nurdin gak lebih buruk
perilakunya?”. Mantan napi koruptor, menggunakan preman yang akhirnya
merusak mobil Andi Darusalam dengan sabetan pedang. Buat saya menuduh
orang berperilaku buruk, menandakan orang itu jauh lebih buruk.
Banyak hal yang membuat PSSI dengan Nurdin dan kroninya tidak cukup buat dituliskan disini.
Sebenernya buat saya sederhana saja. Selama dua periode memimpin
PSSI, Nurdin Halid tidak berprestasi. Yang ada malah kompetisi yang
carut marut, statuta PSSI yang tidak mengindahkan statuta FIFA, dan
sebagainya. Dari semua itu, para pecinta sepakbola menginginkan
perubahan. Caranya, Nurdin Halid dan kroninya harus mundur. Ibarat
penyakit, ini udah sangat parah, akut. Harus segera disembuhkan dengan
cara inti penyakitnya harus diambil.
Presiden Soeharto dulu mundur dengan legowo setelah para mahasiswa
menuntut reformasi. Rupanya Nurdin tidak mencontoh pendahulu Golkarnya.
Berdalih demokratisasi, Nurdin keukeuh masih ingin menjadi Ketum PSSI.
Padahal hampir seluruh rakyat Indonesia, pecinta sepakbola Indonesia
menginginkannya turun segera. Ini bukan sekedar menjunjung
demokratisasi, tapi juga seharusnya ada etika, moral, dan sikap ksatria
dari seorang pemimpin untuk mundur dengan legowo. Tapi lagi lagi Nurdin
bertahan dengan segala cara, kalau perlu sambil menangis di ruangan DPR.
Sepertinya Nurdin semakin terdesak. Tambah terdesak dengan akhirnya
Menpora tidak mengakui PSSI dibawah pimpinannya, menyetop bantuan APBN
untuk kegiatan olahraga PSSI, dan tidak memberikan pelayanan ataupun
fasilitas pemerintah untuk kegiatan PSSI, termasuk kantor PSSI itu
sendiri. Nurdin udah terkepung. Entah mau nyari alasan apalagi buat
bertahan.
Sederhana saja sebenarnya, harusnya Nurdin mundur dengan legowo. Naik
panggung dengan tepuk tangan, alangkah berkesannya jika turun panggung
juga diberi tepuk tangan. Ini bukan permintaan Menpora yang meminta anda
mundur, ini semangat sepakbola Indonesia, ini permintaan saya,
permintaan kami, permintaan rakyat Indonesia, permintaan pecinta
sepakbola Indonesia yang menginginkan perubahan dan prestasi.
Jadi….mundurlah Nurdin, mundurlah Nugraha, mundurlah Nirwan, mundurlah
kalian dan kroni-kronimu!! Segera.
Membaca di portal berita tentang tanggapan Andi Malarareng soal
Nurdin yang meminta SBY mencopot Menpora. Sama seperti Menpora, saya pun
tertawa. Serius, saya ikut tertawa.
Selamat hari senin jelang selasa. Tambah satu lagi Udin Sedunia yang makin “terkenal”. Namanya (N)u(r)din Halid!
- – - -
Buka mata, buka telinga, dan lebih pentingnya buka hati. Lihat aksi
kami, dengar suara dan keinginan kami, resapi di hati yang bersih dan
terbuka.
Sumber
Nurdin, Nirwan, dan Nugraha Dilaporkan ke Polda
JAKARTA - Lumbung
Informasi Rakyat (LIRA)- Indonesian Sports Watch (ISW) melaporkan tiga
pengurus PSSI. Ketua Umum PSSI Nurdin Halid, Wakil Ketua Umum PSSI
Nirwan Bakrie, dan Sekretaris Jenderal PSSI Nugraha Besoes.
'Trio N' ini dilaporkan LIRA-ISW terkait dugaan adanya manipulasi Statuta FIFA yang bertujuan untuk melanggengkan kekuasaan Nurdin Halid, sekaligus menjegal langkah tokoh-tokoh yang ingin melakukan reformasi dalam tubuh induk organisasi sepakbola di Indonesia itu.
"Dalam Statusta FIFA, narapidana atau mantan narapidana tidak boleh menduduki ketua umum federasi, tapi mereka mengubahnya menjadi boleh," kata Presiden LIRA, Jusuf Rizal di Polda Metro Jaya, Jakarta, Jumat (25/2/2011).
Ketiga pejabat PSSI tersebut dilaporkan LIRA ke Sentra Pelayanan Kepolisian (SPK) Polda Metro Jaya sore ini sekitar pukul 17.00 WIB.
LIRA-ISW memandang ada unsur manipulasi yang merugikan masyarakat sepakbola dan dunia sepakbola Indonesia sehingga prestasi timnas Merah Putih merosot. Dengan memanipulasi Statuta FIFA, PSSI dianggap menerobos Statuta FIFA demi kepentingan pribadi dan kelompoknya.
"Nurdin Halid yang mestinya terkena sanksi (tidak boleh memimpin PSSI) karena terkena kasus korupsi malah terus bertahan," ujar Jusuf.
Ia memaparkan Statuta FIFA yang jelas melarang narapidana atau mantan narapidana menduduki posisi di kepengurusan federasi sepakbola yang terletak pada pasal 35 butir 4 Statuta FIFA.
Bunyi pasal 35 butir 4 tersebut "The members of the Executive Committee - shall not being guilty of a Criminal Offence...". Dalam draft awal Statuta PSSI yang sudah disetujui FIFA, butir pasal itu berbunyi: "The members of the Executive Committee, must not found guilty of a Criminal Offence..."
"Kata 'must not found guilty' pada draft tersebut diubah pengurus PSSI menjadi 'shall not being guilty'," terangnya.
'Trio N' ini dilaporkan LIRA-ISW terkait dugaan adanya manipulasi Statuta FIFA yang bertujuan untuk melanggengkan kekuasaan Nurdin Halid, sekaligus menjegal langkah tokoh-tokoh yang ingin melakukan reformasi dalam tubuh induk organisasi sepakbola di Indonesia itu.
"Dalam Statusta FIFA, narapidana atau mantan narapidana tidak boleh menduduki ketua umum federasi, tapi mereka mengubahnya menjadi boleh," kata Presiden LIRA, Jusuf Rizal di Polda Metro Jaya, Jakarta, Jumat (25/2/2011).
Ketiga pejabat PSSI tersebut dilaporkan LIRA ke Sentra Pelayanan Kepolisian (SPK) Polda Metro Jaya sore ini sekitar pukul 17.00 WIB.
LIRA-ISW memandang ada unsur manipulasi yang merugikan masyarakat sepakbola dan dunia sepakbola Indonesia sehingga prestasi timnas Merah Putih merosot. Dengan memanipulasi Statuta FIFA, PSSI dianggap menerobos Statuta FIFA demi kepentingan pribadi dan kelompoknya.
"Nurdin Halid yang mestinya terkena sanksi (tidak boleh memimpin PSSI) karena terkena kasus korupsi malah terus bertahan," ujar Jusuf.
Ia memaparkan Statuta FIFA yang jelas melarang narapidana atau mantan narapidana menduduki posisi di kepengurusan federasi sepakbola yang terletak pada pasal 35 butir 4 Statuta FIFA.
Bunyi pasal 35 butir 4 tersebut "The members of the Executive Committee - shall not being guilty of a Criminal Offence...". Dalam draft awal Statuta PSSI yang sudah disetujui FIFA, butir pasal itu berbunyi: "The members of the Executive Committee, must not found guilty of a Criminal Offence..."
"Kata 'must not found guilty' pada draft tersebut diubah pengurus PSSI menjadi 'shall not being guilty'," terangnya.
“Karpet Merah” KPSI Untuk Mengembalikan Tahta Nurdin-Nirwan?
Dibandingkan dengan keputusan pra-kongres KPSI yang tidak masuk akal dan menciderai logika akal sehat manusia, maka keputusan kongres tahunan KPSI bisa merupakan koreksi dari blunder pra-kongres lalu. Entahlah, mungkin karena banyaknya pendukung KPSI di kompasiana dan gencarnya aktivitas CJ yang mengkritik manuver KPSI, maka KPSI mendapat banyak masukan dari “mata-matanya” untuk perbaikan strategi mereka. Jika sebelumnya langkah-langkah KPSI justru menjadi blunder dan kampanye hitam bagi KPSI sendiri dan merusak citra “Partai Beringin Tua”, kini KPSI lebih cermat dalam berhitung dan melangkah. Hal ini wajar karena motto PSSI “kerja keras…kerja cerdas…kerja ikhlas” untuk sepakbola Indonesia yang berprestasi tanpa APBD telah berhasil menarik simpati para pecinta sepakbola di tanah air. Prestasi Garuda Muda U-17 dan Program pembinaan sepakbola usia muda yang akan dijadikan pabrik untuk memproduksi para pemain TIMNAS berkualitas juga mendapat appresiasi dan dukunganyang luas dari seluruh masyarakat bola.
Sebaliknya segala manuver KPSI justru panen kecaman dan hujatan dari publik bola tanah air. Dalam kondisi seperti ini, maka apa pun yang dilakukan KPSI tetap akan mendapat stempel negatif dari masyarakat bola. Apalagi masyarakat bola di tanah air menginginkan sepakbola tanpa politisasi, dengan kata lain jangan ada politisi dan bendera PARPOL dalam sepakbola Indonesia.
Keputusan KPSI yang tetap berencana menggelar KLB sebenarnya merupakan format ulang dari proyek gagal atau proyek yang tertunda. Seperti pernah di sampaikan di sebuah media corong milik kelompok mereka oleh La Nyalla Mattaliti, rezim Status Quo berencana membajak Revolusi PSSI dan mengkudeta Prof. Dr. Djohar Arifin setelah 3 bulan memimpin PSSI. Langkah kudeta dan pembajakan oleh orang-orang status quo gagal karena justru Toni Apriliani, Roberto Rouw, Erwin Budiawan dan La Nyalla Mattaliti yang pro satus quo di pecat oleh PSSI melalui Komite Etik. Sikap tegas PSSI telah menimbulkan dendam kesumat pada diri mereka yang dipecat. Dengan dukungan “invisible hands” dan media corong-nya mereka mulai berani menggalang dukungan secara terbuka untuk membajak PSSI.
Publik sepakbola pun dibuat bertanya-tanya, apa sebetulnya yang dicari KPSI dari PSSI?
Menurut pendapat saya pribadi jawabannya sangat sederhana, mungkin KPSI hanya ingin menyediakan karpet merah bagi Nurdin-Nirwan dan kawan-kawan untuk bertahta kembali memimpin PSSI. Setelah itu mereka akan kembali menggunakan APBD untuk mengelola sepakbola profesional hingga 2014 sesuai dengan Kongres Bali. Keputusan Kongres Tahunan KPSI yang kembali memberi kesempatan kepada Nurdin-Nirwan untuk berduet adalah buktinya. Slogan mereka “”KLB Harga Mati”, padahal saya sangat yakin seandainya KLB kembali gagal mereka tidak berani mati dengan kata lain jika KLB gagal mereka tidak akan bunuh diri massal sesuai slogan mereka “KLB Harga Mati”. Buktinya…politisi yang pernah berjanji akan sunat 2x jika Diego pindah juga tidak berani menepati janjinya. Sunat 2x saja sudah ketakutan apalagi mati, bukan begitu mass bro?
Masalah prestasi sepakbola???
Jangan pernah ditanyakan pada KPSI, karena mereka tidak akan pernah peduli. Terbukti selama 8 tahun memimpin PSSI mereka tidak pernah memberi gelar apapun bagi negeri ini. Yang mereka berikan hanyalah hiburan sepakbola dengan bonus Tinju, Pencak Silat, Kungfu dan Karate.
Jadi selamat bagi anda yang setia mendukung KPSI dengan IST-nya, karena hanya dengan membayar 1 tiket pertandingan anda bisa menyaksikan 5 cabang olahrga sekaligus.
Sumber
PSSI – LAHAN REBUTAN
( Dendam Dua Gruop - Bakrie Vs Medco )
Ir. Andi Ms Hersandy
Tulisan
ini adalah bersifat opini pribadi saya dan tidak mewakili siapapun dan
boleh jadi tulisan ini mengada-ada namun semua saya serahkan kepada para
pembaca untuk menilainya. Tulisan inipun telah saya publikasikan di
Akun Fb saya tertanggal 18 Desember 2011. Ini hanya sebahagian dan untuk
selengkapnya silahkan updet fb-nya. ( Daftar pustaka: Berbagai Sumber )
Arifin
Panigoro dan Aburizal Bakrie alias Ical adalah dua pengusaha yang tumbuh
besar sejak Soeharto membentuk Tim Keppres 10, 23 Januari 1980. Tim itu
diketuai oleh mendiang Sudharmono dan Ginanjar Kartasasmita duduk
sebagai salah satu anggota tim. Oleh presiden Soeharto pembentukan tim
itu dimaksudkan untuk menumbuhkan pengusaha pribumi dengan antara lain
mengalokasikan sejumlah proyek nondepartemen bernilai di atas Rp
500.000.000 ( sekarang nilainya Rp. 500 milyar )
Sekretariat
Negara di bawah Sudharmono kala itu ditunjuk sebagai penanggungjawab
keberhasilan program. Lewat tim itulah sejumlah pengusaha muda pribumi
kemudian banyak mendapat prioritas. Ical, Arifin P, Jusuf Kalla, Iman
Taufik, Fadel Muhammad, dan Agus Kartasasmita adalah beberapa pengusaha
yang banyak “berhubungan” dengan Tim Keppres 10.
Hubungan mereka dengan Sudharmono dan Ginanjar, sejak itu lantas menjadi seperti hubungan bapak-anak. Sudharmono mengenal mereka sebagai pengusaha-pengusaha pribumi yang profesional, sementara para pengusaha itu menganggap Sudharmono sebagai tokoh yang bersih, kendati loyal kepada Soeharto dan berada di lingkaran kekuasaan.
Hubungan mereka dengan Sudharmono dan Ginanjar, sejak itu lantas menjadi seperti hubungan bapak-anak. Sudharmono mengenal mereka sebagai pengusaha-pengusaha pribumi yang profesional, sementara para pengusaha itu menganggap Sudharmono sebagai tokoh yang bersih, kendati loyal kepada Soeharto dan berada di lingkaran kekuasaan.
Kini,
dua dari pengusaha yang disusui oleh Orde Baru itu yakni Ical dan Arifin
terlibat perseteruan panjang. Arifin adalah salah satu raja minyak yang
cukup terkenal terutama sejak reformasi dan Ical adalah salah satu
orang terkaya di Indonesia.
Arifin
pemilik kerajaan bisnis Grup Medco dan Ical pemilik kerajaan bisnis Grup
Bakrie. November tahun 2010, Arifin gagal menjual salah satu anak
bisnisnya ke Pertamina karena konon terutama karena Golkar yang
dikendalikan Ical menjegal rencana penjualan itu melalui orang-orangnya
di Senayan.
Tapi itu hanya titik kecil dari perseteruan keduanya. Sebagian orang tahu, Keluarga Arifin dan Keluarga Bakrie sudah saling meradang sejak kedua keluarga itu tidak bersepakat soal tanggungjawab dalam kasus luapan lumpur Lapindo di Sidoarjo, Jawa Timur. PT Medco E&P Brantas anak perusahaan dari PT MedcoEnergi, dulu memang pernah menjadi peserta [participating interest] eksplorasi dan pengeboran Lapindo. Perusahaan itu mengantongi 32% saham di PT Energi Mega Persada Tbk. salah satu sayap bisnis Grup Bakrie dan pemilik Lapindo Brantas Inc. Perusahaan kontraktor kontrak kerjasama yang ditunjuk BP Migas melakukan pengeboran minyak dan gas bumi di tepi Sungai Brantas. Tapi entah kenapa, 29 Mei 2006 Medco kemudian menarik diri setelah bencana lumpur itu menyebur di Sidoarjo.
Tapi itu hanya titik kecil dari perseteruan keduanya. Sebagian orang tahu, Keluarga Arifin dan Keluarga Bakrie sudah saling meradang sejak kedua keluarga itu tidak bersepakat soal tanggungjawab dalam kasus luapan lumpur Lapindo di Sidoarjo, Jawa Timur. PT Medco E&P Brantas anak perusahaan dari PT MedcoEnergi, dulu memang pernah menjadi peserta [participating interest] eksplorasi dan pengeboran Lapindo. Perusahaan itu mengantongi 32% saham di PT Energi Mega Persada Tbk. salah satu sayap bisnis Grup Bakrie dan pemilik Lapindo Brantas Inc. Perusahaan kontraktor kontrak kerjasama yang ditunjuk BP Migas melakukan pengeboran minyak dan gas bumi di tepi Sungai Brantas. Tapi entah kenapa, 29 Mei 2006 Medco kemudian menarik diri setelah bencana lumpur itu menyebur di Sidoarjo.
Akibat
sikap Medco [Arifin] yang seperti itu, Nirwan Bakrie [adik Ical] CEO
Lapindo Brantas Inc. konon berang. Nirwan bahkan disebut-sebut sempat
mengeluarkan kata-kata yang tidak senonoh kepada Hilmi Panigoro, adik
Arifin. Sejak itu hubungan dua keluarga pengusaha itu, dikabarkan terus
memburuk. Apalagi hingga sekarang, Grup Bakrie yang harus menanggung
sendiri semua risiko akibat luapan lumpur Lapindo itu.
Arifin
yang sudah “keluar” dari dunia politik kemudian seperti menyepi. Nyaris
tidak ada suaranya, meski dia tentu saja masih ikut mengendalikan dari
balik layar sejumlah manuver politik. Adapun Ical, terus moncer dan
sebagian orang, kini menyebutnya sebagai “the real of president 2014.”
Dan ini telah direkomendasikan oleh Payung kuning yg dinahkodainya.
Hubungan
dua keluarga pengusaha itu semakin renggang, ketika Sri Mulyani
Indrawati sering bertabrakan dengan Ical ketika keduanya masih menjadi
menteri di kabinet pemerintahan SBY-JK. Sri Mulyani, sejauh ini memang
dikenal “lebih dekat” ke Arifin ketimbang misalnya ke Ical.
Beberapa
keputusan Sri Mulyani sebagai menteri keuangan, antara lain untuk kasus
saham PT Bumi Resources Tbk. awal November 2008 lalu, dituding oleh
kelompok Ical, sebagai bagian dari manuver Arifin. Sebuah tudingan yang
niscaya dianggap lelucon oleh Arifin dan juga Sri Mulyani.
Kini,
hubungan dua keluarga pengusaha superkaya itu tampak seperti tak bisa
direkatkan, setelah Arifin dkk. membiayai penyelenggaraan Liga Primer
Indonesia ( LPI ). Hak siar kompetisi ini dikantongi oleh stasiun
televisi Indosiar [Grup Salim], sementara hak siar Liga Super [tentu
saja] dipegang stasiun ANTV [Grup Bakrie].
Prestasi sepakbola di era Nurdin Halid selama 8 tahun yang tidak yang dianggap tak membaik bahkan cenderung memburuk ditutupi dengan riuh - rendahnya Liga yang digulirkan, kemudian muncullah gagasan seorang Presiden SBY tentang Kongres Sepakbola Nasional. Di titik inilah harusnya momentum perbaikan sepakbola Indonesia dilakukan yang entah karena apa tidak terlaksana.
Tentu saja Liga Super bukan sekadar sebuah kompetisi sepakbola yang dimasudkan untuk “menantang” Liga Super yang digelar oleh PSSI, tak pula ditujukan untuk misalnya memberikan kebebasan kepada pemain sepakbola memilih arena bertanding yang mereka sukai, seperti wartawan yang bebas memilih induk organisasi profesi.
Prestasi sepakbola di era Nurdin Halid selama 8 tahun yang tidak yang dianggap tak membaik bahkan cenderung memburuk ditutupi dengan riuh - rendahnya Liga yang digulirkan, kemudian muncullah gagasan seorang Presiden SBY tentang Kongres Sepakbola Nasional. Di titik inilah harusnya momentum perbaikan sepakbola Indonesia dilakukan yang entah karena apa tidak terlaksana.
Tentu saja Liga Super bukan sekadar sebuah kompetisi sepakbola yang dimasudkan untuk “menantang” Liga Super yang digelar oleh PSSI, tak pula ditujukan untuk misalnya memberikan kebebasan kepada pemain sepakbola memilih arena bertanding yang mereka sukai, seperti wartawan yang bebas memilih induk organisasi profesi.
Liga
Primer seharusnya juga dibaca sebagai mesiu politik yang lain dari
Arifin yang diarahkan kepada Ical. Tidakkah Nirwan Bakrie adalah Wakil
Ketua Umum PSSI?
Keluarga Bakrie katanya, penggila olahraga. Ical dikenal sebagai jago tenis, dan Nirwan walaupun tidak bisa bermain sepakbola, dikenal sebagai penggila olahraga paling popular di dunia itu.
Keluarga Bakrie katanya, penggila olahraga. Ical dikenal sebagai jago tenis, dan Nirwan walaupun tidak bisa bermain sepakbola, dikenal sebagai penggila olahraga paling popular di dunia itu.
Keluarga
Bakrie tentu saja melalui kelompok bisnisnya bahkan telah mengakuisisi
20 persen saham klub sepakbola Leicester Inggris meski selanjutnya
melepasnya kemudian membeli Cs. Vise Belgia dan Brisbane Roar club asal
Austarlia. Keluarga itu, disebut-sebut telah memberikan hadiah Rp 3
miliar kepada pemain Timnas. Demikian pula, sejumlah pemain sepakbola
PSSI telah disekolahkan ke Uruguay dengan dukungan dana sepenunya dari
Keluarga Bakrie. Memang ada salahnya jika beberapa pengamat sepak bolah
beranggapan bahwa PSSI era nurdin tidak memperhatikan pembinaan usia
dini.
Bagaimana
dengan Nurdin? Ketua Umum PSSI itu suatu hari pernah berkata:
“Keberhasilan Timnas [di ajang AFF] adalah berkat pengorbanan besar
keluarga Bakrie, terutama Nirwan.” Benar, Nurdin memang orang dekat
Keluarga Bakrie. Blunder AFF 2010 yang menyebabkan Rezim Nurdin dan
Nirwan itu terguncang, kalaulah saja tidak ada ucapan terima kasih
kepada parpol tertentu dari mulut ketua PSSI saat itu dan kalau saja
Team Nasional PSSI saat itu menjadi Juara AFF, entah apa selanjutnya.
Tapi itu hanyalah segelintir kekecewaan orang disekeliling Nurdin dan
Nirwan padahal sesungguhnya manufer itu telah terjalin dari sabang
sampai marauke dimana skenario sesungguhnya terletak di tangan Saleh
Mukaddar mantan pengurus PSSI era nurdin yang dikenai etika disiplin
yang kini mendekati Arifin P.
Nurdin
selain sebagai Ketua Umum PSSI, dia dikenal pula sebagai politisi Partai
Golkar dan Ketua Dewan Koperasi Indonesia alias Dekopin. Tahun
2004-2009, dia terpilih sebagai ketua Dekopin menyusul rekonsiliasi
faksi-faksi di organisasi koperasi itu yang difasilitasi oleh Menteri
Koperasi dan UKM Sjarifuddin Hasan [Partai Demokrat]. Dia pula pernah
menjadi narapidana kasus korupsi Meskipun akhirnya bebas karena bukti
yang kurang kuat. Nama Nurdin juga disebut-sebut oleh Hamka Yamdu [salah
satu narapidana kasus suap pemilihan Miranda Goeltom sebagai deputi
senior BI 2004] ikut menerima cek perjalanan sebanyak 10 lembar dengan
nilai Rp 500 juta. Hamka mengungkapkan keterlibatan Nurdin, ketika dia
memberikan kesaksisan dalam sidang di Pengadilan Tikipikor, Jakarta, 27
April lalu.
Nurdin
Halid terpilih menjadi ketua umu PSSI periode 2003-2007 dalam kongres
PSSI di hotel Indonesia, Jakarta, selasa 21 oktober 2003 menggantikan
Agum Gumelar . Ia meraih 183 suara dalam pemilihan putaran kedua, unggul
atas Jacob Nuwawea, Padahal ketika itu Nurdin jadi tersangka dalam
kasus dugaan korupsi dana koperasi distribusi indonesia ( KDI ). Malam
saat itu, Nurdin dengan tegar mengatakan ” Ketika kapal ( Phinisi )
berlayar, pantang surut sebelum sampai tujuan.
Kondisi
serupa terulang pada saat dirinya dipanggil polisi dalam kaitan kasus
gula impor ilegal, Nurdin malah terpilih menjadi ketua Dekopin ( Dewan
Koperasi Indonesia ) periode 2004-2009 dalam munas dekopin ke 57 di
hotel Aryaduta, Jakarta 15 Juli 2004.
Lalu
sehari kemudian 16 juli 2004 ia memenuhi panggilan polisi dan ditetapkan
sebagai Tersangka kasus gula infor ilegal dan ditangkap. Ia dituduh
bertanggung jawab atas imfor gula ilegal tersebut. Ia kemudian juga
ditahan atas dugaan korupsi dalam kasus distribusi minyak goreng. Namun
dengan kehebatan dan dukungan dari rekannya di PSSI ia mampu
mengendalikan PSSI dengan mengangkat Agusman Effendi sebagai pelaksan
tugas ketua umum 22 oktober 2004. Hampir setahun kemudian tanggal 16
juni 2005, dia dinyatakan tidak bersalah dan oleh Pengadilan Negeri
Jakarta selatan di bebaskan. Ia kemudian kembali dituntut dalam kasus
gula imfor pada September 2005, namun dakwaan terhadapnya di tolak
majelis hakim pada 15 desember 2005 karena berita acara pemeriksaan (
BAP ) perkaranya cacat hukum. Ia juga dituduh melanggar ke Pabeanan
impor beras dari Vietnam dan divonis 2 tahun 6 bulan penjara pada 9
Agustus 2005 oleh Pengadilan Negeri Jakarta Utara dan tanggal 17 Agustus
2006 ia dibebaskan setelah mendapat remisi dari pemerintah. Dan
al-hasil 20 April 2007 Nurdin kembali terpilih menjadi ketua PSSI pride
2007-2011.
Pada 13
September 2007 Ia kembali divonis dua tahun penjara dalam kasus
pengadaan minyak goreng . Mahkamah Agung (MA) memvonis Nurdin dengan
hukuman dua tahun penjara yang membatalkan putusan PN Jaksel pada 16
juni 2005 silam.
Berdasarkan
standar statuta FIFA seorang pelaku kriminal tidak boleh menjabat
sebagai ketua umum sebuah asosiasi sepak bola nasional. Karena alasan
tersebut, Nurdin didesak untuk mundur dari berbagai pihak. Jusuf Kalla
(Wakil Presiden RI saat itu), Ketua KONI dan bahkan FIFA menekan Nurdin
untuk mundur. FIFA bahkan mengancam untuk menjatuhkan sanksi kepada PSSI
jika tidak diselenggarakan pemilihan ulang ketua umum.
Dalam Situr resmi Fifa tertanggal 29 oktober 2009. Berikut adalah petikan rilis FIFA tersebut:
FIFA
sent a letter to the Football Association of Indonesia (PSSI) in June
2007 indicating that the association must reorganise elections, as the
electoral process that took place on 20 April 2007 - the day after the
ratification of the updated statutes - was not conducted in line with
the timelines stipulated in the PSSI statutes. The committee ratified
this decision and also decided that in accordance with the statutes, a
person who has been convicted of a crime and is currently in prison
would not be eligible to stand for election.
FIFA telah mengirim surat kepada PSSI pada Juni 2007 yang mengindikasikan bahwa PSSI harus mengulangi pemilihan (Ketua Umum PSSI), karena proses pemilihan yang dilakukan pada 20 April 2007 (sehari setelah ratifikasi perubahan statuta) tidak dilaksanakan sesuai dengan garis waktu yang diatur di Statuta PSSI. Komite meratifikasi keputusan ini dan juga memutuskan bahwa sesuai dengan statuta, seseorang yang sudah diputuskan bersalah atas tindak pidana dan sedang dipenjara tidak boleh mengikuti pemilihan.
FIFA telah mengirim surat kepada PSSI pada Juni 2007 yang mengindikasikan bahwa PSSI harus mengulangi pemilihan (Ketua Umum PSSI), karena proses pemilihan yang dilakukan pada 20 April 2007 (sehari setelah ratifikasi perubahan statuta) tidak dilaksanakan sesuai dengan garis waktu yang diatur di Statuta PSSI. Komite meratifikasi keputusan ini dan juga memutuskan bahwa sesuai dengan statuta, seseorang yang sudah diputuskan bersalah atas tindak pidana dan sedang dipenjara tidak boleh mengikuti pemilihan.
Akan
tetapi Nurdin bersikeras untuk tidak mundur dari jabatannya sebagai
ketua PSSI, dan tetap menjalankan kepemimpinan PSSI dari balik jeruji
penjara. Agar tidak melanggar statuta PSSI, statuta mengenai ketua umum
yang sebelumnya berbunyi “harus tidak pernah terlibat dalam kasus
kriminal” (bahasa Inggris: “They…, must not have been previously found
guilty of a criminal offense….”) diubah dengan menghapuskan kata
“pernah” (bahasa Inggris : “have been previously”) sehingga artinya
menjadi “harus tidak sedang dinyatakan bersalah atas suatu tindakan
kriminal” (bahasa Inggris : “… must not found guilty of a criminal
offense…”). sampai masa tahanannya berakhir , Nurdin dibebaskan pada
Novenber 2008 dan kembali menjabat sebagai ketua umum PSSI.
Keputusan
FIFA tersebut tidak pernah dilaksanakan oleh PSSI dan malah pada April
2009, PSSI menggelar Munaslub di Ancol, Jakarta, dan melanggengkan
kekuasaan Nurdin hingga tahun 2011. FIFA memberikan persetujuan melalui
Direktur Asosiasi dan Pengembangan FIFA Thierry Regenass yang hadir di
Munaslub tersebut. Mungkin bagi pihak nurdin ini adalah persetujuan FIFA
namun oleh kelompok yang berseberangan pasti mengatakan ini adalah
rekayasa. Kebenaran dan kesalahan kita yakini itu adalah konsekwensi
dari kelompok yang berseturu yang tentu satunya mengatakan benar dan
yang satunya lagi mengatakan salah.
Nurdin,
Nirwan dan Andi Darussalam Tabusalla adalah Tiga Serangkai yang tidak
terpisahkan di PSSI. Nurdin ketua, Nirwan wakil, dan Andi Direktur Badan
Liga Indonesia. Orang penting lainnya di PSSI adalah Berhard Limbong
[Ketua Induk Koperasi Angkatan Darat atau Inkopad] yang sekarang ini
menjadi penaggung jawab Timna s U23, dan Ibnu Munzir [Wakil Ketua Fraksi
Golkar di DPR].
September tahun 2010 lalu, Andi pernah menantang Arifin Panigoro. Kata Andi, “kalau Arifin membuktikan janji menyuntikkan dana Rp 540 miliar kepada 18 klub peserta Liga Super Indonesia, dia akan menyerahkan jabatannya sebagai direktur penyelenggaran liga di Indonesia kepada Arifin. Silakan kucurkan uang itu ke Escrow Account masing-masing klub, maka pengelolaan BLI akan kami serahkan kepada beliau. Tak perlu repot-repot membuat kompetisi tandingan,” begitulah kata Andi.
September tahun 2010 lalu, Andi pernah menantang Arifin Panigoro. Kata Andi, “kalau Arifin membuktikan janji menyuntikkan dana Rp 540 miliar kepada 18 klub peserta Liga Super Indonesia, dia akan menyerahkan jabatannya sebagai direktur penyelenggaran liga di Indonesia kepada Arifin. Silakan kucurkan uang itu ke Escrow Account masing-masing klub, maka pengelolaan BLI akan kami serahkan kepada beliau. Tak perlu repot-repot membuat kompetisi tandingan,” begitulah kata Andi.
Namun
hal itu tak digubris oleh Arifin dan bahkan lebih cenderung untuk
membuat liga tandingan ketimbang menerima tawaran itu. Ini sebenarntya
sebagai salah satu bukti ketidak seriusan Arifin membangkitkan sebak
bola indonesia karena memang orientasi kepentingan dan dendam yang akan
lebih ditonjolkan.
Corak
marut Persepak bolaan tanah air ini terbukti mulai terasa ketika
kelompok Arifin CS membuat Club-Club dadakan untuk berkompetisi diajang
Liga Baru yang disebutnya Liga Profesional dengan nama Liga Prima
Indonesia ( LPI ), dibiayai oleh satu sponsor yaitu yg disebut
konsorsium tanpa mengandalkan dana dari APBD.
Awal
Pelaksanaan Liga Primer Indonesia ( LPI ) yang dibentuk AriFin P cs,
PSSI menganggap pergelaran liga itu ilegal, karena katanya tidak
direstui FIFA, AFC dan tentu saja oleh PSSI. Kontan saja tendangan
selanjutnya adalah teriakan-teriakan agar Ketua Umum PSSI Nurdin Halid
mundur dari jabatannya, dan kabar tentang pencoren ditimnas Irfan
Bachdim pemain Persema Malang yang berlaga di Liga Primer. Lalu benarkah
semua tendangan “bola” itu hanya akan berhenti pada persoalan Liga
Primer, Liga Super, Nurdin dan PSSI, atau itukah karena yang tak lain
dendam kesumat dari Keluarga Arifin dan Keluarga Bakrie?
Sadar
bahwa kekuasaan mulai digoyang, PSSI mulai merancang skema pengamanan
dimulai dengan Kongres Tahunan 2010 di Bali yang beberapa keputusannya
adalah bom waktu yang disimpan untuk meledak pada waktunya ( pembagian
saham 99% club Sementara PSSI 1 %, soal operator liga yang dinahkodai PT
Liga, Soal 18 peserta Liga Super , dll )
Marilah
tengok Liga Primer Indonesia yang dimulai 8 Januari 2011. Penyelanggara
liga ini dikabarkan juga telah mendekati PT Djarum, produsen rokok yang
dikendalikan oleh Keluarga Hartono [pemilik BCA]. Djarum sejauh ini
dikenal sebagai penyokong utama Liga Super [PSSI] dan disebut-sebut
telah menghabiskan sekitar US $ 5 juta per tahun untuk kompetesi Liga
Super. LPI selanjutnya gagal dalam pendekatan tersebut.
19 klub yang berlaga di liga tersebut. Yaitu Aceh United, Bali De Vata, Bandung FC, Batavia Union, Bogor Raya, Cendrawasih Papua, Jakarta 1928, Kabau Padang, Ksatria XI Solo, PSM Makassar, Manado United, Medan Chiefs, Medan Bintang, Persebaya, Persema, Persibo [Bojonegoro], Real Mataram, Semarang United dan Tangerang Wolves. Hanya ada 3 tim yang mapan yaitu PSM, Persebaya dan Persema, yang lainnya hasil Sulapan Arifin P dengan mengatas namakan konsorsium membeli club-club tersebut termasuk ketiganya.
19 klub yang berlaga di liga tersebut. Yaitu Aceh United, Bali De Vata, Bandung FC, Batavia Union, Bogor Raya, Cendrawasih Papua, Jakarta 1928, Kabau Padang, Ksatria XI Solo, PSM Makassar, Manado United, Medan Chiefs, Medan Bintang, Persebaya, Persema, Persibo [Bojonegoro], Real Mataram, Semarang United dan Tangerang Wolves. Hanya ada 3 tim yang mapan yaitu PSM, Persebaya dan Persema, yang lainnya hasil Sulapan Arifin P dengan mengatas namakan konsorsium membeli club-club tersebut termasuk ketiganya.
Beberapa pemilik klub [politik] sepakbola :
Persema, klub tempat Irfan Bachdim bermain, sebelumnya dimiliki oleh PT Bentoel Investama. Klub ini sempat diambilalih oleh Peter Sondakh dan kini dikendalikan oleh Walikota Malang, Peni Suparto [politisi PDI-P]. Lalu Persibo Bojonegoro diketuai oleh Suyoto, Bupati Bojonegoro, yang juga ketua Partai Amanat Nasional Jawa Timur. Semarang United dikendalikan oleh Kukrit Suryo Wicaksono, CEO Grup Suara Merdeka, kelompok media terbesar di Jawa Tengah.
Persema, klub tempat Irfan Bachdim bermain, sebelumnya dimiliki oleh PT Bentoel Investama. Klub ini sempat diambilalih oleh Peter Sondakh dan kini dikendalikan oleh Walikota Malang, Peni Suparto [politisi PDI-P]. Lalu Persibo Bojonegoro diketuai oleh Suyoto, Bupati Bojonegoro, yang juga ketua Partai Amanat Nasional Jawa Timur. Semarang United dikendalikan oleh Kukrit Suryo Wicaksono, CEO Grup Suara Merdeka, kelompok media terbesar di Jawa Tengah.
Adapun
Arifin, tahun lalu telah mengakuisisi PT Pengelola Persebaya Indonesia,
pemilik klub sepakbola Persebaya Surabaya, Jawa Timur tahun lalu. PT
Pengelola Persebaya-pun menyediakan Rp75 miliar untuk Persebaya.
Kemudian Persija yg nyata dimilki oleh Fery paulus kini diklaim milik
hadi basalamah, sementara itu PSM yg dimotori oleh Ilham AS memilih
mundur dari ISL lantaran dendam kesumah pada Bakrie yg mendepaknya dari
ketua DPD partai golkar sulsel. Melalui Nurdin Halid, Ical Bakrie lebih
memilih Syahrul Ketimbang Ilham. Spontan Ilham naik pitam. Bahkan ketika
nurdin halid memberi sangsi PSM turun kedevisi 1 ilham berkata ” Tunggu
saatnya Nurdin akan bermasalah besar “. Ilham terpilih menjadi Ketua
Partai Demokrat Sulsel, dengan mendekati menteri pemuda dan olahraga yg
tak lain adalah salah satu Ketu DPP partai Demokrat turut menghujat
Nurdin Halid dan Kawan kawan di PSSI dan alangkah Bobroknya Seorang
Menteri juga mendukung LPI yg nyata bukan Liga profesional kala itu
hanya sebagai liga balas dendam, dan boleh dikatakan konsep LPI yang
mengandalkan dana Satu sponsor ( Dana Konsorsium ) itu gagal total, Sepi
Penonton dan bahkan merugi, olehnya untuk mengembalikan sejumlah dana
yang Milyaran Rupiah jumlahmya jalan satu-satunya adalah menguasai ISL
di PSSI. Kelompok LPI ini menggalang kekuatan didaerah-daerah pemilik
suara sah di tubuh PSSI dengan membentuk kelompok yang dinamainya K78.
Kemenangan
awal yg diperoleh kelompok LPI ketika dibekukannya PSSI oleh Menpora (
Alfian Mallarangeng ). Selanjutnya kantor PSSI disegel oleh pemerintah
dalam hal ini Menpora. Kelompok Nurdin Halid, Nirwan Bakrie Bahkan
Nugraha Besus kini hijrah ke tempat bernaungan Andi Darusalam di PT. LI .
Ini berawal ketika Pada kongres yg rencana dijalankan dg mulus oleh
PSSI di Pekanbaru kini berakhir ricuh dan bahkan k78 mendobrak pintu dan
membuat kongres sendiri yg menetapkan George Toisuta dan aripin P
sebaga calon ketua dan wakil ketua PSSI priode 2011-2015. Oleh Menpora
ia melimpahkan semua kesalahan ini kepada Nurdin CS.
Tangga 1
April 2011 FIFA memutuskan pembentuk Komite Normalisasi untuk mengambil
alih kepengurusan Nurdin Halid di PSSI. Keputusan ini dipublikasikan di
situs resmi FIFA pada tanggal 4 April. Komite ini dipimpin oleh Agum
Gumelar dan dibantu tujuh anggota, yakni Djoko Drijono (CEO BLI), Hadi
Rudiatmo (Ketua Persis Solo), Sukawi Sutarip (Ketua Pengprov PSSI Jawa
Tengah), Siti Nuzanah (Direktur Arema), Samsul Ashar (Ketua Persik
Kediri), H. Satim Sofyan (Ketua Pengprov PSSI Banten), Dityo Pramono
(Ketua PSPS Pekanbaru). Lima nama terakhir merupakan anggota Kelompok
78. FIFA juga melarang empat nama yakni, Nurdin Halid, Nirwan Bakrie,
Arifin Panigoro, dan George Toisuta untuk maju pada pemilihan pengurus
PSSI,
Tugas Komite Normalisasi :
Tugas Komite Normalisasi :
- Mengatur pelaksanaan pemilihan pengurus baru PSSI periode 2011-2015 paling lambat 21 Mei.
- Menempatkan Liga Primer Indonesia di bawah kendali PSSI atau membubarkannya.
- Menjalankan tugas keseharian PSSI.
Di Hotel
Sultan, Jakarta, Jumat (20/5). Kongres PSSI oleh Komite Normalisasi
resmi di buka oleh Menteri Pemuda dan Olahraga, Andi Mallarangeng, yang
berujung pada penghentian Kongres. Anggota Komite Normalisasi Hadi
Rudyatmo menilai kelompok 78 pendukung George Toisutta dan Arifin
Panigoro telah mempermalukan bangsa dan negara di hadapan masyarakat
sepak bola dunia. Menurutnya, tindakan kelompok 78 dalam Kongres PSSI
kemarin jauh lebih memalukan dibanding gerakan pendukung Nurdin Halid,
beberapa waktu lalu. “Komite Normalisasi tidak sanggup menormalkan
mereka,” kata Rudy, demikian panggilan akrabnya saat ditemui di
kediamannya, Sabtu, 21 Mei 2011 oleh berbagai media. dia menyebut jika
kelompok itu tidak memiliki itikad baik serta etika dalam persidangan.
Sebab, kelompok tersebut terlalu memaksakan kehendak dan tidak bisa
menghormati pimpinan sidang ( Agum Gumelar ) yang bahkan
menunjuk-nunjuk, berkata kau dan anda kepada pak Agum. Sungguh memalukan
etika semacam ini. ”Sangat disayangkan Kongres dihentikan dan tanpa
hasil,” kekisruhan ini terjadi ketika kelompok 78 memprotes keras bapak
Agum Gumelar sebagai ketua komite yang tidak meloloskan George Toisuta
dan Arifin P sebagai Calon ketua dan wakil ketua PSSI Priode 2011-2015.
Dengan kejadian itu berbagai sumberpun bermunculan tentang berita akan
sangsi FIFA untuk tidak memperbolehkan Timnas serta club-club tanah air
berlaga di kancah internasional. Dengan harap cemas sebagian masyarakat
pencinta bola tanah air akan suspen atau sangsi FIFA atas kejadian
itupun tak menjadi kenyataan ketika pak agum melakukan pendekatan kepda
pihak FIFA di Surich Swis.
Melalui
kelompok 78, kelompok LPI yg dimotori Arifin P yg meski di ditolak oleh
FIFA menjadi calon ketua PSSI lantaran terjadinya kekacauan pada kongres
yg dilaksanakan di Pekan Baru-Riau dan Jakarta yang di laksanakan oleh
PSSI era Nurdin Halid, tetap bersikukuh untuk menguasai PSSI. Dengan
menjadikan Prof. Djohar A.H sebagai calon ketua umum PSSi .
Maka
Djohar Arifin Husin berhasil merebut ketua umum PSSI setelah dalam
pemungutan suara pada Kongres Luar biasa (KLB) PSSI di Solo yang
dilaksanakan oleh Ketua Normalisasi Agum Gumelar dan Timnya, Jateng,
Sabtu (9/7), Dia memperoleh 61 suara dari 100 suara yang diperebutkan.
Sedangkan Agusman Efendi, hanya 38 suara.
Dari 100 surat suara yang dikumpulkan, 99 suara sah dan satu suara tidak sah karena memilih nama di luar dua kandidat yang dijagokan.
Sebelumnya, Djohar Arifin memimpin putaran pertama pemilihan Ketua Umum PSSI Ia meraih 53 suara, sedangkan Agusman Efendi 39 suara. ini belum bisa memuluskan langkah mantan staf ahli Menpora menjadi ketua karena belum memenuhi 67 persen total suara.
Djohar kemudian bertarung kembali pada putaran kedua bersama Agusman Effendi yang memperoleh 39 suara. Sedangkan satu calon Japto Soerjosoemarno yang memperoleh 4 suara juga lolos ke putaran kedua, namun memilih mengundurkan diri.
Dari 100 surat suara yang dikumpulkan, 99 suara sah dan satu suara tidak sah karena memilih nama di luar dua kandidat yang dijagokan.
Sebelumnya, Djohar Arifin memimpin putaran pertama pemilihan Ketua Umum PSSI Ia meraih 53 suara, sedangkan Agusman Efendi 39 suara. ini belum bisa memuluskan langkah mantan staf ahli Menpora menjadi ketua karena belum memenuhi 67 persen total suara.
Djohar kemudian bertarung kembali pada putaran kedua bersama Agusman Effendi yang memperoleh 39 suara. Sedangkan satu calon Japto Soerjosoemarno yang memperoleh 4 suara juga lolos ke putaran kedua, namun memilih mengundurkan diri.
Dibagian
lain setelah pemilihan ketua kini giliran Farid Rahman akhirnya
terpilih sebagai wakil ketua umum PSSI periode 2011-2015. Farid Rahman
berhasil menyingkirkan Erwin Aksa dalam pemilihan dua putaran tersebut.
Pada putaran pertama, Erwin Aksa sebenarnya berhasil memimpin dengan
perolehan 51 suara mengalahkan Farid yang mengoleksi 47 suara. Sedangkan
satu kandidat lainnya, Rahim Sukasah mengantongi 1 suara dari total 99
suara.
Ini adalah kemenangan besar yang kedua diperoleh kelompok LPI dimana dua sosok pemegang tampuk kekuasaan di tubuh PSSI adalah titipan LPI melalu kelompok 78 dan kemenangan ini akan berlanjut sampai tuntas.
Ini adalah kemenangan besar yang kedua diperoleh kelompok LPI dimana dua sosok pemegang tampuk kekuasaan di tubuh PSSI adalah titipan LPI melalu kelompok 78 dan kemenangan ini akan berlanjut sampai tuntas.
Dengan
menyertai semangat yang berkobar, Gonjang ganjing diperhelatan sepak
bola tanah air ini pun berlanjut dan telah menjadi sorotan publik yg tak
lain terbentuknya dua lisme kompetisi di tubuh PSSI. Hampir semua
pencinta bola tanah air mungkin tahu keberadaan IPL ( Dulu LPI ) yang
kini menjadi Legal karena para punggawa LPI memegang tampuk kekuasaan di
PSSI era ini
sementara ISL yg dulu adalah Legal di Era Nurdin Halid, Nirwan Bakrie dan A. Darussalam T kini tersingkirkan dan bahkan dianggap tidak legal. Ini konsekwensi dari suatu kompetisi kepempinan apabila didalamnya tertanam jiwa kepentingan kelompok semata tanpa memikirkan baik atau buruknya dimata masyaralkat.
sementara ISL yg dulu adalah Legal di Era Nurdin Halid, Nirwan Bakrie dan A. Darussalam T kini tersingkirkan dan bahkan dianggap tidak legal. Ini konsekwensi dari suatu kompetisi kepempinan apabila didalamnya tertanam jiwa kepentingan kelompok semata tanpa memikirkan baik atau buruknya dimata masyaralkat.
Ada satu
amanat FIFA yg sengaja disimpan menjadi bom waktu yaitu soal
normalisasi kompetisi di Indonesia pasca munculnya Liga Primer
Indonesia. Komite Normalisasi hanya fokus pada bagaimana memilih ketua
PSSI, padahal ada amanah besar yang juga harus diselesaikan yaitu soal
normalisasi kompetisi. Mengapa tidak bisa di selesaikan ? mungkin kita
bisa tanyakan kepada Djoko Driyono - pengelola liga super Indonesia -
yang saat itu menjadi Sekertaris KN dan ex-officio menjalankan fungsi
Sekretaris Jenderal.
Bom
Waktu yang lain adalah menyusupkan kaki tangan di dalam barisan
perubahan untuk kemudian menjadi sel yang berada di dalam yang dapat
diaktifkan pada saatnya untuk melakukan serangan mematikan.
PSSI baru dibawah Djohar Arifin ketika memulai pembenahan dengan melakukan pembenahan di dalam rumah, terutama ketika akan menerapkan standar profesional yang benar sesuai dengan standar AFC bagi klub di Indonesia tapi kemudian terjadi langkah - langkah kompromistis yang dilakukan oleh beliau dengan kekuatan lama dengan nama pengurus klub, exco dan pengda.
PSSI baru dibawah Djohar Arifin ketika memulai pembenahan dengan melakukan pembenahan di dalam rumah, terutama ketika akan menerapkan standar profesional yang benar sesuai dengan standar AFC bagi klub di Indonesia tapi kemudian terjadi langkah - langkah kompromistis yang dilakukan oleh beliau dengan kekuatan lama dengan nama pengurus klub, exco dan pengda.
Ada
kesalahan yang sebenarnya dilkukan oleh para Angota Normalisasi dan
sampai saat ini menjadi momok menakutkan bagi pengurus didaerah yakni
poin yang menuntaskan kompetisi LPI sampai saat ini belum terselesaikan
oleh pak Agum dkk. Kelompok-kelompok didaerah ini takut akan perpecahan
tim yg telah dibinanya puluhan tahun silam semisal Arema, Persija, PSMS,
dan Persebaya. Tugas yg belum tuntas yaitu Menempatkan Liga Primer
Indonesia ( LPI ) di bawah kendali PSSI atau membubarkannya. Ini tak
pernah ada keputusan dari Tim Normalisasi sampai saatnya para punggawa
LPI berkuasa di PSSI.
Kini
Nurdin Halid, Nirwan Bakrie, Nugraha Besus dan Andi Darussalam tidak
lagi di PSSI, akan tetapi kekisruhan kini berlanjut. Awal kekisruhan ini
ketika di pecatnya Alfreed Rield secara sepihak oleh PSSI dari pelatih
Timnas yang digantikan oleh Wim R pelatih yang mengarsiteki PSM di
kompetisi LPI. Kemudian berlanjut pada penetapan jumlah peserta ISL
2011-2012. 18 lalu 36 kemudian 24 dengan menambah 6 tim dengan alasan
yang boleh jadi tidaklah relefan. Kemudian mengganti ISL menjadi IPL ( Rekakarnasi LPI ) demikian PT
LI menjadi PT LPIS sebagai pengganti pengelola kompetisi dibawah
naungan PSSI. Inilah pemicu terpecahnya K78 dimana sebagian besar dari
mereka tetap menginginkan ISL, PT LI dan 18 tim sesuai hasil kongres
bali 2010.
Diumumkannya
oleh PSSI untuk tidak mengisinkan menempatkan pemain Timnas yang
berlaga di ISL memicu kontroversi Mundurnya pelatih muda Rahmat Darmawan
( RD ) yang pernah membawa Sriwijaya Fc dan Persipura memuncaki Super
Liga Indonesia untuk meng-arsiteki Timnas U23.
jadi ke
mana sebetulnya olahraga sepakbola Indonesia akan dibawa oleh [untuk
sementara] Keluarga Bakrie dan Keluarga Arifin? Mengapa misalnya, mereka
tidak memilih arena lain untuk saling menembakkan senjata kepentingan
politik mereka ketimbang merusak semangat dan antusiasme sebagian besar
dari orang Indonesia yang mencintai dan mendukung Timnas?
Benar,
olahraga sepakbola di dunia adakalanya tidak bisa dilepaskan dari
kepentingan politik. Tapi yang dipertontonkan oleh Keluarga Arifin dan
Keluarga Bakrie dalam olahraga sepakbola Indonesia belakangan ini,
sungguh sudah tidak menarik karena yang terbaca kemudian adalah mereka
hanya meneruskan perseteruan pribadi menjadi perseteruan publik.
Bila
terlihat dari kacamata pribadi Keluarga Bakrie masih lebih proaktif
dalam kecintaan mereka di dunia sepak bola dengan merangkul club luar
neegeri dan juga program SAD-nya ketimbang Arifin P yang memilih
bermanufer dilingkup PSSI dalam negeri yang sudah barang tentu akan
mendapatkan perlawanan dari orang orang yg tidak sepaham dengan konsep
satu sponsor alis Konsorsium atau Arifin Panigara Bagi Duit ( APBD-nya
Arifin P). Nafsu dan kepentingan politik mereka, apa boleh harus disebut
menjijikkan . ? Padahal kalau mereka mau, mereka bisa membesarkan
olahraga sepakbola bersama-sama. Tanpa kepentingan apapun hingga mimpi
sebagian besar dari kita untuk menempatkan Timnas di Piala Dunia menjadi
kenyataan.
Timnas di Mata Para Bocah
![]() | |||||||||||||||
| sumber gambar : aivil-timelessworld.blogspot.com |
Ngabuburit hari kemaren saya habiskan dilapangan bola.Senang sekali melihat anak-anak tengah bermain bola dengan ceria.Dilapangan yang luas meski menguning lantaran rumputnya banyak yang mati.Tapi tentu saja mereka jauh lebih beruntung dari anak-anak ibukota yang tak punya lapangan.Kalaupun ada,ujung-ujungnya diusir siempunya.
Di sisi lapangan didekat tempat saya duduk,ada lima orang anak-anak tengah asik mengolah sikulit bundar.Kira-kira umur mereka masih 7 - 10 tahunan.
Baju yang dikenakan pun tampaknya mewakili idola masing-masing.Ada jersey barcelona dengan nama punggung Messi,Fabregas.Ada juga Ozil sampai Bachdim.
Saat saya sedang asik memperhatikan,mereka tiba-tiba berhenti dan beristirahat.Tiga orang diantaranya duduk didekat saya dan sisanya tinggal dilapangan.Anak berkostum Bachdim duduk paling dekat dengan saya.Kemudian Bachdim kecil ini saya ajak ngobrol.
“Kenapa berhenti mainnya dek?”
“Capek om..,sayakan puasa”
“ahh.. masa kamu puasa??”
“iya om.. tadi puasa sampai siang”
“oooo… hehe,bajunya bagus,siapa yang beliin?”
“yang beliin ayah om..tapi duitnya saya sendiri”.
“loh? kok gitu?”
“tadinya ayah beliin baju MU (Manchester United),tapi saya nggak suka”.
“nggak suka apanya? bajunya?”
“nggak suka MU om..”
“ooo..jadi sukanya timnas Indonesia?”
“iya om…”
“Kamu tau nggak semua pemain timnas?”
“tau om..Irfan Bachdim,Gonzales,Okto,Bambang Pamungkas.. “
“Hebat nggak mereka?”
“Hebat om..,saya juga mau main timnas”.
(teman-temanya yang lain ikut jawab.Ada yang bilang ‘nggak’)
Saya tertarik sama anak yang bilang timnas nggak hebat.Dia pakai baju Real Madrid dengan nama Ozil.Saya pun tertarik nanya-nanya dia.
“Eh..kamu tadi bilang enggak,apanya yang enggak?”
“Timnas nggak hebat om,masa kalah terus”.
“Timnas itu sebenarnya hebat kok,cuman lawannya lebih hebat”.
“HAAAAA..SAMA AJA OM..” (hampir semua anak)
“kalian tau PSSI nggak?”
“apa om?? Persib??”
“PSSI bukan persib”
“Tau..om tau..” (anak yang berkostum olahraga SD yang dari tadi diam menyaut)
“Apa coba…??”
“Persatuan sepak bola Indonesia!”
“kurang lengkap tuh,yang bener Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia!”
Anak-anak yang masih duduk dilapangan bersorak memanggil teman-temannya untuk main lagi.Tapi mereka menolak karena kecapean.Akhirnya anak yang lainpun bergabung ke sisi lapangan.Sayapun meneruskan obrolan sambil menunggu buka puasa.
“Kalian semua mau nggak main buat Timnas Indonesia?”
“mau om..mau..mau” (hampir semua anak)
“kalau dilarang orang tua kalian gimana??”
“masa dilarang sih om?? ayah ibu pasti senang”
“ya.. misalnya kalau dilarang gimana??”
(mereka diam.. hening)
“kok diam??”
“Nggak mungkin dilarang om.. Ayah saya saja hobi bola”
Mendengarkan jawaban anak ini,terlintas lagi konflik PSSI dan KPSI dipikiran saya.Benar kata anak ini.Kalau ayah mereka hobi bola dan mencintai sepakbola,nggak mungkin ngelarang si anak bela timnas.Tapi kenapa orang-orang yang katanya mau memajukan sepakbola nasional malah bikin rusuh terus ya.Bahkan ada yang melarang untuk membela timnas.
Saya tidak bisa membayangkan jika anak-anak yang masih polos ini dihadapkan pada situasi yang terjadi sekarang.Dilarang membela timnas demi rebutan kekuasaan dan jabatan.Betapa sedihnya mereka.Mungkin ada yang berontak.Tapi mungkin juga ada yang hanya bisa menangis.Takut akan ancaman segelintir orang yang birahi pada kepentingan pribadi.
Matahari sudah hampir tenggelam.Sebelum beranjak pulang saya masih sempat melempar pertanyaan.
“Pilih mana,main untuk timnas atau Barcelona?”
“TIMNAS OOMM !!!”
“Kalau Real Madrid?”
“TIMNAS OMM!!”
Dipublikasi oleh: Kompasiana
Anomali Perilaku Suporter Indonesia
Nama Indonesia kembali tercoreng di kancah persepakbolaan dunia. Di tengah dukungan luar biasa untuk "Garuda Muda" saat melakoni babak kualifikasi Grup E Piala Asia U-22 melawan Australia, di Stadion Utama Riau Pekanbaru, Kamis (5/7/2012), beberapa suporter tuan rumah melempar botol minum dan petasan ke dalam lapangan saat laga usai.
Aksi tersebut memang tak pernah lepas dari wajah sepak bola Indonesia karena permainan yang menjunjung sportivitas itu, justru menjadi olahraga yang menakutkan baik bagi kawan maupun lawan. Lapang dada menerima kekalahan pun hanya sebatas jargon-jargon bualan yang sangat jarang diaplikasikan dalam lapangan.
Tindakan negatif itu seakan berubah menjadi kebiasaan rutin dan tradisi. Sejumlah kekalahan baik di level klub maupun tim nasional harus diakhiri dengan pameran perilaku negatif yang justru mempertaruhkan harga diri Indonesia.
Lihat saja, kerusuhan antar suporter beberapa waktu lalu yang mengakibatkan sembilan nyawa melayang sia-sia di Lamongan, Jakarta, dan Surabaya hanya dalam kurun waktu tiga bulan. Belum lagi, lemparan botol yang berujung pembakaran fasilitas umum para suporter Persipura Jayapura ketika kecewa dengan keputusan wasit saat memimpin laga "Mutiara Hitam" versus Persija Jakarta, Mei lalu.
Memalukan
Kubu Australia pun secara lantang menyebut bahwa aksi suporter Indonesia itu sebagai tindakan yang sangat memalukan. Pernyataan itu bukan tanpa alasan, karena petasan dilempar dan meledak persis di depan tempat pemain pengganti "The Socceroos".
"Mayoritas tim kami jadi ketakutan. Seharusnya para suporter bisa lebih dewasa dalam menerima kekalahan," ucap Pelatih timnas U-22 Australia, Paul Okon, usai pertandingan yang berakhir 1-0 untuk timnya tersebut.
Kecaman ini bukan pertama kalinya dilayangkan oleh dunia internasional. Pada Piala AFF Suzuki Cup 2010 lalu, Federasi Sepak bola Filipina dan pihak AFF sempat mempermasalahkan aksi negatif suporter tuan rumah yang membunyikan terompet dan menyalakan petasan saat lagu kebangsaan Filipina dikumandangkan.
"Fans Indonesia memukuli bus tim Filipina saat memasuki kompleks Stadion. Meneriakkan caci maki dan menunjukkan bahasa tubuh yang tidak sopan. Ada 3.000 tambahan petugas Kepolisian yang ditugaskan di Stadion Bung Karno. Tetapi mereka hanya sedikit melindungi bus tim Filipina dari suporter di luar venue," tulis salah satu media Filipina ketika itu.
Lebih dewasa
Ketua Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI), Djohar Arifin Husin, mengatakan agar para suporter Indonesia bisa lebih dewasa. Khusus untuk laga kualifikasi Piala Asia U-22, ia berharap agar Federasi Sepak bola Asia (AFC) tidak menjatuhkan sanksi bagi Indonesia.
“Kami berharap itu tidak diberikan sanksi karena terjadi usai pertandingan. Semoga kejadian seperti ini tidak terulang lagi. Suporter harus mendukung timnas kita dengan cara yang benar dan sportif,” ucap Djohar.
Hal senada diungkapkan asisten pelatih timnas U-22, Liestiadi. Ia juga mengkritik kesigapan aparat keamanan dalam menjaga ketertiban suporter. Aparat dinilai kurang maksimal dan lambat merespons insiden tersebut.
"Sebagai bangsa yang besar mari kita tunjukkan kepada dunia bahwa suporter kita bisa menerima kekalahan dengan sikap dewasa," harap Liestiadi.
Sementara itu, Gubernur Riau, Rusli Zainal, mengaku pengamanan dalam Stadion memang kurang diberlakukan secara maksimal, karena sejumlah suporter dapat membawa petasan. Ia pun berjanji, akan menambah menambah jumlah aparat keamanan yang dalam pertandingan tersebut berjumlah 700 personel.
"Saya selaku Pemerintah Provinsi Riau meminta maaf atas kejadian kecil itu. Padahal, sesungguhnya antusias dan dukungan masyarakat sudah luar biasa," kata Rusli.
Sejumlah fakta itu menunjukkan bahwa pembinaan kepada para suporter sangat mendesak dan ini perlu melibatkan banyak pihak. Tak cukup hanya dengan harapan pemberian sanksi, permintaan maaf, maupun rasa penyesalan saja. Tentu, energi untuk meraih prestasi tak akan terbagi jika para suporter tak selalu bikin ulah.
5 Perusahaan Dengan Karyawan Terbanyak di Dunia
Karyawan
adalah bagian penting sebuah perusahaan. Laju mundurnya bisnis banyak
berada di pundak mereka. Akan tetapi, tahukah Anda,
perusahaan-perusahaan manakah yang memiliki karyawan terbanyak di dunia?
Berikut daftarnya:
1. Wal-Mart, Amerika Serikat (2.055.001 karyawan)
Wal-Mart Stores Inc. yang dikenal
dengan Walmart sejak 2008, merupakan perusahaan publik multinasional
Amerika yang menjalankan jaringan toko swalayan berdiskon dan cuci
gudang. Perusahaan yang didirikan oleh Sam Walton pada 1962 ini
memiliki 2.055.001 pegawai dengan pemasukan sebesar US$408,214 Milyar.
Dengan angka ini, Wal-Mart merupakan perusahaan di dunia dengan jumlah pegawai terbanyak dan pendapatan terbesar pada 2010. Wal-Mart bermarkas di Bentonville, Arkansas, yang memiliki 8.500 toko pada 15 negara di dunia dengan 55 nama yang berbeda. Perusahaan ini menggunakan namanya sendiri di Amerika, termasuk di 50 negara bagian. Sedangkan di negara lainnya bernama lain seperti Walmex di Mexico, Asda di Inggris, Seiyu di Jepang, dan Best Price di India.
2. Indian Railways, India (1.600.000 karyawan)
Dengan angka ini, Wal-Mart merupakan perusahaan di dunia dengan jumlah pegawai terbanyak dan pendapatan terbesar pada 2010. Wal-Mart bermarkas di Bentonville, Arkansas, yang memiliki 8.500 toko pada 15 negara di dunia dengan 55 nama yang berbeda. Perusahaan ini menggunakan namanya sendiri di Amerika, termasuk di 50 negara bagian. Sedangkan di negara lainnya bernama lain seperti Walmex di Mexico, Asda di Inggris, Seiyu di Jepang, dan Best Price di India.
2. Indian Railways, India (1.600.000 karyawan)
Indian Railways adalah badan usaha
milik negara India yang kepemilikian dan pengoperasiannya melingkupi
seluruh transportasi kereta di negara tersebut. Perusahaan ini diawasi
langsung oleh Kementerian Perkeretaapian PemerintahanIndia. Indian
Railways memiliki lebih dari 64.215 kilometer jalur kereta dengan 7.083
stasiun.Setiap harinya, perusahaan ini melayani 25 juta penumpang dan 2,5 juta ton pengangkutan. Untuk melayani jumlah penumpang yang begitu besar, perusahaan ini mempekerjakan 1,6 juta pegawai. Dengan jumlah ini, Indian Railways menempati urutan kedua perusahaan dengan pegawai terbanyak di dunia.
3. State Grid Corporation of China, China (1.486,000 Karyawan)

Perusahaan dengan pegawai terbanyak urutan ketiga adalah State Grid Corporation of China (SGCC), perusahaan transmisi dan distribusi tenaga listrik terbesar di China, bahkan di dunia.
Bermarkas di Distrik Xicheng, Beijing, perusahaan ini memiliki anak perusahaan untuk distribusi listriknya yaitu di China Utara, China Timur Laut, China Timur, China Tengah, dan China Barat Laut. Perusahaan ini memiliki 1.486.000 pegawai. Dengan pemasukan sebesar US$86,984 Milyar, SGCC menempati urutan 24 perusahaan dengan pemasukan terbesar di dunia.
4. China National Petroleum Corporation, China (1.117.345 Karyawan)

China National Petroleum Corporation (CNPC) menempati urutan keempat perusahaan dengan pegawai terbanyak di dunia dengan 1.117.345 pegawai. CNPC merupakan perusahaan milik negara yang memproduksi bahan bakar dan perusahaan minyak dan gas terpadu terbesar diChina. Perusahaan yang bermarkas di Distrik Dongcheng, Beijing, ini memiliki pendapatan sebesar US$83,557 Milyar yang membawa perusahaan ini menempati posisi 25 perusahaan berpemasukan terbesar di dunia.
5. Foxconn International Holdings Ltd, China (920.000 Karyawan)

Foxconn International Holdings Ltd merupakan anak perusahaan multinasional Hon Hai Precision Industry Co
Diam-diam, perusahaan ini juga memiliki kontrak besar untuk memproduksi beberapa produk ternama, termasuk iPod, iPhone, dan iPad serta Amazon Kindle. Memiliki pegawai sebanyak 920.000 orang, perusahaan ini menempati urutan 5 perusahaan dengan pegawai terbanyak di dunia. Ltd. Perusahaan Taiwan ini merupakan pembuat komponen elektronik terbesar di dunia, termasuk di dalamnya papan sirkuit cetak. Foxconn juga merupakan eksportir terbesar di China dan eksportir kedua terbesar di Republik Ceko.
sumber
Langganan:
Postingan (Atom)






