(N) U (R) D I N

Karena greget, akhirnya nulis ini juga, sekedar coret-coret dan nambah postingan baru di blog.
Kisruh yang terjadi di PSSI belum usai, terakhir adalah batalnya kongres PSSI di Pekanbaru. Kisruh makin jadi dengan akhirnya Menpora tidak mengakui PSSI dibawah Nurdin Halid dan Nugraha Besoes. Sebaliknya, Nurdin Halid menganggap Andi Mallarangeng tidak cakap menjadi Menpora dan meminta presiden mencopot Andi Mallarangeng dari jabatan Menpora.
Membaca berita di portal berita di internet dan melihat langsung bagaimana reaksi Nurdin di televisi (baca : tvone), greget luar biasa dengan sikap “penguasa” PSSI ini. Menpora dianggap tidak cakap dan mempunyai perilaku yang buruk sebagai pejabat. Membiarkan dan merestui LPI terus bergulir, mendukung demo menurunkan Nurdin dari para supporter, dan sebagainya. Dan mungkin saking emosi yang udah menumpuk, keluarlah pernyataan meminta SBY untuk mencopot Andi Mallarangeng dari jabatan Menpora.
Opini saya :
Mengenai LPI, FIFA sendiri “membolehkan” LPI dan meminta PSSI merangkul ke dalam kompetisi yang legal dan diakui FIFA. Lewat pernyataan FIFA itu, PSSI untuk pertama kalinya (yang saya tau) berniat untuk merangkul LPI dengan syarat harus mulai dari divisi III terlebih dahulu. Padahal dari awal LPI bergulir, PSSI menganggap LPI illegal dan memberi sanksi buat mereka yang terlibat di dalamnya. Eh…sekarang lewat media televisi, Menpora dianggap tidak cakap dengan membiarkan LPI. Aneh. Lupa ya pernah niat merangkul LPI??
Mengenai pernyataan Nurdin Halid yang menganggap Andi Mallarangeng berperilaku buruk, saya malah bertanya “Apa Nurdin gak lebih buruk perilakunya?”. Mantan napi koruptor, menggunakan preman yang akhirnya merusak mobil Andi Darusalam dengan sabetan pedang. Buat saya menuduh orang berperilaku buruk, menandakan orang itu jauh lebih buruk.
Banyak hal yang membuat PSSI dengan Nurdin dan kroninya tidak cukup buat dituliskan disini.
Sebenernya buat saya sederhana saja. Selama dua periode memimpin PSSI, Nurdin Halid tidak berprestasi. Yang ada malah kompetisi yang carut marut, statuta PSSI yang tidak mengindahkan statuta FIFA, dan sebagainya. Dari semua itu, para pecinta sepakbola menginginkan perubahan. Caranya, Nurdin Halid dan kroninya harus mundur. Ibarat penyakit, ini udah sangat parah, akut. Harus segera disembuhkan dengan cara inti penyakitnya harus diambil.
Presiden Soeharto dulu mundur dengan legowo setelah para mahasiswa menuntut reformasi. Rupanya Nurdin tidak mencontoh pendahulu Golkarnya. Berdalih demokratisasi, Nurdin keukeuh masih ingin menjadi Ketum PSSI. Padahal hampir seluruh rakyat Indonesia, pecinta sepakbola Indonesia menginginkannya turun segera. Ini bukan sekedar menjunjung demokratisasi, tapi juga seharusnya ada etika, moral, dan sikap ksatria dari seorang pemimpin untuk mundur dengan legowo. Tapi lagi lagi Nurdin bertahan dengan segala cara, kalau perlu sambil menangis di ruangan DPR.
Sepertinya Nurdin semakin terdesak. Tambah terdesak dengan akhirnya Menpora tidak mengakui PSSI dibawah pimpinannya, menyetop bantuan APBN untuk kegiatan olahraga PSSI, dan tidak memberikan pelayanan ataupun fasilitas pemerintah untuk kegiatan PSSI, termasuk kantor PSSI itu sendiri. Nurdin udah terkepung. Entah mau nyari alasan apalagi buat bertahan.
Sederhana saja sebenarnya, harusnya Nurdin mundur dengan legowo. Naik panggung dengan tepuk tangan, alangkah berkesannya jika turun panggung juga diberi tepuk tangan. Ini bukan permintaan Menpora yang meminta anda mundur, ini semangat sepakbola Indonesia, ini permintaan saya, permintaan kami, permintaan rakyat Indonesia, permintaan pecinta sepakbola Indonesia yang menginginkan perubahan dan prestasi. Jadi….mundurlah Nurdin, mundurlah Nugraha, mundurlah Nirwan, mundurlah kalian dan kroni-kronimu!! Segera.
Membaca di portal berita tentang tanggapan Andi Malarareng soal Nurdin yang meminta SBY mencopot Menpora. Sama seperti Menpora, saya pun tertawa. Serius, saya ikut tertawa.
Selamat hari senin jelang selasa. Tambah satu lagi Udin Sedunia yang makin “terkenal”. Namanya (N)u(r)din Halid!
- – - -
Buka mata, buka telinga, dan lebih pentingnya buka hati. Lihat aksi kami, dengar suara dan keinginan kami, resapi di hati yang bersih dan terbuka.


Sumber

Nurdin, Nirwan, dan Nugraha Dilaporkan ke Polda

JAKARTA - Lumbung Informasi Rakyat (LIRA)- Indonesian Sports Watch (ISW) melaporkan tiga pengurus PSSI. Ketua Umum PSSI Nurdin Halid, Wakil Ketua Umum PSSI Nirwan Bakrie, dan Sekretaris Jenderal PSSI Nugraha Besoes.

'Trio N' ini dilaporkan LIRA-ISW terkait dugaan adanya manipulasi Statuta FIFA yang bertujuan untuk melanggengkan kekuasaan Nurdin Halid, sekaligus menjegal langkah tokoh-tokoh yang ingin melakukan reformasi dalam tubuh induk organisasi sepakbola di Indonesia itu.

"Dalam Statusta FIFA, narapidana atau mantan narapidana tidak boleh menduduki ketua umum federasi, tapi mereka mengubahnya menjadi boleh," kata Presiden LIRA, Jusuf Rizal di Polda Metro Jaya, Jakarta, Jumat (25/2/2011).

Ketiga pejabat PSSI tersebut dilaporkan LIRA ke Sentra Pelayanan Kepolisian (SPK) Polda Metro Jaya sore ini sekitar pukul 17.00 WIB.

LIRA-ISW memandang ada unsur manipulasi yang merugikan masyarakat sepakbola dan dunia sepakbola Indonesia sehingga prestasi timnas Merah Putih merosot. Dengan memanipulasi Statuta FIFA, PSSI dianggap menerobos Statuta FIFA demi kepentingan pribadi dan kelompoknya.

"Nurdin Halid yang mestinya terkena sanksi (tidak boleh memimpin PSSI) karena terkena kasus korupsi malah terus bertahan," ujar Jusuf.

Ia memaparkan Statuta FIFA yang jelas melarang narapidana atau mantan narapidana menduduki posisi di kepengurusan federasi sepakbola yang terletak pada pasal 35 butir 4 Statuta FIFA.

Bunyi pasal 35 butir 4 tersebut "The members of the Executive Committee - shall not being guilty of a Criminal Offence...". Dalam draft awal Statuta PSSI yang sudah disetujui FIFA, butir pasal itu berbunyi: "The members of the Executive Committee, must not found guilty of a Criminal Offence..."

"Kata 'must not found guilty' pada draft tersebut diubah pengurus PSSI menjadi 'shall not being guilty'," terangnya.




“Karpet Merah” KPSI Untuk Mengembalikan Tahta Nurdin-Nirwan?


Dibandingkan dengan keputusan pra-kongres KPSI yang tidak masuk akal dan menciderai logika akal sehat manusia, maka keputusan kongres tahunan KPSI bisa merupakan koreksi dari blunder pra-kongres lalu. Entahlah, mungkin karena banyaknya pendukung KPSI di kompasiana dan gencarnya aktivitas CJ yang mengkritik manuver KPSI, maka KPSI mendapat banyak masukan dari “mata-matanya” untuk perbaikan strategi mereka. Jika sebelumnya langkah-langkah KPSI justru menjadi blunder dan kampanye hitam bagi KPSI sendiri dan merusak citra “Partai Beringin Tua”, kini KPSI lebih cermat dalam berhitung dan melangkah. Hal ini wajar karena motto PSSI “kerja keras…kerja cerdas…kerja ikhlas” untuk sepakbola Indonesia yang berprestasi tanpa APBD telah berhasil menarik simpati para pecinta sepakbola di tanah air. Prestasi Garuda Muda U-17 dan Program pembinaan sepakbola usia muda yang akan dijadikan pabrik untuk memproduksi para pemain TIMNAS berkualitas juga mendapat appresiasi dan dukunganyang luas dari seluruh masyarakat bola.
Sebaliknya segala manuver KPSI justru panen kecaman dan hujatan dari publik bola tanah air. Dalam kondisi seperti ini, maka apa pun yang dilakukan KPSI tetap akan mendapat stempel negatif dari masyarakat bola. Apalagi masyarakat bola di tanah air menginginkan sepakbola tanpa politisasi, dengan kata lain jangan ada politisi dan bendera PARPOL dalam sepakbola Indonesia.
Keputusan KPSI yang tetap berencana menggelar KLB sebenarnya merupakan format ulang dari proyek gagal atau proyek yang tertunda. Seperti pernah di sampaikan di sebuah media corong milik kelompok mereka oleh La Nyalla Mattaliti, rezim Status Quo berencana membajak Revolusi PSSI dan mengkudeta Prof. Dr. Djohar Arifin setelah 3 bulan memimpin PSSI. Langkah kudeta dan pembajakan oleh orang-orang status quo gagal karena justru Toni Apriliani, Roberto Rouw, Erwin Budiawan dan La Nyalla Mattaliti yang pro satus quo di pecat oleh PSSI melalui Komite Etik. Sikap tegas PSSI telah menimbulkan dendam kesumat pada diri mereka yang dipecat. Dengan dukungan “invisible hands” dan media corong-nya mereka mulai berani menggalang dukungan secara terbuka untuk membajak PSSI.
Publik sepakbola pun dibuat bertanya-tanya, apa sebetulnya yang dicari KPSI dari PSSI?
Menurut pendapat saya pribadi jawabannya sangat sederhana, mungkin KPSI hanya ingin menyediakan karpet merah bagi Nurdin-Nirwan dan kawan-kawan untuk bertahta kembali memimpin PSSI. Setelah itu mereka akan kembali menggunakan APBD untuk mengelola sepakbola profesional hingga 2014 sesuai dengan Kongres Bali. Keputusan Kongres Tahunan KPSI yang kembali memberi kesempatan kepada Nurdin-Nirwan untuk berduet adalah buktinya. Slogan mereka “”KLB Harga Mati”, padahal saya sangat yakin seandainya KLB kembali gagal mereka tidak berani mati dengan kata lain jika KLB gagal mereka tidak akan bunuh diri massal sesuai slogan mereka “KLB Harga Mati”. Buktinya…politisi yang pernah berjanji akan sunat  2x jika Diego pindah juga tidak berani menepati janjinya. Sunat 2x saja sudah ketakutan apalagi mati, bukan begitu mass bro?
Masalah prestasi sepakbola???
Jangan pernah ditanyakan pada KPSI, karena mereka tidak akan pernah peduli. Terbukti selama 8 tahun memimpin PSSI mereka tidak pernah memberi gelar apapun bagi negeri ini. Yang mereka berikan hanyalah hiburan sepakbola dengan bonus Tinju, Pencak Silat, Kungfu dan Karate.
Jadi selamat bagi anda yang setia mendukung KPSI dengan IST-nya, karena hanya dengan membayar 1 tiket pertandingan anda bisa menyaksikan 5 cabang olahrga sekaligus.

Sumber

PSSI – LAHAN REBUTAN



( Dendam Dua Gruop - Bakrie Vs Medco )
Ir. Andi Ms Hersandy
Tulisan ini adalah bersifat opini pribadi saya dan tidak mewakili siapapun dan boleh jadi tulisan ini mengada-ada namun semua saya serahkan kepada para pembaca untuk menilainya. Tulisan inipun telah saya publikasikan di Akun Fb saya tertanggal 18 Desember 2011. Ini hanya sebahagian dan untuk selengkapnya silahkan updet fb-nya. ( Daftar pustaka: Berbagai Sumber )
Arifin Panigoro dan Aburizal Bakrie alias Ical adalah dua pengusaha yang tumbuh besar sejak Soeharto membentuk Tim Keppres 10, 23 Januari 1980. Tim itu diketuai oleh mendiang Sudharmono dan Ginanjar Kartasasmita duduk sebagai salah satu anggota tim. Oleh presiden Soeharto pembentukan tim itu dimaksudkan untuk menumbuhkan pengusaha pribumi dengan antara lain mengalokasikan sejumlah proyek nondepartemen bernilai di atas Rp 500.000.000 ( sekarang nilainya Rp. 500 milyar )
Sekretariat Negara di bawah Sudharmono kala itu  ditunjuk sebagai penanggungjawab keberhasilan program. Lewat tim itulah sejumlah pengusaha muda pribumi kemudian banyak mendapat prioritas. Ical, Arifin P, Jusuf Kalla, Iman Taufik, Fadel Muhammad, dan Agus Kartasasmita adalah beberapa pengusaha yang banyak “berhubungan” dengan Tim Keppres 10.
Hubungan mereka dengan Sudharmono dan Ginanjar, sejak itu lantas menjadi seperti hubungan bapak-anak. Sudharmono mengenal mereka sebagai pengusaha-pengusaha pribumi yang profesional, sementara para pengusaha itu menganggap Sudharmono sebagai tokoh yang bersih, kendati loyal kepada Soeharto dan berada di lingkaran kekuasaan.
Kini, dua dari pengusaha yang disusui oleh Orde Baru itu yakni Ical dan Arifin terlibat perseteruan panjang. Arifin adalah salah satu raja minyak yang cukup terkenal terutama sejak reformasi dan Ical adalah salah satu orang terkaya di Indonesia.
Arifin pemilik kerajaan bisnis Grup Medco dan Ical pemilik kerajaan bisnis Grup Bakrie. November tahun 2010, Arifin gagal menjual salah satu anak bisnisnya ke Pertamina karena konon terutama karena Golkar yang dikendalikan Ical menjegal rencana penjualan itu melalui orang-orangnya di Senayan.
Tapi itu hanya titik kecil dari perseteruan keduanya. Sebagian orang tahu, Keluarga Arifin dan Keluarga Bakrie sudah saling meradang sejak kedua keluarga itu tidak bersepakat soal tanggungjawab dalam kasus luapan lumpur Lapindo di Sidoarjo, Jawa Timur. PT Medco E&P Brantas anak perusahaan dari PT MedcoEnergi, dulu memang pernah menjadi peserta [participating interest] eksplorasi dan pengeboran Lapindo. Perusahaan itu mengantongi 32% saham di PT Energi Mega Persada Tbk. salah satu sayap bisnis Grup Bakrie dan pemilik Lapindo Brantas Inc. Perusahaan kontraktor kontrak kerjasama yang ditunjuk BP Migas melakukan pengeboran minyak dan gas bumi di tepi Sungai Brantas. Tapi entah kenapa, 29 Mei 2006 Medco kemudian menarik diri setelah bencana lumpur itu menyebur di Sidoarjo.
Akibat sikap Medco [Arifin] yang seperti itu, Nirwan Bakrie [adik Ical] CEO Lapindo Brantas Inc. konon berang. Nirwan bahkan disebut-sebut sempat mengeluarkan kata-kata yang tidak senonoh kepada Hilmi Panigoro, adik Arifin. Sejak itu hubungan dua keluarga pengusaha itu, dikabarkan terus memburuk. Apalagi hingga sekarang, Grup Bakrie yang harus menanggung sendiri semua risiko akibat luapan lumpur Lapindo itu.
Arifin yang sudah “keluar” dari dunia politik kemudian seperti menyepi. Nyaris tidak ada suaranya, meski dia tentu saja masih ikut mengendalikan dari balik layar sejumlah manuver politik. Adapun Ical, terus moncer dan sebagian orang, kini menyebutnya sebagai “the real of president 2014.” Dan ini telah direkomendasikan oleh Payung kuning yg dinahkodainya.
Hubungan dua keluarga pengusaha itu semakin renggang, ketika Sri Mulyani Indrawati sering bertabrakan dengan Ical ketika keduanya masih menjadi menteri di kabinet pemerintahan SBY-JK. Sri Mulyani, sejauh ini memang dikenal “lebih dekat” ke Arifin ketimbang misalnya ke Ical.
Beberapa keputusan Sri Mulyani sebagai menteri keuangan, antara lain untuk kasus saham PT Bumi Resources Tbk. awal November 2008 lalu, dituding oleh kelompok Ical, sebagai bagian dari manuver Arifin. Sebuah tudingan yang niscaya dianggap lelucon oleh Arifin dan juga Sri Mulyani.
Kini, hubungan dua keluarga pengusaha superkaya itu tampak seperti tak bisa direkatkan, setelah Arifin dkk. membiayai penyelenggaraan Liga Primer Indonesia ( LPI ). Hak siar kompetisi ini dikantongi oleh stasiun televisi Indosiar [Grup Salim], sementara hak siar Liga Super [tentu saja] dipegang stasiun ANTV [Grup Bakrie].
Prestasi sepakbola di era Nurdin Halid selama 8 tahun yang tidak yang dianggap tak membaik bahkan cenderung memburuk ditutupi dengan riuh - rendahnya Liga yang digulirkan, kemudian muncullah gagasan seorang Presiden SBY tentang Kongres Sepakbola Nasional. Di titik inilah harusnya momentum perbaikan sepakbola Indonesia dilakukan yang entah karena apa tidak terlaksana.
Tentu saja Liga Super bukan sekadar sebuah kompetisi sepakbola yang dimasudkan untuk “menantang” Liga Super yang digelar oleh PSSI, tak pula ditujukan untuk misalnya memberikan kebebasan kepada pemain sepakbola memilih arena bertanding yang mereka sukai, seperti wartawan yang bebas memilih induk organisasi profesi.
Liga Primer seharusnya juga dibaca sebagai mesiu politik yang lain dari Arifin yang diarahkan kepada Ical. Tidakkah Nirwan Bakrie adalah Wakil Ketua Umum PSSI?
Keluarga Bakrie katanya, penggila olahraga. Ical dikenal sebagai jago tenis, dan Nirwan walaupun tidak bisa bermain sepakbola, dikenal sebagai penggila olahraga paling popular di dunia itu.
Keluarga Bakrie tentu saja melalui kelompok bisnisnya bahkan telah mengakuisisi 20 persen saham klub sepakbola Leicester Inggris meski selanjutnya melepasnya kemudian membeli Cs. Vise Belgia dan Brisbane Roar club asal Austarlia. Keluarga itu, disebut-sebut telah memberikan hadiah Rp 3 miliar kepada pemain Timnas. Demikian pula, sejumlah pemain sepakbola PSSI telah disekolahkan ke Uruguay dengan dukungan dana sepenunya dari Keluarga Bakrie. Memang ada salahnya jika beberapa pengamat sepak bolah beranggapan bahwa PSSI era nurdin tidak memperhatikan pembinaan usia dini.
Bagaimana dengan Nurdin? Ketua Umum PSSI itu suatu hari pernah berkata: “Keberhasilan Timnas [di ajang AFF] adalah berkat pengorbanan besar keluarga Bakrie, terutama Nirwan.” Benar, Nurdin memang orang dekat Keluarga Bakrie. Blunder AFF 2010 yang menyebabkan Rezim Nurdin dan Nirwan itu terguncang, kalaulah saja tidak ada ucapan terima kasih kepada parpol tertentu dari mulut ketua PSSI saat itu dan kalau saja Team Nasional PSSI saat itu menjadi Juara AFF, entah apa selanjutnya. Tapi itu hanyalah segelintir kekecewaan orang disekeliling Nurdin dan Nirwan padahal sesungguhnya manufer itu telah terjalin dari sabang sampai marauke dimana skenario sesungguhnya terletak di tangan Saleh Mukaddar mantan pengurus PSSI era nurdin yang dikenai etika disiplin yang kini mendekati Arifin P.
Nurdin selain sebagai Ketua Umum PSSI, dia dikenal pula sebagai politisi Partai Golkar dan Ketua Dewan Koperasi Indonesia alias Dekopin. Tahun 2004-2009, dia terpilih sebagai ketua Dekopin menyusul rekonsiliasi faksi-faksi di organisasi koperasi itu yang difasilitasi oleh Menteri Koperasi dan UKM Sjarifuddin Hasan [Partai Demokrat]. Dia pula pernah menjadi narapidana kasus korupsi Meskipun akhirnya bebas karena bukti yang kurang kuat. Nama Nurdin juga disebut-sebut oleh Hamka Yamdu [salah satu narapidana kasus suap pemilihan Miranda Goeltom sebagai deputi senior BI 2004] ikut menerima cek perjalanan sebanyak 10 lembar dengan nilai Rp 500 juta. Hamka mengungkapkan keterlibatan Nurdin, ketika dia memberikan kesaksisan dalam sidang di Pengadilan Tikipikor, Jakarta, 27 April lalu.
Nurdin Halid terpilih menjadi ketua umu PSSI periode 2003-2007 dalam kongres PSSI di hotel Indonesia, Jakarta, selasa 21 oktober 2003 menggantikan Agum Gumelar . Ia meraih 183 suara dalam pemilihan putaran kedua, unggul atas Jacob Nuwawea, Padahal ketika itu Nurdin jadi tersangka dalam kasus dugaan korupsi dana koperasi distribusi indonesia ( KDI ). Malam saat itu, Nurdin dengan tegar mengatakan ” Ketika kapal ( Phinisi ) berlayar, pantang surut sebelum sampai tujuan.
Kondisi serupa terulang pada saat dirinya dipanggil polisi dalam kaitan kasus gula impor ilegal, Nurdin malah terpilih menjadi ketua Dekopin ( Dewan Koperasi Indonesia ) periode 2004-2009 dalam munas dekopin ke 57 di hotel Aryaduta, Jakarta 15 Juli 2004.
Lalu sehari kemudian 16 juli 2004 ia memenuhi panggilan polisi dan ditetapkan sebagai Tersangka kasus gula infor ilegal dan ditangkap. Ia dituduh bertanggung jawab atas imfor gula ilegal tersebut. Ia kemudian juga ditahan atas dugaan korupsi dalam kasus distribusi minyak goreng. Namun dengan kehebatan dan dukungan dari rekannya di PSSI ia mampu mengendalikan PSSI dengan mengangkat Agusman Effendi sebagai pelaksan tugas ketua umum 22 oktober 2004. Hampir setahun kemudian tanggal 16 juni 2005, dia dinyatakan tidak bersalah dan oleh Pengadilan Negeri Jakarta selatan di bebaskan. Ia kemudian kembali dituntut dalam kasus gula imfor pada September 2005, namun dakwaan terhadapnya di tolak majelis hakim pada 15 desember 2005 karena berita acara pemeriksaan ( BAP ) perkaranya cacat hukum. Ia juga dituduh melanggar ke Pabeanan impor beras dari Vietnam dan divonis 2 tahun 6 bulan penjara pada 9 Agustus 2005 oleh Pengadilan Negeri Jakarta Utara dan tanggal 17 Agustus 2006 ia dibebaskan setelah mendapat remisi dari pemerintah. Dan al-hasil 20 April 2007 Nurdin kembali terpilih menjadi ketua PSSI pride 2007-2011.
Pada 13 September 2007 Ia kembali divonis dua tahun penjara dalam kasus pengadaan minyak goreng . Mahkamah Agung (MA) memvonis Nurdin dengan hukuman dua tahun penjara yang membatalkan putusan PN Jaksel pada 16 juni 2005 silam.
Berdasarkan standar statuta FIFA seorang pelaku kriminal tidak boleh menjabat sebagai ketua umum sebuah asosiasi sepak bola nasional. Karena alasan tersebut, Nurdin didesak untuk mundur dari berbagai pihak. Jusuf Kalla (Wakil Presiden RI saat itu), Ketua KONI dan bahkan FIFA menekan Nurdin untuk mundur. FIFA bahkan mengancam untuk menjatuhkan sanksi kepada PSSI jika tidak diselenggarakan pemilihan ulang ketua umum.
Dalam Situr resmi Fifa tertanggal 29 oktober 2009. Berikut adalah petikan rilis FIFA tersebut:
FIFA sent a letter to the Football Association of Indonesia (PSSI) in June 2007 indicating that the association must reorganise elections, as the electoral process that took place on 20 April 2007 - the day after the ratification of the updated statutes - was not conducted in line with the timelines stipulated in the PSSI statutes. The committee ratified this decision and also decided that in accordance with the statutes, a person who has been convicted of a crime and is currently in prison would not be eligible to stand for election.
FIFA telah mengirim surat kepada PSSI pada Juni 2007 yang mengindikasikan bahwa PSSI harus mengulangi pemilihan (Ketua Umum PSSI), karena proses pemilihan yang dilakukan pada 20 April 2007 (sehari setelah ratifikasi perubahan statuta) tidak dilaksanakan sesuai dengan garis waktu yang diatur di Statuta PSSI. Komite meratifikasi keputusan ini dan juga memutuskan bahwa sesuai dengan statuta, seseorang yang sudah diputuskan bersalah atas tindak pidana dan sedang dipenjara tidak boleh mengikuti pemilihan.
Akan tetapi Nurdin bersikeras untuk tidak mundur dari jabatannya sebagai ketua PSSI, dan tetap menjalankan kepemimpinan PSSI dari balik jeruji penjara. Agar tidak melanggar statuta PSSI, statuta mengenai ketua umum yang sebelumnya berbunyi “harus tidak pernah terlibat dalam kasus kriminal” (bahasa Inggris: “They…, must not have been previously found guilty of a criminal offense….”) diubah dengan menghapuskan kata “pernah” (bahasa Inggris : “have been previously”) sehingga artinya menjadi “harus tidak sedang dinyatakan bersalah atas suatu tindakan kriminal” (bahasa Inggris : “… must not found guilty of a criminal offense…”). sampai masa tahanannya berakhir , Nurdin dibebaskan pada Novenber 2008 dan kembali menjabat sebagai ketua umum PSSI.
Keputusan FIFA tersebut tidak pernah dilaksanakan oleh PSSI dan malah pada April 2009, PSSI menggelar Munaslub di Ancol, Jakarta, dan melanggengkan kekuasaan Nurdin hingga tahun 2011. FIFA memberikan persetujuan melalui Direktur Asosiasi dan Pengembangan FIFA Thierry Regenass yang hadir di Munaslub tersebut. Mungkin bagi pihak nurdin ini adalah persetujuan FIFA namun oleh kelompok yang berseberangan pasti mengatakan ini adalah rekayasa.  Kebenaran dan kesalahan kita yakini itu adalah konsekwensi dari kelompok yang berseturu yang tentu satunya mengatakan benar dan yang satunya lagi mengatakan salah.
Nurdin, Nirwan dan Andi Darussalam Tabusalla adalah Tiga Serangkai yang tidak terpisahkan di PSSI. Nurdin ketua, Nirwan wakil, dan Andi Direktur Badan Liga Indonesia. Orang penting lainnya di PSSI adalah Berhard Limbong [Ketua Induk Koperasi Angkatan Darat atau Inkopad] yang sekarang ini menjadi penaggung jawab Timna s U23, dan Ibnu Munzir [Wakil Ketua Fraksi Golkar di DPR].
September tahun 2010 lalu, Andi pernah menantang Arifin Panigoro. Kata Andi, “kalau Arifin membuktikan janji menyuntikkan dana Rp 540 miliar kepada 18 klub peserta Liga Super Indonesia, dia akan menyerahkan jabatannya sebagai direktur penyelenggaran liga di Indonesia kepada Arifin. Silakan kucurkan uang itu ke Escrow Account masing-masing klub, maka pengelolaan BLI akan kami serahkan kepada beliau. Tak perlu repot-repot membuat kompetisi tandingan,” begitulah kata Andi.
Namun hal itu tak digubris oleh Arifin dan bahkan lebih cenderung untuk membuat liga tandingan ketimbang menerima tawaran itu. Ini sebenarntya sebagai salah satu bukti ketidak seriusan Arifin membangkitkan sebak bola indonesia karena memang orientasi kepentingan dan dendam yang akan lebih ditonjolkan.
Corak marut Persepak bolaan tanah air ini terbukti mulai terasa ketika kelompok Arifin CS membuat Club-Club dadakan untuk berkompetisi diajang Liga Baru yang disebutnya Liga Profesional dengan nama Liga Prima Indonesia ( LPI ), dibiayai oleh satu sponsor yaitu yg disebut konsorsium tanpa mengandalkan dana dari APBD.
Awal Pelaksanaan Liga Primer Indonesia ( LPI ) yang dibentuk AriFin P cs, PSSI menganggap pergelaran liga itu ilegal, karena katanya tidak direstui FIFA, AFC dan tentu saja oleh PSSI. Kontan saja tendangan selanjutnya adalah teriakan-teriakan agar Ketua Umum PSSI Nurdin Halid mundur dari jabatannya, dan kabar tentang pencoren ditimnas Irfan Bachdim pemain Persema Malang yang berlaga di Liga Primer. Lalu benarkah semua tendangan “bola” itu hanya akan berhenti pada persoalan Liga Primer, Liga Super, Nurdin dan PSSI, atau itukah karena yang tak lain dendam kesumat dari Keluarga Arifin dan Keluarga Bakrie?
Sadar bahwa kekuasaan mulai digoyang, PSSI mulai merancang skema pengamanan dimulai dengan Kongres Tahunan 2010 di Bali yang beberapa keputusannya adalah bom waktu yang disimpan untuk meledak pada waktunya ( pembagian saham 99% club Sementara PSSI 1 %, soal operator liga yang dinahkodai PT Liga, Soal 18 peserta Liga Super , dll )
Marilah tengok Liga Primer Indonesia yang dimulai 8 Januari 2011. Penyelanggara liga ini dikabarkan juga telah mendekati PT Djarum, produsen rokok yang dikendalikan oleh Keluarga Hartono [pemilik BCA]. Djarum sejauh ini dikenal sebagai penyokong utama Liga Super [PSSI] dan disebut-sebut telah menghabiskan sekitar US $ 5 juta per tahun untuk kompetesi Liga Super. LPI selanjutnya gagal dalam pendekatan tersebut.
19 klub yang berlaga di liga tersebut. Yaitu Aceh United, Bali De Vata, Bandung FC, Batavia Union, Bogor Raya, Cendrawasih Papua, Jakarta 1928, Kabau Padang, Ksatria XI Solo, PSM Makassar, Manado United, Medan Chiefs, Medan Bintang, Persebaya, Persema, Persibo [Bojonegoro], Real Mataram, Semarang United dan Tangerang Wolves. Hanya ada 3 tim yang mapan yaitu PSM, Persebaya dan Persema, yang lainnya hasil Sulapan Arifin P dengan mengatas namakan konsorsium membeli club-club tersebut termasuk ketiganya.
Beberapa pemilik klub [politik] sepakbola :
Persema, klub tempat Irfan Bachdim bermain, sebelumnya dimiliki oleh PT Bentoel Investama. Klub ini sempat diambilalih oleh Peter Sondakh dan kini dikendalikan oleh Walikota Malang, Peni Suparto [politisi PDI-P]. Lalu Persibo Bojonegoro diketuai oleh Suyoto, Bupati Bojonegoro, yang juga ketua Partai Amanat Nasional Jawa Timur. Semarang United dikendalikan oleh Kukrit Suryo Wicaksono, CEO Grup Suara Merdeka, kelompok media terbesar di Jawa Tengah.
Adapun Arifin, tahun lalu telah mengakuisisi PT Pengelola Persebaya Indonesia, pemilik klub sepakbola Persebaya Surabaya, Jawa Timur tahun lalu. PT Pengelola Persebaya-pun menyediakan Rp75 miliar untuk Persebaya. Kemudian Persija yg nyata dimilki oleh Fery paulus kini diklaim milik hadi basalamah, sementara itu PSM yg dimotori oleh Ilham AS memilih mundur dari ISL lantaran dendam kesumah pada Bakrie yg mendepaknya dari ketua DPD partai golkar sulsel. Melalui Nurdin Halid, Ical Bakrie lebih memilih Syahrul Ketimbang Ilham. Spontan Ilham naik pitam. Bahkan ketika nurdin halid memberi sangsi PSM turun kedevisi 1 ilham berkata ” Tunggu saatnya Nurdin akan bermasalah besar “. Ilham terpilih menjadi Ketua Partai Demokrat Sulsel, dengan mendekati menteri pemuda dan olahraga yg tak lain adalah salah satu Ketu DPP partai Demokrat turut menghujat Nurdin Halid dan Kawan kawan di PSSI dan alangkah Bobroknya Seorang Menteri juga mendukung LPI yg nyata bukan Liga profesional kala itu hanya sebagai liga balas dendam, dan boleh dikatakan konsep LPI yang mengandalkan dana Satu sponsor ( Dana Konsorsium ) itu gagal total, Sepi Penonton dan bahkan merugi, olehnya untuk mengembalikan sejumlah dana yang Milyaran Rupiah jumlahmya jalan satu-satunya adalah menguasai ISL di PSSI. Kelompok LPI ini menggalang kekuatan didaerah-daerah pemilik suara sah di tubuh PSSI dengan membentuk kelompok yang dinamainya K78.
Kemenangan awal yg diperoleh kelompok LPI ketika dibekukannya PSSI oleh Menpora ( Alfian Mallarangeng ). Selanjutnya kantor PSSI disegel oleh pemerintah dalam hal ini Menpora. Kelompok Nurdin Halid, Nirwan Bakrie Bahkan Nugraha Besus kini hijrah ke tempat bernaungan Andi Darusalam di PT. LI . Ini berawal ketika Pada kongres yg rencana dijalankan dg mulus oleh PSSI di Pekanbaru kini berakhir ricuh dan bahkan k78 mendobrak pintu dan membuat kongres sendiri yg menetapkan George Toisuta dan aripin P sebaga calon ketua dan wakil ketua PSSI priode 2011-2015. Oleh Menpora ia melimpahkan semua kesalahan ini kepada Nurdin CS.
Tangga 1 April 2011 FIFA memutuskan pembentuk Komite Normalisasi untuk mengambil alih kepengurusan Nurdin Halid di PSSI. Keputusan ini dipublikasikan di situs resmi FIFA pada tanggal 4 April. Komite ini dipimpin oleh Agum Gumelar dan dibantu tujuh anggota, yakni Djoko Drijono (CEO BLI), Hadi Rudiatmo (Ketua Persis Solo), Sukawi Sutarip (Ketua Pengprov PSSI Jawa Tengah), Siti Nuzanah (Direktur Arema), Samsul Ashar (Ketua Persik Kediri), H. Satim Sofyan (Ketua Pengprov PSSI Banten), Dityo Pramono (Ketua PSPS Pekanbaru). Lima nama terakhir merupakan anggota Kelompok 78. FIFA juga melarang empat nama yakni, Nurdin Halid, Nirwan Bakrie, Arifin Panigoro, dan George Toisuta untuk maju pada pemilihan pengurus PSSI,
Tugas Komite Normalisasi :

- Mengatur pelaksanaan pemilihan pengurus baru PSSI periode 2011-2015 paling lambat 21 Mei.
- Menempatkan Liga Primer Indonesia di bawah kendali PSSI atau membubarkannya.
- Menjalankan tugas keseharian PSSI.
Di Hotel Sultan, Jakarta, Jumat (20/5). Kongres PSSI oleh Komite Normalisasi resmi di buka oleh Menteri Pemuda dan Olahraga, Andi Mallarangeng, yang berujung pada penghentian Kongres. Anggota Komite Normalisasi Hadi Rudyatmo menilai kelompok 78 pendukung George Toisutta dan Arifin Panigoro telah mempermalukan bangsa dan negara di hadapan masyarakat sepak bola dunia. Menurutnya, tindakan kelompok 78 dalam Kongres PSSI kemarin jauh lebih memalukan dibanding gerakan pendukung Nurdin Halid, beberapa waktu lalu. “Komite Normalisasi tidak sanggup menormalkan mereka,” kata Rudy, demikian panggilan akrabnya saat ditemui di kediamannya, Sabtu, 21 Mei 2011 oleh berbagai media. dia menyebut jika kelompok itu tidak memiliki itikad baik serta etika dalam persidangan. Sebab, kelompok tersebut terlalu memaksakan kehendak dan tidak bisa menghormati pimpinan sidang ( Agum Gumelar ) yang bahkan menunjuk-nunjuk, berkata kau dan anda kepada pak Agum. Sungguh memalukan etika semacam ini. ”Sangat disayangkan Kongres dihentikan dan tanpa hasil,” kekisruhan ini terjadi ketika kelompok 78 memprotes keras bapak Agum Gumelar sebagai ketua komite yang tidak meloloskan George Toisuta dan Arifin P sebagai Calon ketua dan wakil ketua PSSI Priode 2011-2015. Dengan kejadian itu berbagai sumberpun bermunculan tentang berita akan sangsi FIFA untuk tidak memperbolehkan Timnas serta club-club tanah air berlaga di kancah internasional. Dengan harap cemas sebagian masyarakat pencinta bola tanah air akan suspen atau sangsi FIFA atas kejadian itupun tak menjadi kenyataan ketika pak agum melakukan pendekatan kepda pihak FIFA di Surich Swis.
Melalui kelompok 78, kelompok LPI yg dimotori Arifin P yg meski di ditolak oleh FIFA menjadi calon ketua PSSI lantaran terjadinya kekacauan pada kongres yg dilaksanakan di Pekan Baru-Riau dan Jakarta yang di laksanakan oleh PSSI era Nurdin Halid, tetap bersikukuh untuk menguasai PSSI. Dengan menjadikan Prof. Djohar A.H sebagai calon ketua umum PSSi .
Maka Djohar Arifin Husin berhasil merebut ketua umum PSSI setelah dalam pemungutan suara pada Kongres Luar biasa (KLB) PSSI di Solo yang dilaksanakan oleh Ketua Normalisasi Agum Gumelar dan Timnya, Jateng, Sabtu (9/7), Dia memperoleh 61 suara dari 100 suara yang diperebutkan. Sedangkan Agusman Efendi, hanya 38 suara.
Dari 100 surat suara yang dikumpulkan, 99 suara sah dan satu suara tidak sah karena memilih nama di luar dua kandidat yang dijagokan.
Sebelumnya, Djohar Arifin memimpin putaran pertama pemilihan Ketua Umum PSSI Ia meraih 53 suara, sedangkan Agusman Efendi 39 suara. ini belum bisa memuluskan langkah mantan staf ahli Menpora menjadi ketua karena belum memenuhi 67 persen total suara.
Djohar kemudian bertarung kembali pada putaran kedua bersama Agusman Effendi yang memperoleh 39 suara. Sedangkan satu calon Japto Soerjosoemarno yang memperoleh 4 suara juga lolos ke putaran kedua, namun memilih mengundurkan diri.
Dibagian lain setelah pemilihan ketua kini giliran Farid Rahman akhirnya terpilih sebagai wakil ketua umum PSSI periode 2011-2015. Farid Rahman berhasil menyingkirkan Erwin Aksa dalam pemilihan dua putaran tersebut. Pada putaran pertama, Erwin Aksa sebenarnya berhasil memimpin dengan perolehan 51 suara mengalahkan Farid yang mengoleksi 47 suara. Sedangkan satu kandidat lainnya, Rahim Sukasah mengantongi 1 suara dari total 99 suara.
Ini adalah kemenangan besar yang kedua diperoleh kelompok LPI dimana dua sosok pemegang tampuk kekuasaan di tubuh PSSI adalah titipan LPI melalu kelompok 78 dan kemenangan ini akan berlanjut sampai tuntas.
Dengan menyertai semangat yang berkobar, Gonjang ganjing diperhelatan sepak bola tanah air ini pun berlanjut dan telah menjadi sorotan publik yg tak lain terbentuknya dua lisme kompetisi di tubuh PSSI. Hampir semua pencinta bola tanah air mungkin tahu keberadaan IPL ( Dulu LPI ) yang kini menjadi Legal karena para punggawa LPI memegang tampuk kekuasaan di PSSI era ini
sementara ISL yg dulu adalah Legal di Era Nurdin Halid, Nirwan Bakrie dan A. Darussalam T kini tersingkirkan dan bahkan dianggap tidak legal. Ini konsekwensi dari suatu kompetisi kepempinan apabila didalamnya tertanam jiwa kepentingan kelompok semata tanpa memikirkan baik atau buruknya dimata masyaralkat.
Ada satu amanat FIFA yg sengaja disimpan menjadi bom waktu yaitu soal normalisasi kompetisi di Indonesia pasca munculnya Liga Primer Indonesia. Komite Normalisasi hanya fokus pada bagaimana memilih ketua PSSI, padahal ada amanah besar yang juga harus diselesaikan yaitu soal normalisasi kompetisi. Mengapa tidak bisa di selesaikan ? mungkin kita bisa tanyakan kepada Djoko Driyono - pengelola liga super Indonesia - yang saat itu menjadi Sekertaris KN dan ex-officio menjalankan fungsi Sekretaris Jenderal.
Bom Waktu yang lain adalah menyusupkan kaki tangan di dalam barisan perubahan untuk kemudian menjadi sel yang berada di dalam yang dapat diaktifkan pada saatnya untuk melakukan serangan mematikan.
PSSI baru dibawah Djohar Arifin ketika memulai pembenahan dengan melakukan pembenahan di dalam rumah, terutama ketika akan menerapkan standar profesional yang benar sesuai dengan standar AFC bagi klub di Indonesia tapi kemudian terjadi langkah - langkah kompromistis yang dilakukan oleh beliau dengan kekuatan lama dengan nama pengurus klub, exco dan pengda.
Ada kesalahan yang sebenarnya dilkukan oleh para Angota Normalisasi dan sampai saat ini menjadi momok menakutkan bagi pengurus didaerah yakni poin yang menuntaskan kompetisi LPI sampai saat ini belum terselesaikan oleh pak Agum dkk. Kelompok-kelompok didaerah ini takut akan perpecahan tim yg telah dibinanya puluhan tahun silam semisal Arema, Persija, PSMS, dan Persebaya. Tugas yg belum tuntas yaitu Menempatkan Liga Primer Indonesia ( LPI ) di bawah kendali PSSI atau membubarkannya. Ini tak pernah ada keputusan dari Tim Normalisasi sampai saatnya para punggawa LPI berkuasa di PSSI.
Kini Nurdin Halid, Nirwan Bakrie, Nugraha Besus dan Andi Darussalam tidak lagi di PSSI, akan tetapi kekisruhan kini berlanjut. Awal kekisruhan ini ketika di pecatnya Alfreed Rield secara sepihak oleh PSSI dari pelatih Timnas yang digantikan oleh Wim R pelatih yang mengarsiteki PSM di kompetisi LPI. Kemudian berlanjut pada penetapan jumlah peserta ISL 2011-2012. 18 lalu 36 kemudian 24 dengan menambah 6 tim dengan alasan yang boleh jadi tidaklah relefan. Kemudian mengganti ISL menjadi IPL ( Rekakarnasi LPI ) demikian PT LI menjadi PT LPIS sebagai pengganti pengelola kompetisi dibawah naungan PSSI. Inilah pemicu terpecahnya K78 dimana sebagian besar dari mereka tetap menginginkan ISL, PT LI dan 18 tim sesuai hasil kongres bali 2010.
Diumumkannya oleh PSSI untuk tidak mengisinkan menempatkan pemain Timnas yang berlaga di ISL memicu kontroversi Mundurnya pelatih muda Rahmat Darmawan ( RD ) yang pernah membawa Sriwijaya Fc dan Persipura memuncaki Super Liga Indonesia untuk meng-arsiteki Timnas U23.
jadi ke mana sebetulnya olahraga sepakbola Indonesia akan dibawa oleh [untuk sementara] Keluarga Bakrie dan Keluarga Arifin? Mengapa misalnya, mereka tidak memilih arena lain untuk saling menembakkan senjata kepentingan politik mereka ketimbang merusak semangat dan antusiasme sebagian besar dari orang Indonesia yang mencintai dan mendukung Timnas?
Benar, olahraga sepakbola di dunia adakalanya tidak bisa dilepaskan dari kepentingan politik. Tapi yang dipertontonkan oleh Keluarga Arifin dan Keluarga Bakrie dalam olahraga sepakbola Indonesia belakangan ini, sungguh sudah tidak menarik karena yang terbaca kemudian adalah mereka hanya meneruskan perseteruan pribadi menjadi perseteruan publik.
Bila terlihat dari kacamata pribadi Keluarga Bakrie masih lebih proaktif dalam kecintaan mereka di dunia sepak bola dengan merangkul club luar neegeri dan juga program SAD-nya ketimbang Arifin P yang memilih bermanufer dilingkup PSSI dalam negeri yang sudah barang tentu akan mendapatkan perlawanan dari orang orang yg tidak sepaham dengan konsep satu sponsor alis Konsorsium atau Arifin Panigara Bagi Duit ( APBD-nya Arifin P). Nafsu dan kepentingan politik mereka, apa boleh harus disebut menjijikkan . ?  Padahal kalau mereka mau, mereka bisa membesarkan olahraga sepakbola bersama-sama. Tanpa kepentingan apapun hingga mimpi sebagian besar dari kita untuk menempatkan Timnas di Piala Dunia menjadi kenyataan.

Timnas di Mata Para Bocah

sumber gambar : aivil-timelessworld.blogspot.com
sumber gambar : aivil-timelessworld.blogspot.com

Ngabuburit hari kemaren saya habiskan dilapangan bola.Senang sekali melihat anak-anak tengah bermain bola dengan ceria.Dilapangan yang luas meski menguning lantaran rumputnya banyak yang mati.Tapi tentu saja mereka jauh lebih beruntung dari anak-anak ibukota yang tak punya lapangan.Kalaupun ada,ujung-ujungnya diusir siempunya.
Di sisi lapangan didekat tempat saya duduk,ada lima orang anak-anak tengah asik mengolah sikulit bundar.Kira-kira umur mereka masih 7 - 10 tahunan.
Baju yang dikenakan pun tampaknya mewakili idola masing-masing.Ada jersey barcelona dengan nama punggung Messi,Fabregas.Ada juga Ozil sampai Bachdim.
Saat saya sedang asik memperhatikan,mereka tiba-tiba berhenti dan beristirahat.Tiga orang diantaranya duduk didekat saya dan sisanya tinggal dilapangan.Anak berkostum Bachdim duduk paling dekat dengan saya.Kemudian Bachdim kecil ini saya ajak ngobrol.
“Kenapa berhenti mainnya dek?”
“Capek om..,sayakan puasa”
“ahh.. masa kamu puasa??”
“iya om.. tadi puasa sampai siang”
“oooo… hehe,bajunya bagus,siapa yang beliin?”
“yang beliin ayah om..tapi duitnya saya sendiri”.
“loh? kok gitu?”
“tadinya ayah beliin baju MU (Manchester United),tapi saya nggak suka”.
“nggak suka apanya? bajunya?”
“nggak suka MU om..”
“ooo..jadi sukanya timnas Indonesia?”
“iya om…”
“Kamu tau nggak semua pemain timnas?”
“tau om..Irfan Bachdim,Gonzales,Okto,Bambang Pamungkas.. “
“Hebat nggak mereka?”
“Hebat om..,saya juga mau main timnas”.
(teman-temanya yang lain ikut jawab.Ada yang bilang ‘nggak’)
Saya tertarik sama anak yang bilang timnas nggak hebat.Dia pakai baju Real Madrid dengan nama Ozil.Saya pun tertarik nanya-nanya dia.
“Eh..kamu tadi bilang enggak,apanya yang enggak?”
“Timnas nggak hebat om,masa kalah terus”.
“Timnas itu sebenarnya hebat kok,cuman lawannya lebih hebat”.
“HAAAAA..SAMA AJA OM..” (hampir semua anak)
“kalian tau PSSI nggak?”
“apa om?? Persib??”
“PSSI bukan persib”
“Tau..om tau..” (anak yang berkostum olahraga SD yang dari tadi diam menyaut)
“Apa coba…??”
“Persatuan sepak bola Indonesia!”
“kurang lengkap tuh,yang bener Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia!”
Anak-anak yang masih duduk dilapangan bersorak memanggil teman-temannya untuk main lagi.Tapi mereka menolak karena kecapean.Akhirnya anak yang lainpun bergabung ke sisi lapangan.Sayapun meneruskan obrolan sambil menunggu buka puasa.
“Kalian semua mau nggak main buat Timnas Indonesia?”
“mau om..mau..mau” (hampir semua anak)
“kalau dilarang orang tua kalian gimana??”
“masa dilarang sih om?? ayah ibu pasti senang”
“ya.. misalnya kalau dilarang gimana??”
(mereka diam.. hening)
“kok diam??”
“Nggak mungkin dilarang om.. Ayah saya saja hobi bola”
Mendengarkan jawaban anak ini,terlintas lagi konflik PSSI dan KPSI dipikiran saya.Benar kata anak ini.Kalau ayah mereka hobi bola dan mencintai sepakbola,nggak mungkin ngelarang si anak bela timnas.Tapi kenapa orang-orang yang katanya mau memajukan sepakbola nasional malah bikin rusuh terus ya.Bahkan ada yang melarang untuk membela timnas.
Saya tidak bisa membayangkan jika anak-anak yang masih polos ini dihadapkan pada situasi yang terjadi sekarang.Dilarang membela timnas demi rebutan kekuasaan dan jabatan.Betapa sedihnya mereka.Mungkin ada yang berontak.Tapi mungkin juga ada yang hanya bisa menangis.Takut akan ancaman segelintir orang yang birahi pada kepentingan pribadi.
Matahari sudah hampir tenggelam.Sebelum beranjak pulang saya masih sempat melempar pertanyaan.
“Pilih mana,main untuk timnas atau Barcelona?”
“TIMNAS OOMM !!!”
“Kalau Real Madrid?”
“TIMNAS OMM!!”

 Dipublikasi oleh: Kompasiana

Anomali Perilaku Suporter Indonesia



Puluhan ribu suporter timnas Indonesia U-22 memadati Stadion Utama Riau, Pekanbaru untuk menyaksikan laga perdana babak kualifikasi Piala Asia U-22, Kamis (5/7/2012).Penulis: Ary Wibowo

Nama Indonesia kembali tercoreng di kancah persepakbolaan dunia. Di tengah dukungan luar biasa untuk "Garuda Muda" saat melakoni babak kualifikasi Grup E Piala Asia U-22 melawan Australia, di Stadion Utama Riau Pekanbaru, Kamis (5/7/2012), beberapa suporter tuan rumah melempar botol minum dan petasan ke dalam lapangan saat laga usai.

Aksi tersebut memang tak pernah lepas dari wajah sepak bola Indonesia karena permainan yang menjunjung sportivitas itu, justru menjadi olahraga yang menakutkan baik bagi kawan maupun lawan. Lapang dada menerima kekalahan pun hanya sebatas jargon-jargon bualan yang sangat jarang diaplikasikan dalam lapangan.

Tindakan negatif itu seakan berubah menjadi kebiasaan rutin dan tradisi. Sejumlah kekalahan baik di level klub maupun tim nasional harus diakhiri dengan pameran perilaku negatif yang justru mempertaruhkan harga diri Indonesia.

Lihat saja, kerusuhan antar suporter beberapa waktu lalu yang mengakibatkan sembilan nyawa melayang sia-sia di Lamongan, Jakarta, dan Surabaya hanya dalam kurun waktu tiga bulan. Belum lagi, lemparan botol yang berujung pembakaran fasilitas umum para suporter Persipura Jayapura ketika kecewa dengan keputusan wasit saat memimpin laga "Mutiara Hitam" versus Persija Jakarta, Mei lalu.

Memalukan

Kubu Australia pun secara lantang menyebut bahwa aksi suporter Indonesia itu sebagai tindakan yang sangat memalukan. Pernyataan itu bukan tanpa alasan, karena petasan dilempar dan meledak persis di depan tempat pemain pengganti "The Socceroos".

"Mayoritas tim kami jadi ketakutan. Seharusnya para suporter bisa lebih dewasa dalam menerima kekalahan," ucap Pelatih timnas U-22 Australia, Paul Okon, usai pertandingan yang berakhir 1-0 untuk timnya tersebut.

Kecaman ini bukan pertama kalinya dilayangkan oleh dunia internasional. Pada Piala AFF Suzuki Cup 2010 lalu, Federasi Sepak bola Filipina dan pihak AFF sempat mempermasalahkan aksi negatif suporter tuan rumah yang membunyikan terompet dan menyalakan petasan saat lagu kebangsaan Filipina dikumandangkan.

"Fans Indonesia memukuli bus tim Filipina saat memasuki kompleks Stadion. Meneriakkan caci maki dan menunjukkan bahasa tubuh yang tidak sopan. Ada 3.000 tambahan petugas Kepolisian yang ditugaskan di Stadion Bung Karno. Tetapi mereka hanya sedikit melindungi bus tim Filipina dari suporter di luar venue," tulis salah satu media Filipina ketika itu.

Lebih dewasa

Ketua Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI), Djohar Arifin Husin, mengatakan agar para suporter Indonesia bisa lebih dewasa. Khusus untuk laga kualifikasi Piala Asia U-22, ia berharap agar Federasi Sepak bola Asia (AFC) tidak menjatuhkan sanksi bagi Indonesia.

“Kami berharap itu tidak diberikan sanksi karena terjadi usai pertandingan. Semoga kejadian seperti ini tidak terulang lagi. Suporter harus mendukung timnas kita dengan cara yang benar dan sportif,” ucap Djohar.

Hal senada diungkapkan asisten pelatih timnas U-22, Liestiadi. Ia juga mengkritik kesigapan aparat keamanan dalam menjaga ketertiban suporter. Aparat dinilai kurang maksimal dan lambat merespons insiden tersebut.

"Sebagai bangsa yang besar mari kita tunjukkan kepada dunia bahwa suporter kita bisa menerima kekalahan dengan sikap dewasa," harap Liestiadi.

Sementara itu, Gubernur Riau, Rusli Zainal, mengaku pengamanan dalam Stadion memang kurang diberlakukan secara maksimal, karena sejumlah suporter dapat membawa petasan. Ia pun berjanji, akan menambah menambah jumlah aparat keamanan yang dalam pertandingan tersebut berjumlah 700 personel.

"Saya selaku Pemerintah Provinsi Riau meminta maaf atas kejadian kecil itu. Padahal, sesungguhnya antusias dan dukungan masyarakat sudah luar biasa," kata Rusli.

Sejumlah fakta itu menunjukkan bahwa pembinaan kepada para suporter sangat mendesak dan ini perlu melibatkan banyak pihak. Tak cukup hanya dengan harapan pemberian sanksi, permintaan maaf, maupun rasa penyesalan saja. Tentu, energi untuk meraih prestasi tak akan terbagi jika para suporter tak selalu bikin ulah.


5 Perusahaan Dengan Karyawan Terbanyak di Dunia


Karyawan adalah bagian penting sebuah perusahaan. Laju mundurnya bisnis banyak berada di pundak mereka. Akan tetapi, tahukah Anda, perusahaan-perusahaan manakah yang memiliki karyawan terbanyak di dunia? Berikut daftarnya:
 
 1. Wal-Mart, Amerika Serikat (2.055.001 karyawan)
  
 
Wal-Mart Stores Inc. yang dikenal dengan Walmart sejak 2008, merupakan perusahaan publik multinasional Amerika yang menjalankan jaringan toko swalayan berdiskon dan cuci gudang. Perusahaan yang didirikan oleh Sam Walton pada 1962 ini memiliki 2.055.001 pegawai dengan pemasukan sebesar US$408,214 Milyar.

Dengan angka ini, Wal-Mart merupakan perusahaan di dunia dengan jumlah pegawai terbanyak dan pendapatan terbesar pada 2010. Wal-Mart bermarkas di Bentonville, Arkansas, yang memiliki 8.500 toko pada 15 negara di dunia dengan 55 nama yang berbeda. Perusahaan ini menggunakan namanya sendiri di Amerika, termasuk di 50 negara bagian. Sedangkan di negara lainnya bernama lain seperti Walmex di Mexico, Asda di Inggris, Seiyu di Jepang, dan Best Price di India.

2. Indian Railways, India (1.600.000 karyawan)
Indian Railways adalah badan usaha milik negara India yang kepemilikian dan pengoperasiannya melingkupi seluruh transportasi kereta di negara tersebut. Perusahaan ini diawasi langsung oleh Kementerian Perkeretaapian PemerintahanIndia. Indian Railways memiliki lebih dari 64.215 kilometer jalur kereta dengan 7.083 stasiun.

Setiap harinya, perusahaan ini melayani 25 juta penumpang dan 2,5 juta ton pengangkutan. Untuk melayani jumlah penumpang yang begitu besar, perusahaan ini mempekerjakan 1,6 juta pegawai. Dengan jumlah ini, Indian Railways menempati urutan kedua perusahaan dengan pegawai terbanyak di dunia.

3. State Grid Corporation of China, China (1.486,000 Karyawan)
 
Perusahaan dengan pegawai terbanyak urutan ketiga adalah State Grid Corporation of China (SGCC), perusahaan transmisi dan distribusi tenaga listrik terbesar di China, bahkan di dunia.

Bermarkas di Distrik Xicheng, Beijing, perusahaan ini memiliki anak perusahaan untuk distribusi listriknya yaitu di China Utara, China Timur Laut, China Timur, China Tengah, dan China Barat Laut. Perusahaan ini memiliki 1.486.000 pegawai. Dengan pemasukan sebesar US$86,984 Milyar, SGCC menempati urutan 24 perusahaan dengan pemasukan terbesar di dunia.

4. China National Petroleum Corporation, China (1.117.345 Karyawan)

China National Petroleum Corporation (CNPC) menempati urutan keempat perusahaan dengan pegawai terbanyak di dunia dengan 1.117.345 pegawai. CNPC merupakan perusahaan milik negara yang memproduksi bahan bakar dan perusahaan minyak dan gas terpadu terbesar diChina. Perusahaan yang bermarkas di Distrik Dongcheng, Beijing, ini memiliki pendapatan sebesar US$83,557 Milyar yang membawa perusahaan ini menempati posisi 25 perusahaan berpemasukan terbesar di dunia.

5. Foxconn International Holdings Ltd, China (920.000 Karyawan)

Foxconn International Holdings Ltd merupakan anak perusahaan multinasional Hon Hai Precision Industry Co

Diam-diam, perusahaan ini juga memiliki kontrak besar untuk memproduksi beberapa produk ternama, termasuk iPod, iPhone, dan iPad serta Amazon Kindle. Memiliki pegawai sebanyak 920.000 orang, perusahaan ini menempati urutan 5 perusahaan dengan pegawai terbanyak di dunia.
Ltd. Perusahaan Taiwan ini merupakan pembuat komponen elektronik terbesar di dunia, termasuk di dalamnya papan sirkuit cetak. Foxconn juga merupakan eksportir terbesar di China dan eksportir kedua terbesar di Republik Ceko.

sumber
https://fbcdn-profile-a.akamaihd.net/hprofile-ak-ash2/372897_131353430292780_619288642_n.jpg https://fbcdn-profile-a.akamaihd.net/hprofile-ak-snc4/188096_134547703323278_1162554518_n.jpg https://fbcdn-profile-a.akamaihd.net/hprofile-ak-snc4/372896_322832097804252_1451457464_n.jpg https://fbcdn-profile-a.akamaihd.net/hprofile-ak-ash2/188076_323826454312372_464368268_n.jpg https://fbcdn-profile-a.akamaihd.net/hprofile-ak-snc4/157988_245544635468600_1221856100_n.jpg https://fbcdn-profile-a.akamaihd.net/hprofile-ak-snc4/157972_225236267569573_1370082627_n.jpg

Baguru On Facebook

 
© Copyright 2010-2011 Baguru All Rights Reserved.
Template Design by Baguru | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.